Lima ‘one season wonder’ Liga Primer Inggris

Nama besar tak selalu menang, pun sebaliknya. Kami membuka buku sejarah Liga Primer Inggris untuk menilik nama-nama kelas dua yang mampu membuat sensasi di Liga Primer. Sayangnya, performa fenomenal itu hanya bertahan semusim!

Tak ada yang menyangka nama pemain yang terkesan imut ini bisa membobol gawang Arsenal dua kali di pertandingan musim 2012/2013. Adalah Michu, striker asal Spanyol, yang membungkam dominasi The Gunners di Emirates Stadium. Dua menit terakhir pertandingan menjadi panggung memalukan bagi anak asuh Arsene Wenger.

Michu menjadi salah satu pemain fenomenal yang namanya pantas dikenang—untuk semusim saja. Namun, ia tak sendirian. Beberapa nama lain juga pantas disandingkan untuk menerima penghargaan ‘one season wonder’. Banyak faktor mempengaruhi; selain ketatnya kompetisi, cedera berkepanjangan juga jadi alasan—juga kemauan untuk tidak disebut rakus.

Berikut nama-nama yang pantas dikenang untuk ‘one season wonder’.

Mido

Datang ke Tottenham Hotspur dengan label mantan wonderkid untuk gim simulator sepak bola, Championsip Manager. Ia dipinjam dari AS Roma di musim 2005/2006. Musim pertamanya untuk Spurs berjalan sempurna, dengan 13 gol di semua kompetisi yang ia jalani. Martin Jol kemudian mempermanenkan kontrak Mido di musim berikutnya. Sayang, kepercayaan yang diberikan pada penyerang asal Mesir ini tak dijawab dengan performa di atas lapangan. Ia hanya berhasil mencetak satu gol dari 12 laga Liga Primer. Mido lantas dilego ke Middlesbrough. Di sana ia juga tak berkembang banyak (hanya enam gol bagi The Boro) dan lebih sering dipinjamkan ke klub lain. Kini ia merintis lagi karier sepak bolanya dengan menjadi pelatih.

Charlie Adam

Kenny Dalglish memboyong gelandang berusia 26 tahun itu dari Blackpool di tahun 2011. Sayang, apa yang dilakukan Dalglish tak berbuah manis seperti saat Charlie Adam berseragam oranye, Blackpool. Bersama The Tangerines di musim 2010/2011, ia merajai lini tengah dengan catatan 12 gol dan 8 asis. Bahkan, sebagai gelandang yang lebih banyak bermain di area dalam, Adam memiliki catatan moncer untuk urusan gol. Ia berhasil mencetak 35 gol di semua kompetisi di 98 pertandingannya bersama Blackpool. Performa apiknya tak berlanjut kala berkostum The Reds. Meski bermain reguler, sebanyak 28 laga Liga Primer dan catatan 10 asis, posisi akhir Liverpool yang hanya nangkring di peringkat delapan membuat dirinya dilego ke Stoke City di musim berikutnya.

Michu

Catatan fenomenal lainnya dibukukan oleh Michu. Bersama Rayo Vallecano di musim sebelum pindah ke Swansea. Bersama Vallecano, Michu berhasil membuat 15 gol dan empat asis di La Liga. Produktivitas gol ini berlanjut saat dirinya berseragam The Swans di musim 2012/2013. Ia menjadi salah satu striker menakutkan dengan 18 gol di musim pertamanya. Bahkan ia mempersembahkan satu gelar Piala Liga di akhir musim. Petaka terjadi di musim selanjutnya, saat ia tak bisa memenuhi harapan publik dengan gol-gol tak terduganya. Bahkan, baru di pekan ke-11 liga berjalan ia harus absen lama karena cedera lutut. Sejak saat itu, Michu lebih banyak berada di ruang medis dan hanya mencetak dua gol di kompetisi musim 2013/2014. Hantu cedera tak membuat performanya kembali meski sempat dipinjamkan ke Napoli. Dari Napoli, ia lantas diungsikan ke klub-klub divisi bawah Spanyol.

Francis Jeffers

Francis Jeffers masuk dalam salah satu daftar pembelian sia-sia yang dilakukan Arsene Wenger. Ia sebenarnya adalah pemain muda yang digadang-gadang menjadi penyerang besar Inggris di masa mendatang. Namun, kepindahannya dari Everton ke Arsenal adalah sebuah kesalahan. Jeffers sebenarnya berhasil menembus skuat utama The Toffees di usianya yang ke-20. Bersama Everton di Liga Primer Inggris musim 2000/2001, ia mencatatkan 12 penampilan dengan 6 gol Liga Primer. Arsenal kemudian memboyongnya dengan mahar £8 juta. Meski memiliki catatan dua gelar Piala FA dan satu piala Liga Primer, selama tiga musim di Highbury ia hanya mendapat 22 kali kesempatan bermain dengan gol tak lebih dari empat! Yang lebih mengejutkan selama 15 tahun kariernya berlanjut sebagai striker, Jeffers tak mampu menyamai raihan enam gol di musim fantastisnya bersama Everton.

Michael Bridges

Musim pertama Bridges bersama Leeds United di musim 1999/2000 adalah satu-satunya hal fenomenal yang bisa dicapai striker 21 tahun itu. Setelah pindah dari Sunderland dengan mahar £5 juta, ia membukukan 19 gol di Liga Primer Inggris dan membantu Leeds meraih posisi tiga klasemen. Sayang di musim pembukaan milenium baru, Bridges harus cedera panjang dan hanya membuatnya bermain di delapan laga pembuka Liga Primer. Ia pun sama sekali tak mencetak gol di delapan pertandingan itu. Dua musim terakhirnya bersama The Whites juga hanya dihabiskan di ruang medis. Setelah itu, ia baru bisa mencetak lebih dari 10 gol saat berseragam Carlisle United (divisi keempat Liga Inggris).

Siapa lagi di antara lima pemain di atas yang masuk kriteria ‘one season wonder’ di Liga Primer Inggris?

Beri tahu kami di kolom komentar!

Comments