Paman dan pelatih Nadal ungkap dua momen paling menyakitkan

Paman yang juga mantan pelatih Rafael Nadal, Toni Nadal, mengungkapkan dua momen paling menyakitkan yang pernah dialami oleh petenis nomor satu dunia tersebut. Menurut Toni, dua momen tersebut adalah kekalahan pada final Prancis Terbuka 2009 dan Australia Terbuka 2012.

Selama bekerja sama dengan Toni, Nadal menikmati kesuksesan besar. Petenis kidal asal Spanyol tersebut memenangi 16 gelar Grand Slam, 30 gelar Masters Series, dan dua medali emas Olimpiade.

Kerja sama Toni dan Nadal selesai pada akhir musim 2017. Pada musim tersebut, Nadal bisa menambah koleksi gelar grand slam karena juara Prancis dan Amerika Serikat Terbuka serta kembali meraih peringkat satu dunia.

Meski demikian, Toni mengakui bahwa kerja sama dengan keponakannya tersebut tidak selalu berjalan dengan mulus. Mereka harus melewati momen-momen yang pahit.

“Kami mengalami beberapa saat yang sulit. Apa yang terjadi adalah bahwa saya tahu kesengsaraan menjadi bagian dari kehidupan dan saya merasakan kami mengalami kesulitan. Meski demikian, saya tidak pernah membuat drama saat kalah,” ujar Toni seperti dikutip dari Express.

“Ada dua kekalahan yang paling menyakitkan bagi saya ketika melawan Novak Djokovic pada Australia Terbuka 2012 dan juga melawan Robin Soderling di Roland Garros pada 2009,” tambah Toni.

Momen menyakitkan bagi Nadal, menurut Toni, tidak hanya ketika dikalahkan saat pertandingan. Nadal juga menderita karena cedera yang menimpanya.

“Ada pula cedera, ketika kami tidak tahu apakah kami akan meneruskannya atau berhenti. Pada 2005, itu menjadi titik terendah perasaan kami tetapi pada akhirnya kami terbiasa dengan hal itu,” ujar Toni.

Comments