Di Balik Kesuksesan Inggris di Piala Dunia 2018, Ada Pep Guardiola dan Mauricio Pochettino

Angga SP Angga SP

Inggris di luar dugaan, berhasil tampil brilian di Piala Dunia 2018 dan lolos hingga ke semifinal sejauh ini. Mengapa mereka harus berterima kasih kepada Pep Guardiola dan Mauricio Pochettino?

Pada menit 90, media-media lokal Inggris sudah menyiapkan banyak tulisan berjudul heroik mengenai kemenangan Inggris atas Kolombia, para fans yang ceria mulai menyalakan suar dan bernyanyi football’s coming home dengan lantang, bir-bir kemudian berhamburan keluar dari botolnya, dan David Beckham sudah menyiapkan deskripsi untuk unggahan Instagram.

Inggris unggul 1-0 saat itu. Namun, tiba-tiba saja seorang tinggi besar bernama Yerry Mina datang membawa mimpi buruk masa lalu. Menerima crossing Juan Cuadrado, ia melompat tinggi-tinggi untuk kemudian mencetak gol melalui kepalanya. Inggris 1, Kolombia 1. Laga berlanjut ke extra time yang rupanya juga berlanjut lagi ke babak adu penalti.

Publik Inggris kemudian bungkam. Tampak sekali wajah-wajah trauma dari diri mereka sebab extra time, lebih-lebih adu penalti, adalah mimpi buruk. Belum pernah Inggris berhasil melaluinya. Pada Piala Dunia 1990, misalnya, mereka disingkirkan Jerman dengan skor adu penalti 3-4. Saat mereka berhadapan dengan Portugal pada 2006 lalu, ujungnya juga sama. Namun, hari itu adalah ‘hari pembebasan kutukan’. Inggris menang, football’s coming home makin menderang.

We still believe, we still believe..

It’s coming home.. It’s coming..

Football’s coming home..

Kemenangan melalui adu penalti hari itu adalah satu dari sederet pencapaian mengesankan Inggris di Piala Dunia tahun ini. Mereka melewati babak grup dengan perolehan enam poin dari hasil dua kemenangan yang masing-masing atas Tunisia (2-1) dan Panama (6-0), serta sekali kalah saat berhadapan dengan Belgia (0-1) –kekalahan yang pada titik tertentu bisa disebut menguntungkan. Di perdelapan final, Inggris mengandaskan perlawanan ketat Kolombia lewat adu penalti sebelum akhirnya menyingkirkan Swedia dengan skor 2-0 untuk melaju ke semifinal.

Tepuk tangan keras tentu mesti diberikan kepada pelatih Gareth Southgate dan Steve Holland, asistennya. Mereka bukan saja berhasil membawa Three Lions ke babak semifinal, tapi juga memberi banyak perubahan besar. Misalnya saja, soal formasi, Inggris yang dulunya biasa bermain dengan skema 4-2-3-1, 4-3-3, atau beragam perkembangan skema empat bek lain, kini terlihat lebih inovatif. Mereka sering menggunakan skema 3-3-2-2 atau 3-5-2.

Lebih dari perubahan komposisi, skema tersebut juga membawa dampak terhadap pendekatan bermain Inggris. Mereka membawa Inggris bermain lebih sabar, meyakinkan dalam banyak situasi, dan membuat semua pemain, termasuk kiper, benar-benar terlibat dalam permainan.

Dalam laporan panjang nan menarik Daniel Taylor yang dimuat The Guardian, skema tersebut dengan intens dan amat serius disiapkan oleh Southgate dan Holland. Taylor menceritakan bahwa untuk merumuskan skema yang akan digunakan Inggris, keduanya harus menyelam ke masa lalu. Mereka menyimak kembali beragam taktik yang pernah diterapkan para pelatih Three Lions sebelumnya, bahkan hingga masa di mana Southgate masih akitf bermain.

“Kami menghabiskan sekitar empat pekan di Rusia, berdua. Kami kembali menonton Euro U-21 di mana Inggris terlibat dan Piala Konfederasi,” ungkap Holland, masih dalam Taylor. “Sebagian besar waktu habis di pesawat, tetapi hal tersebut memberi kami kesempatan untuk berdiskusi mengenai banyak hal yang sudah kami pelajari selama ini.”

Kita tahu bahwa hasilnya kemudian positif, amat positif. Sejak mulai konsisten menggunakan skema tersebut selama masa persiapan, Inggris di bawah Southgate dan Holland menjadi tim yang amat tangguh. Mereka tak pernah kalah. Menghadapi Brasil, Italia, dan Jerman, mereka bermain imbang. Sementara saat berhadapan dengan Belanda, Nigeria, dan Kosta Rika, kemenangan adalah yang didapat. Dan puncaknya tentu saja adalah pencapaian mengesankan saat Piala Dunia telah digelar yang akhirnya membuat publik Inggris amat yakin bahwa football’s coming home.

Sekali lagi, tepuk tangan keras layak diberikan kepada dua sosok ini: Southgate dan Holland. Namun, kinerja keduanya bisa saja lebih sulit atau tak semengesankan sekarang andai saja tak ada Pep Guardiola dan Mauricio Pochettino.

Peran Guardiola dalam Meningkatkan Kualitas Individu Pemain Inggris

Kecuali ia seorang Zlatan Ibrahimovic, agen Yaya Toure, Mario Mandzukic, atau sosok-sosok lain yang pernah berkonfrontasi dengannya, bisa dibilang tak akan ada yang meragukan kepiawaian Pep Guardiola dalam meracik strategi. Di Barcelona, ia sukses besar. Dengan cara bermain yang banyak orang sebut sebagai penyempurnaan total football, Guardiola berhasil meraih semua gelar yang bisa didapat sebuah tim profesional. Di Bayern Munchen, kendati tak mampu meraih satu target besar yang disematkan klub kepadanya, ia juga terbilang sukses. Kesuksesan ini juga berlanjut tatkala ia menjadi juru taktik Manchester City.

Namun, bukan pencapaian dalam hal gelar saja yang membuat Guardiola dianggap sukses, tetapi juga hal lain, salah satunya adalah kepiawaiannya dalam meningkatkan level kemampuan individu seorang pemain. “Yang menarik adalah bagaimana bagaimana Guardiola meningkatkan kehebatan banyak pemain. (…). Aku pikir di situlah tingkat manajemennya yang berada di atas manajer lain,” kata Gary Lineker, mantan penyerang Inggris, suatu kali.

Kemampuan Guardiola dalam meningkatkan kualitas individu seorang pemain ini muncul berkat sikap perfeksionis yang ia miliki. Di mana pun ia melatih, Guardiola kerap memperhatikan detail-detail kecil dari tiap-tiap pemain di timnya. Saat seorang pemain memiliki satu-dua kekurangan dan Guardiola melihatnya, ia akan menunjukkan aspek mana yang harus diperbaiki. Sementara, saat ia melihat seorang pemain punya potensi besar untuk lebih berkembang, ia akan memikirkan berbagai hal, menganalisis bermalam-malam, dan kemudian mengajak pemain tersebut berbincang empat mata secara intens.

Satu contoh yang cukup terang mengenai hal ini adalah Philipp Lahm. Semenjak Pep Guardiola datang ke Bayern, Lahm makin berkembang. Kecerdasannya meningkat dan ia selalu ingin terlibat dalam permainan. Visi bermainnya pun semakin bagus dan itu terlihat dari caranya membuka ruang tiap kali membantu serangan.

Lebih dari itu, Lahm juga mendapat peran baru di bawah sang pelatih. Ia yang biasa bermain di dua posisi bek sayap menjadi sering dimainkan sebagai holding midfielder dan hasilnya terbukti tokcer. Ia bisa menghubungkan lini depan dan lini tengah dengan baik sekaligus menjadi sosok yang mengawali serangan-serangan Bavarians. Xavi Hernandez bahkan pernah memberi pujian terhadap kemampuan Lahm sebagai gelandang. “Dia memiliki segalanya untuk menjadi gelandang papan atas,” katanya.

Menariknya, kemampuan Lahm yang ‘diperlihatkan’ Pep Guardiola tersebut ternyata juga coba dimanfaatkan oleh Joachim Loew di tim nasional Jerman pada Piala Dunia 2014 lalu. Saat itu, Lahm tercatat empat kali dimainkan sebagai holding midfielder (saat menghadapi Portugal, Ghana, Amerika Serikat, dan Aljazair) dengan hasil yang tentu saja memuaskan.

Hal yang sama sepertinya juga tengah dilakukan Southgate dan asistennya di timnas Inggris saat ini. Pemain-pemain lokal Inggris milik Manchester City yang berkembang pesat di bawah Guardiola dipanggil ke skuat dan dimainkan dengan cara yang sama. John Stones, misalnya. Di bawah Guardiola, kemampuannya dalam melepaskan operan meningkat berkali-kali lipat dan karena itu ia menjadi sosok penting di tim. Visi bermainnya semakin baik. Ia juga menjadi pemain yang tak hanya bertugas menjagal lawan, tetapi juga mampu mengalirkan bola, mengatur tempo, bahkan merancang serangan.

“Secara pribadi, aku tidak mungkin berada di sini tanpa apa yang dia lakukan dalam dua tahun terakhir. Aku sudah banyak berkembang,” tutur Stones soal pengaruh Guardiola baru-baru ini. “Dia selalu punya pernyataan tepat untukku dan hal-hal sederhana. Itulah yang penting, bukan soal memenuhi pikiran anda dengan terlalu banyak informasi, tetapi memberi semuanya pada porsi yang tepat dan membuat segala hal jadi lebih sederhana.”

Dalam skema tiga bek Three Lions, kemampuan yang dimiliki Stones sangat berguna sebab pendekatan permainan Inggris di bawah Southgate punya kemiripan dengan Manchester City (atau mungkin mencontek Manchester City?). Sementara bek sayap menjadi tumpuan menyerang-bertahan di kedua sisi, lini tengah menjadi fondasi permainan, dan para penyerang bergerak cair mencari ruang, kiper dan para bek akan bertugas sebagai pembagi bola dan pemula serangan.

Dari sini kita kemudian paham mengapa Southgate lebih banyak memanggil bek dengan kemampuan passing dan menyerang mumpuni, termasuk dua pemain Manchester City lain, Kyle Walker dan Fabian Delph ketimbang Chris Smalling, misalnya.

Kemampuan build up serangan yang dimiliki Walker bisa menjadi pelengkap skema tiga bek Inggris, bersama Stones yang jago passing dan pemain Leicester City, Harry Maguire, yang unggul bola-bola atas. Sementara Delph, ia sebetulnya seorang gelandang. Namun, Guardiola cukup sering memainkannya sebagai bek kiri tatkala Mendy cedera dan hasilnya lumayan.

Sementara itu, pemain di posisi lain, Raheem Sterling, juga merupakan pemain yang ketiban efek Guardiola. Sebelum ditangani Guardiola, ia terkenal karena penyelesaian akhir yang buruk. Bahkan saat orang Spanyol itu masuk, Sterling masih cukup gemar membuang-buang peluang, sehingga Guardiola kabarnya sampai memberi pelatihan khusus bagi sang pemain. “Jika bisa memaksimalkan berbagai peluang yang didapat menjadi gol, dia akan menjadi salah satu pemain terbaik di dunia,” kata mantan pelatih Bayern ini suatu kali.

Dan di musim lalu, ia tiba-tiba menjadi salah satu pencetak gol terbanyak Manchester City. Sayangnya bersama Inggris di Piala Dunia tahun ini, predikat yang dulu disematkan kepadanya kembali melekat.

Keberanian Pochettino Menurunkan Banyak Pemain Lokal

Peran Mauricio Pochettino bagi timnas Inggris mirip-mirip dengan peran Pep Guardiola. Keduanya sama-sama piawai mengembangkan kemampuan pemain. Bedanya, sementara Guardiola meningkatkan kemampuan pemain yang sudah punya nama hingga mencapai titik tertinggi –sekaligus memengaruhi gaya bermain Inggris, Pochettino mengembangkan pemain yang belum punya nama. Dan ini sudah merupakan kebiasaannya sejak pertama kali menginjakkan kaki sebagai pelatih di Inggris.

Saat masih melatih Southampton, ia gemar mengorbitkan nama-nama baru lokal, baik yang masih belia mau pun yang sudah cukup berumur. Beberapa di antaranya adalah Rickie Lambert, Adam Lallana, Luke Shaw, Calum Chambers, hingga Nathaniel Clyne.

Peran Mauricio Pochettino bagi timnas Inggris mirip-mirip dengan peran Pep Guardiola. Keduanya sama-sama piawai mengembangkan kemampuan pemain.

Kebiasaan Poch tak berubah saat ia melatih Tottenham Hotspurs. Musim lalu, tercatat ada lima pemain asal Inggris yang rutin mengisi starting eleven TottenhamHebatnya, kelimanya tampil cemerlang.

Saat tim-tim besar yang mestinya menjadi tulang punggung timnas malah lebih mengutamakan para pemain asing, yang dilakukan Poch bersama Totthenham ini tentu saja menjadi berkah di tengah padang pasir. Banyaknya pemain lokal yang rutin bermain, ditambah pula performanya meyakinkan, membuat Southgate punya banyak pilihan berkualitas. Pada Piala Dunia 2018 ini saja, misalnya, Tottenham Hotspurs mengirimkan lima pemain yang tiga di antaranya rutin mengisi starting eleven –kelimanya merupakan skuat inti Tottenham.

Harry Kane menjadi andalan utama di lini depan dengan enam golnya sejauh ini. Dele Alli bahu membahu bersama Lingard di lini tengah Inggris. Kieran Trippier menyerang dan bertahan dari sisi kanan. Sementara Eric Dier dan Danny Rose, yang merupakan pelapis, selalu siap sedia tiap kali mendapat giliran.

Bayangkan, andai Pochettino, juga Guardiola, tak ada, sangat mungkin perjalanan Inggris tak akan semulus sekarang atau bahkan bisa saja berujung kegagalan konyol seperti yang biasa mereka tunjukkan pada gelaran-gelaran sebelumnya.

Comments