5 Perubahan Besar yang Dibuat Gareth Southgate Pada Timnas Inggris untuk Piala Dunia 2018

FourFourTwo FourFourTwo

Bukan hanya rompi dan sikap sopan saja yang dibawa Southgate untuk mentransformasi The Three Lions, ia juga merombak kebiasan lama dan mematahkan kutukan tim asuhannya.

1. Meredam Ego Pemain

Jika diamati dari luar, bagian terpenting dari pembenahan yang dilakukan Gareth Southgate untuk timnas Inggris selama kurang lebih setahun terakhir ialah perubahan dalam pola pikir. “Generasi emas” yang terkenal sekarang ini mungkin perilakunya tidak terlalu nakal. Meski begitu, mereka tentu saja tetap punya atmosfer sikap angkuh yang yakin akan menang di sekeliling mereka.

Mungkin, itu jadi hal yang wajar-wajar saja bagi para superstar  dengan segudang prestasi seperti Frank Lampard, Rio Ferdinand dkk. Walaupun keberhasilan-keberhasilan bersama klubnya masing-masing, pemain-pemain bintang tersebut selalu tak bernasib baik setiap kali bermain pada musim panas di tahun genap bersama negaranya.

Beda halnya dengan tim yang sekarang ini diasuh oleh Southgate, prestasi mereka tak seberapa dibandingkan dengan para pendahulunya. Tapi anehnya, tim ini lah yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk meraih kesuksesan dengan Inggris.

Peran Southgate sendiri dalam hal ini sebagian tidak secara langsung. Dia cukup beruntung karena bergabung dengan timnas tepat disaat generasi terakhir dari mereka menginginkan untuk gantung sepatu,walaupun tak semuanya berubah menjadi keberuntungan. Patut diingat. Skuad tunggal Sam Allardyce di Inggris, yang dipilih tiga bulan sebelum penunjukan Southgate, saat itu berisikan Joe Hart, Wayne Rooney, Theo Walcott, dan Phil Jagielka. Keempatnya telah dihapus dari skuad asuhan Southgate yang masih seumur jagung, meskipun faktanya hanya satu – Wayne Rooney – yang secara jelas telah pensiun untuk membela Inggris (dan baru kemudian sebagai latihan penyelamatan wajah seremonial).

Singkatnya, Southgate telah – dengan sangat tenang, memastikan untuk tidak membuat keributan – menyingkirkan bintang-bintang akhir masa lalu. Ia menggantikan mereka dengan pemain=pemain yang masih muda, mudah dibentuk, dan semuanya lebih bersedia untuk menyerahkan bakat mereka untuk kesuksesan kolektif.

2. Memberikan Kepercayaan Pada Talenta-Talenta Muda

Unsur usia seharusnya tidak dilebih-lebihkan. Sering kali, dikatakan bahwa manajer yang berpikiran mendalam lebih suka bekerja dengan pemain muda karena faktanya, pemain yang berusia mudalah yang lebih untuk diarahkan oleh sang pelatih.

Contohnya ialah seperti yang dilakukan Pep Guardiola dan Mauricio Pochettino di antara yang lainnya. Dan, model manajemen Southgate tampaknya juga memiliki arah yang serupa. Pengalaman tentu masih jadi pertimbangan. Ya, Southgate menciptakan suatu keseimbangan yang terus ia pertahanka. Tapi, jika dihadapkan dengan pilihan antara yang berpengalaman atau yang muda, ia lebh memilih memainkan yang muda.

Hasilnya, timnas Inggris memberikan debut kepada 13 pemain muda dalam waktu kurang dari dua tahun. Dan, skuad yang dibawa ke Piala Dunia adalah tim termuda kedua di turnamen tersebut, sama sepeti timnas Prancis. Tim itu diisi oleh Jordan Pickford, Harry Maguire, Ruben Loftus-Cheek, dan Trent Alexander-Arnold dibandingkan dengan Hart, Chris Smalling, Jack Wilshere atau Walcott.

Meski banyak yang mengatakan bahwa ‘Anda tidak dapat membeli pengalaman’, toh ternyata ada banyak sifat penting yang cenderung berjalan lebih kuat pada pemain-pemain pemuda tersebut. Mereka memiliki keberanian, kegembiraan, kecepatan, dan keinginan untuk tampil mengesankan. Semua sifat tersebut telah ditampilkan dalam tim asuhan Southgate, yang berada dalam performa terbaiknya.

3. Memenangkan perhatian publik

Selain sifat-sifat diatas, ada hal lain yang sama pentingnya dalam diri pemain muda: mereka memiliki gambaran sebagai sosok manusia sederhana, mereka lebih menarik bagi publik. Kata kunci yang melekat pada skuad asuhan Southgate selama beberapa minggu terakhir adalah skuad yang “menyenangkan”. Di level klub hal ini kurang relevan – jika Anda cukup sukses, mayoritas penggemar akan membenci Anda – tetapi untuk Inggris, di mana adanya kekecewaan publik dan prestasi rendah di lapangan yang telah lama terjadi, hal itu sangat penting.

Namun, bukan hanya pemain muda saja yang telah menghidupkan kembali kehangatan publik terhadap tim nasional, beberapa pemain juga melakukan cara yang berbeda dalam melakukan tugas tertentu. Jika tim-tim pendahulunya mengasingkan diri mereka dalam kamp-kamp pelatihan bintang lima dari pihak luar, tim yang sekarang ini malah didorong untuk membuat penampilan di depan media.

Saat di Rusia, wawancara-wawancara yang biasanya berjalan dengan sangat membosankan sekarang berubah menjadi lebih menarik. Setelah kemenangan atas Kolombia misalnya, pemain-pemain tersebut sibuk melakukan swafoto bersama para pendukung Inggris di luar stadion. Seminggu sebelum itu, mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk main panahan dan bilyar melawan tim media. Mungkin saja ada maksud tersendiri dari kegiatan tersebut, tapi yang pasti, kegiatan simbolis itu berhasil.

Secara garis besar, pemain-pemain yang ditunjuk oleh Southgate menjadi pusat perhatian – Jesse Lingard, Marcus Rashford, Harry Kane, dan Dele Alli – memberikan kesan sebagai sosok yang relatable, mudah bergaul, dan membumi. Singkatnya, kesan-kesan tersebut tak dimiliki oleh para pendahulu mereka. Tak peduli apakah aslinya mereka memang punya sifat tersebut atau tidak. Itu bukanlah hal yang penting. Ketika satu-satunya kontak Anda dengan publik adalah melalui media, baik dari media sosial ataupun tradisional, kesan adalah segalanya.

4. Mengutamakan sistem di atas pemain

Southgate bukan hanya mengubah hal-hal tak terwujud dalam timnas Inggris. Dalam istilah paling harfiah, ia mengubah tim itu sendiri.

Sistem yang dilakukanoleh manajer-manajer Inggris sebelumnya adalah untuk memasang pemain-pemain bintang dalam posisi favorit mereka. Hal teresebut tak hanya terjadi saat zaman kemitraan Gerrard-Lampard. Saat Roy Hodgson menjabat sebagai manajer waktu Euro 2016, ia juga menerapkan formasi 4-1-4- 1 secara tergesa-gesa. Hal sebaliknya lah yang dilakukan Southgate. Ada cetak biru yang jelas, dan jika muncul ketidaksesuaian, pemain tersebut lah yang harus beradaptasi.

Southgate menerapkan formasi 3-5-2, yang sebagian besar telah dipahami oleh pemainnya saat bermain di klub, Southgate telah memilih tim yang cocok untuk taktiknya. Bukan hanya formasi, tetapi juga naluri dan pendekatan. Southgate lebih memilih gaya yang sabar, berbasis kepemilikan, sehingga lini tengah penuh dengan energi; Pickford mendapatkan tempat sebagai penjaga gawang karena distribusinya; dan tiga pemain belakang yang di atas kertas mungkin terlihat aneh – Maguire, John Stones, dan Kyle Walker yang tak bermain di posisi biasanya – sangat masuk akal.

Gary Cahill, Phil Jones, dan Chris Smalling, yang sebelumnya dipertimbangkan untuk menjadi punggawa di lini belakang, malah di tempatkan di bangku cadangan, atau tak dipanggil sama sekali.

5. Mematahkan kutukan saat adu penalti

Apapun yang terjadi setelah ini, kita punya memori tentang keajaiban yang terjadi di Moskow. Kemenangan yang pas-pasan pada putaran kedua atas lawan kelas menengah mungkin bukan suatu hal yang biasanya dibanggakan saat turnamen yang dijalani Inggris. Bahkan, itu akan sesuai dengan template yang biasa terjadi; menjadi tim awal yang menuju jalan keluar. Tapi, tim Southgate berhasil memenangkan adu penaltI. Pertama kalinya dalam 22 tahun terakhir. Inggris sebelumnya kalah dalam lima adu penalti. Menjadikan kemenangan tim Southgate tersebut menjadi suatu yang tak biasa.

Hal utama yang dilakukan Southgate adalah meninggalkan pemahaman umum bahwa adu penalti adalah adu keberuntungan. Seperti yang ia katakana minggu lalu: “Adu penalti bukan soal keberuntungan. Itu juga bukan soal kesempatan. Itu adalah keberhasilan untuk menunjukkan skill bermain saat berada di bawah tekanan.

Kemampuan itu telah absen selama dua decade dari timnas Inggris selama dua decade. Hal itu telah menjadi momok utama pada level nasional. Adu penalti telah menjadi kombinasi beracun dari obsesi dan fatalisme, yang pada gilirannya memiliki efek di lapangan. Inggris takut dengan adu penalti karena mereka sangat buruk dalam hal itu, dan mereka buruk dalam hal itu karena mereka sangat ketakutan.

Southgate, yang mungkin memang memiliki pengalaman tentang semua ini, mengatasi masalah ini dengan cara yang sangat masuk akal. Ini melibatkan penyusunan daftar pengambil penalti dibandingkan dengan menanyakan ke para pemain siapa saja yang mau mengambil penalti tersebut. Ia juga melakukan penelitian terhadap lawannya, mereplikasi situasi senyata mungkin, dan melakukan latihan secara terus menerus.

Ceramahnya tentang “berproses” mungkin memiliki dampak yang nyata dan bukan hanya sekadar pembicaraan dari pihak manajemen. Hasil dari omongan tersebut benar nyata. Bukan hanya saat Inggris menang melawan Kolombia, itu lebih karena mereka berhasil mengatasi situasi sulit dan kemudian memenangkannya. Mereka berhasil menebus kesalahan dengan performa yang baik sesudahnya. Mereka melakukan proses.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com

Comments