Ketua umum PSSI harus pilih: Sepakbola atau politik

John Duerden

John Duerden menganggap ketua umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Edy Rahmayadi, perlu memutuskan apakah sepakbola atau politik untuk kariernya, tidak bisa dua-duanya!

Ini bukan menjadi hari-hari yang baik untuk sepakbola Indonesia. Bali United kalah di kandang lawan Yangon United dari Myanmar dalam pertandingan pembuka di AFC Cup 2018. Hal yang banyak memang tidak bisa dibaca menjadi satu hasil dan tidak ada yang harus diambil dari pencapaian dan performa tim tamu, tapi itu adalah performa yang buruk dari klub asal Pulau Bali itu. Mungkin alasannya adalah bahwa belum ada kick-off musim ini di Indonesia, sedangkan di Myanmar sudah.

Tapi, siapa yang akan mengangkat telepon di PSSI? Ini karena ada banyak berita yang lebih mengkhawatirkan ketika Edy Rahmayadi sedang mengambil cuti. Masalahnya adalah bukan alasan kesehatan, tapi karena ia sedang mencalonkan diri sebagai gubernur Sumatera Utara.

Di banyak negara, hal ini akan dianggap sebagai sebuah lelucon, tapi fans Indonesia tahu lebih baik. Mencampuradukkan antara politik dan sepakbola adalah sama nyatanya mencampuradukkan antara sambal dan saus. Tapi, itulah kenapa Rahmayadi, yang datang dari militer pada 2016, dianggap berbeda. Ia menandai start yang baru di negara ini setelah kegilaan yang terjadi dalam dekade pertama dan separuh abad ke-20.

Setelah penangkapan dan pemenjaraan Nurdin Halid atas tuduhan korupsi lebih dari satu dekade lalu, pertempuran berikutnya terjadi ketika ia mengundurkan diri sebagai bos PSSI pada 2011, pembentukan liga, federasi, dan tim nasional tandingan, serta suspensi yang terelakkan dari FIFA pada 2015, Edy dianggap bisa menjadi pemutus untuk masa lalu itu. Ia pernah terlihat di dalam sepakbola sebelumnya dan ada tanda-tanda yang menggembirakan kalau kedua tangannya aman. Rasanya kebetulan kalau di bulan yang sama ketika ia mengambil alih posisi itu, timnas kembali beraksi setelah satu tahun menjalani sanksi dari FIFA. Tidak hanya itu, tim mampu melampaui harapan, bisa lolos dari grup sulit, dan kemudian mencapai final sebelum menelan kekalahan tipis namun terhormat dari Thailand.

Tentu, ia tidak bisa sama sekali menutupi dirinya dalam kegemilangan akhir-akhir ini dengan komentarnya terhadap pemain Indonesia seperti Evan Dimas yang pergi ke luar negeri dan mempertanyakan patriotismenya. Tentu, kini mudah untuk mengajukan pertanyaan kepada siapa kata-kata itu ditujukan: fans sepakbola atau jutaan pemilih di Sumatera dan pemilih nasional yang lebih luas.

Masa terbesarnya adalah bahwa Edy tidak berencana untuk meninggalkan posisinya saat ini secara permanen, tapi ia memilih untuk tidak menanggalkan jabatannya dengan alasan bertanggung jawab untuk sepakbola di tanah air. Ini adalah pekerjaan yang besar dan Anda tidak hanya bisa beristirahat ketika sudah nyaman. Jika ia ingin mencalonkan diri sebagai gubernur–dan sekali lagi kita dapat bertanya-tanya ia hanya terlibat dengan PSSI untuk membantu ambisi berikutnya–maka ia harus memilih satu atau yang lain. Fans sepakbola di Indonesia pantas mendapat komitmen dan perhatian seratus persen. Itulah yang paling layak mereka dapatkan. Sepakbola membutuhkan hal yang sama.

Jika ia ingin mencalonkan diri sebagai gubernur, tidak akan ada lagi jalan kembali. PSSI perlu mulai mencari bos yang baru, bukan permainan atau platform pribadi untuk ambisius yang punya ambisi lagi.

Dan, juga ada perasaan kalau semuanya harus segera dilakukan. Waktu 15 bulan tidak cukup untuk bisa mengatasi federasi sepakbola di mana pun di dunia. Ketika negaranya adalah Indonesia, Anda harus menggali dari permukaan. Posisi itu berlaku dari 2016 hingga 2020, yang seharusnya diisi oleh seseorang yang siap memberikan segalanya dalam soal waktu, kerja keras, dan air mata untuk empat tahun penuh. Bukan seseorang yang melihat jabatan sebagai tontotan untuk sesuatu yang lain. Orang militer harus menunjukkan kedisiplinan yang lebih.

Tapi, mungkin ini adalah untuk yang terbaik. Jika ia bukan orang yang tepat untuk jabatan itu, mungkin lebih baik segera mencari orang lain. Apa pun yang terjadi sekarang ini, sang pimpinan tidak akan memiliki otoritas dan rasa hormat yang sama lagi. Jika ia melakukan itu setelah 2020, itu memang sudah menjadi haknya, tapi ia tidak akan melakukannya.

Orang-orang Indonesia sudah mengatakan kalau Edy hrus memilih, politik atau sepakbola, karena ini adalah negara yang sudah bosan dengan keduanya yang bercampur aduk. Masalahnya, ia sudah membuat pilihan. Ini adalah saatnya bagi dia untuk pergi dan tidak kembali. Ini adalah saatnya bagi presiden yang baru untuk membawa layak sepakbola negara ke depan dan memperlakukannya dengan hormat yang layak.

 

 

 

Editorial Disclaimer: Opini yang disampaikan dalam artikel ini adalah pendapat pribadi dari penulis. Fakta dan opini yang muncul dalam artikel ini tidak mencerminkan pandangan atau kebijakan resmi Fox Network Group Singapore Pte. Ltd, atau entitas yang secara langsung atau tidak langsung mengendalikan, dikendalikan atau berada di bawah kendali Twenty First Century Fox Inc. (secara kolektif disebut “FNG”). FNG tidak membuat pernyataan mengenai kekauratan, kelengkapan, kebenaran, kesesuaian, atau keabsahan informasi atau opini apa pun di dalam artikel ini. FNG tidak bertanggung jawab atas kesalahan atau kelalaian dalam informasi atau opini atau kerugian, cedera, kerusakan yang timbul dari publikasi ini.

Comments