La Blanquirrojas Kembali: Setelah 36 Tahun, Peru Kembali ke Piala Dunia

Tidak ada yang bisa lebih manis daripada ini. Peru mengakhiri penantian selama 36 tahun untuk berpartisipasi di putaran final Piala Dunia lewat kegigihan dan elegansi mereka ketika menguasai bola. Mereka tidak mungkin melakukannya tanpa kerja sama tim mereka dan kejeniusan Ricardo “El Tigre” Gareca.

Jika Anda melihat Peru, Anda mungkin tidak melihat nama-nama besar di skuat mereka kecuali Anda mengetahui Jefferson Farfan dan kapten tim mereka, Paolo Guerrero. Meski begitu, hal tersebut justru menjadi kunci bagi La Blanquirroja, karena mereka tidak perlu lagi bergantung pada satu orang pemain dan bahwa semua pemain punya kesempatan untuk hadir sebagai pembeda ketika dibutuhkan.

Di Balik Kesuksesan Ini

Sebuah tubuh tidak akan berfungsi baik tanpa kepala dan begitu juga dengan Peru; mereka tak akan bisa mencapai prestasi ini tanpa bantuan pelatih kepala mereka, Ricardo Gareca. Sistem permainan mereka sendiri mungkin tidak akan cukup untuk membawa mereka ke Rusia. Telah bersama tim sejak 2015, Gareca telah membuat perubahan besar-besaran pada sistem permainan Peru. Ia menanamkan penguasaan bola yang elegan dan umpan-umpan pendek dalam gaya permainan mereka, yang membawa mereka ke posisi mereka sekarang.

Namun yang menarik, dulu, Gareca adalah orang yang bertanggung jawab menggagalkan Peru lolos ke Piala Dunia 1986 ketika ia mencetak gol yang mengakhiri harapan mereka untuk lolos ke putaran final. Meski begitu, statusnya berubah dari penjahat menjadi pahlawan berkat kesuksesannya sebagai pelatih kali ini.

Gareca telah terjun ke dunia kepelatihan selama dua dekade, dengan pengalamannya terutama dialami di Amerika Selatan. Ia menjadi pelatih bagi tim-tim seperti Independiente (Argentina), America de Cali (Kolombia), dan Palmeiras (Brasil) sebelum mengambil alih Peru. Selama bertahun-tahun pelatih, ia telah mengumpulkan pengetahuan yang cukup dan keyakinan akan sepakbola yang elegan yang kini ia tanamkan juga di sistem sepakbola Peru.

Perjalanan Berat Mereka untuk Lolos

Peru memulai perjalanan mereka di babak kualifikasi dengan dua kekalahan beruntun, setelah kalah 2-1 di laga pembuka melawan Kolombia di Barranquilla, yang kemudian diikuti dengan kekalahan lainnya di Lima melawan Cile ketika mereka kalah secara menyakitkan dengan skor 4-3 – aksi heroik Guerrero tak cukup untuk menyelamatkan mereka kala itu.

Mereka kemudian bangkit dan menang 1-0 atas Paraguay, sebulan setelah kekalahan mereka dari Cile, sebelum dibantai 3-0 oleh Brasil, empat hari setelah kemenangan tersebut.

SALVADOR, BRAZIL – NOVEMBER 17: Carlos Ascues of Peru gestures during a match between Brazil and Peru as part of 2018 FIFA World Cup Russia Qualifiers at Arena Fonte Nova on November 17, 2015 in Salvador, Brazil. (Photo by Buda Mendes/Getty Images)

Kekecewaan pun berlanjut dengan dua kekalahan beruntun lainnya dari Uruguay (1-0) dan Bolivia (2-0) sebelum meraih kemenangan 2-1 di kandang dari Ekuador. Mereka kemudian meraih hasil imbang 2-2 dengan Argentina di kandang sebelum kembali kalah dari Cile dengan skor 2-1.

Sinar harapan tampak mulai bersinar ketika Peru berhasil membantai Paraguay dengan skor 4-1, tetapi mereka kembali merasakan kekalahan di kandang dari Brasil, yang mencetak dua gol di babak kedua.

Ketika rasa putus asa mulai terasa, Peru mulai tampil habis-habisan, dimulai dengan hasil imbang 2-2 melawan Venezuela, dan diteruskan dengan tiga kemenangan beruntun atas Uruguay, Bolivia, dan Ekuador, dengan skor identik 2-1.

Mereka lalu memberikan rasa frustrasi bagi Argentina ketika mereka memaksakan hasil imbang di La Bombonera, sebelum akhirnya meraih satu poin di Lima dengan imbang 1-1 melawan Kolombia. Dengan hasil-hasil ini, Peru sudah nyaris dipastikan gagal mendapatkan tiket ke putaran final, tetapi tiba-tiba, CAS (Court of Arbitration for Sports, atau Pengadilan Olahraga Internasional) membatalkan kekalahan 2-0 mereka dari Bolivia dengan kemenangan WO 3-0 setelah ditemukan bahwa Bolivia memainkan pemain yang tidak sah dalam pertandingan kedua tim di September 2016. Hasil ini membuat La Blanquirroja berhasil mendapatkan satu tempat di play-off untuk menghadapi Selandia Baru, juara zona OFC (Oseania), untuk satu tempat di Rusia 2018.

Kebangkitan Peru

Tidak ingin kembali gagal ke Piala Dunia, Peru menjalani leg pertama di kandang lawan dengan niat sepenuhnya hanya untuk membuat All Whites tidak bisa mencetak gol. Setelah 90 menit penuh kerja keras di Wellington, Peru pun mendapatkan harapan mereka setelah mereka hanya imbang tanpa gol dengan Selandia Baru.

Dengan tekanan dari tuan rumah dan nasib berada di tangan mereka sendiri, Peru bermain habis-habisan di 10 menit pertama pertandingan untuk memberikan ancaman bagi pertahanan Selandia Baru. Setelah 28 menit, Christian Cuevas memberikan bola pada Farfan yang mencetak gol pembuka, dan membuat seisi stadion bersorak gembira.

Pada menit ke-65, Peru memastikan nasib mereka ketika Christian Ramos memanfaatkan bola liar di dalam kotak penalti setelah terjadinya tendangan penjuru. Ia kemudian menendang bola melewati Stefan Marinovic dan mengantarkan timnya ke Rusia dan seisi stadion benar-benar menggila.

Memasuki turnamen ini sebagai tim yang tidak terlalu diunggulkan, Peru akan berusaha untuk membuat negara mereka bangga, sebagaimana yang pernah mereka lakukan dengan lolos ke perempat final Piala Dunia 1970 dan 1978. Perlu diketahui juga bahwa tidak satupun pemain di line-up mereka saat ini pernah melihat negara mereka bermain di Piala Dunia – mereka bahkan belum ada di dalam kandungan ketika terakhir kali Peru muncul di turnamen sepakbola terbesar di dunia ini. Yang pasti, mereka mungkin menjadi agen kebangkitan sepakbola Peru saat ini.

Comments