Lima calon pengganti Coutinho di Liverpool

Philippe Coutinho akhirnya meninggalkan Liverpool dan bergabung dengan Barcelona. Kepergian gelandang Brasil itu jelas meninggalkan lubang besar, tapi Jurgen Klopp tak boleh diam saja.

Bursa transfer Januari jadi kesempatan untuk memburu pemain anyar. Jika ingin memenuhi target, laskar Anfield harus mencari pengganti sepadan untuk The Little Magician. Beberapa nama sudah muncul, namun beberapa dinilai meragukan.

“142 juta pound itu banyak! Sekarang gunakan uang itu dengan lebih baik ketimbang saat Suarez pergi!!” bunyi sebagian cuitan Jamie Carragher, legenda The Reds, lewat akun pribadinya.

Peringatan keras dikirim oleh Carra setelah Coutinho hengkang. Betapa tidak, eks bek Inggris itu menyaksikan sendiri kegagalan transfer The Reds di musim 2014/15. Kepergian Luis Suarez malah digantikan oleh transfer tidak jelas seperti Lazar Markovic dan Mario Balotelli.

Kesalahan tersebut harus jadi pelajaran berarti dan daripada bingung memilih, berikut beberapa solusi untuk menggantikan The Little Magician.

Riyad Mahrez, Leicester City

Riyad Mahrez

Nama ini langsung muncul begitu Coutinho hengkang. Mahrez memang jadi salah satu bahan pertimbangan Liverpool. Selain kemampuan sebagai kreatornya ada di atas rata-rata, bahkan sempat membawa The Foxes juara di 2015, winger 26 tahun ini sudah punya niat untuk pindah.

Niat Mahrez untuk pindah layaknya gayung bersambut dengan kebuntuan The Reds akan playmaker. Memang, winger Aljazair itu memiliki tipe yang berbeda dengan Coutinho, namun kemampuan dalam mengkreasi peluang dan mencetak gol layak disandingkan (tujuh gol dan tujuh assist di Liga Primer). Boleh saja ia gagal pindah ke Arsenal atau Barcelona musim lalu, tapi musim ini bisa jadi berkah.

Manuel Lanzini, West Ham United

Manuel Lanzini

Lanzini jadi pertimbangan lain yang muncul di media Inggris. Gaya main bintang Argentina ini diklaim cocok dengan skema gegenpressing Klopp. Pergerakan tanpa bolanya sangat unggul, bahkan dribel, umpan, dan sentuhan akhir di kotak penalti cukup merepotkan. Satu-satunya kekurangan adalan inkonsistensi yang masih menghantui.

Jika melihat situasi The Hammers yang acakadut, tentu tawaran dari Liverpool takkan ditolak oleh Lanzini. Bintang Argentina itu layak mendapat kesempatan bermain di level yang lebih tinggi dan The Reds bisa menawarkan hal tersebut.

Nabil Fekir, Lyon

Nabil Fekir

Nabil Fekir merupakan salah satu playmaker tertajam di liga top Eropa musim ini. Walau bermain sebagai gelandang, Fekir mampu membukukan 13 gol untuk Lyon di Ligue 1. Kemahirannya dalam mengeksekusi bola mati pun layak diacungi jempol, apalagi keluasan visinya yang mampu menemukan celah di pertahanan nan ketat.

Satu-satunya keraguan adalah persaingan di Ligue 1. Sepak bola Prancis dinilai kurang kompetitif dan bisa saja deretan gol Fekir tercipta karena menghadapi lawan dengan jarak kualitas yang jauh. Apalagi persaingan fisik di Liga Primer Inggris sangat ketat dan jika terkejut dengan atmosfer tersebut, Fekir bisa jadi flop seperti beberapa gelandang Ligue 1 lain.

Thomas Lemar

Thomas Lemar Monaco

Sebenarnya Lemar sudah jadi buah bibir musim lalu, menyusul performa gemilang bersama Prancis dan AS Monaco. Sepakan jarak jauh, visi luas, dan umpan pembunuhnya sesekali mengingatkan pada Coutinho. Namun, sumbangsih dalam bertahan dan daya kerja pemain 22 tahun itu masih perlu diasah.

Ada dua hal lain yang patut jadi catatan. Pertama  adalah Lemar lebih sering bermain di sayap kiri sejak musim lalu. Posisi gelandang serang atau tengah bukan favoritnya, namun justru rerata gol dan assistnya lebih banyak tercipta dari posisi tersebut. Kedua, Monaco tak mau melepas Lemar di musim dingin.

Julian DraxlerParis Saint-Germain

Gelandang PSG ini sudah jadi incaran Klopp sejak beberapa musim lalu. Sangat disayangkan karena ia akhirnya memilih pindah ke Paris, namun persaingan ketat dengan Neymar dan Kylian Mbappe membuatnya kembali tersingkir. Pindah pun jadi salah satu pilihan untuknya.

Sebagai playmaker, Draxler layak diacungi jempol dan ia bisa bermain di berbagai posisi tengah maupun melebar. Keberadaannya bisa menutup lubang yang ditinggalkan Cou, tetapi Draxler tetap harus mengasah ketenangannya di depan gawang (finishing).

Comments