Mario Mandzukic, Sang Pahlawan yang Biasa Dilupakan

Angga SP Angga SP

Dikritik karena tak subur di Piala Dunia, Mario Mandzukic justru selalu berhasil mencetak gol di saat-saat terpenting.

Jordan Pickford tampil begitu baik dalam mengawal gawang tim nasional Inggris selama gelaran Piala Dunia tahun ini. Di babak grup, gawangnya hanya dua kali bobol. Sementara pada babak perdelapan final dan perempat final, ia hanya sekali kemasukan. Namun, Mario Mandzukic yakin bahwa sang kiper akan mendapat kesulitan lebih berat kala bersua timnya, Kroasia, di babak selanjutnya. “Semua pemain kami berbahaya bagi lawan, jadi aku yakin seseorang akan menemukan cara untuk mengejutkan dia,” penyerang Juventus itu berujar. Dan, ternyata ia sendiri yang melakukannya, menemukan cara itu.

Menerima sodoran kepala Ivan Perisic, Mandzukic yang lolos dari kawalan bek Inggris langsung melepaskan sepakan kaki kiri keras yang tentu saja berujung gol karena sang kiper, Pickford, gagal melakukan antisipasi. Gol ini kemudian menjadi spesial sebab terjadi setelah Kroasia berulang kali melakukan gempuran yang tak kunjung membuahkan hasil. Lebih dari itu, gol tersebut dicetak pada babak perpanjangan waktu yang sekaligus mengantarkan timnya mencatatkan sejarah: lolos ke babak final Piala Dunia untuk kali pertama.

Setelahnya bisa ditebak, Mandzukic digaung-gaungkan oleh publik seluruh dunia. Sementara, di antara judul-judul berita kemenangan Kroasia, juga di antara status-status para pengamat di sosial media, namanya terselip di sana.

Bukan kali ini saja Mandzukic mencetak gol di laga penting. Namun, ini adalah pertama kalinya ia langsung disambut bak pahlawan. Pada final Liga Champions 2013, misalnya, Mandzukic menjadi pencetak gol pertama Bayern Munchen yang kala itu ia bela. Namun, yang kemudian dibicarakan semua orang adalah Arjen Robben sebab pemain kidal Belanda itu yang akhirnya menjadi penentu kemenangan. Juga, ia lebih tenar.

Tahun lalu bersama Juventus, di perhelatan sama dan di babak yang sama pula, Mandzukic kembali mencetak gol. Bahkan dengan cara yang lebih spesial: tendangan salto. Namun bisa ditebak, yang mencuri perhatian bukan dirinya, melainkan Cristiano Ronaldo. Sebab Mandzukic gagal membawa Juventus menang, sebab Ronaldo yang tampil lebih gemilang, dan karena itu ia bisa dilupakan dengan gampang.

Kemampuan-Kemampuan Mandzukic yang Kerap Dilupakan

Jika ukuran hebat-tidaknya seorang penyerang dan keterlibatannya dalam permainan diukur dari jumlah gol, maka sulit untuk menyebut Mandzukic sebagai penyerang yang hebat sekaligus terlibat dalam permainan tim. Pada tiap musim di mana pun ia bermain, jumlah gol yang ia cetak tak pernah menyentuh angka 20. Catatan tertingginya adalah mencetak 18 gol kala masih berseragam Bayern Munchen.

Bersama Kroasia di Piala Dunia tahun ini, torehan Mandzukic tak jauh berbeda. Ia masih bukan penyerang yang tajam. Golnya baru mencapai angka dua. Lebih dari itu, intensitas sepakan ke arah gawangnya pun masih kalah dengan Andre Kramaric atau bahkan Ivan Rakitic dan Luka Modric  yang notabene seorang gelandang.

Beragam catatan statistik ini kemudian menjadi ironi mengingat posisi natural Mandzukic adalah penyerang tengahLebih-lebih, ia punya beragam atribut fisik yang semestinya bisa mendukung posisinya itu.

Namun, catatan statistik untuk para penyerang kadang melupakan hal penting lain sehingga tak bisa dijadikan patokan mutlak. Statistik tak bisa digunakan untuk menilai baik tidaknya keputusan yang diambil. Statistik juga tak bisa melihat cara seseorang membuka ruang yang berujung peluang. Statistik juga kadang abai terhadap kecerdasan, kerja keras, dan kengototan seorang pemain di lapangan. Mandzukic sendiri memang bukan penyerang yang tajam, tapi hal-hal yang terlupa seperti inilah acapkali menjadi keunggulan utama dirinya.

Saat menghadapi Inggris saja, misalnya, Mandzukic hampir selalu membuat keputusan yang tepat. Ia tahu kapan harus tetap berdiri di kotak penalti, kapan harus bergerak menuju sisi-sisi sayap, kapan harus berlari pelan atau sprint, kapan harus melakukan umpan. Ia juga tahu kapan harus melepaskan tembakan atau sekadar menempel ketat lawan.

Hasilnya kemudian positif. Di laga itu, ia berhasil membuat satu peluang serta tiga tembakan yang tiga-tiganya mengarah ke gawang dan salah satunya menjadi gol kemenangan.

Keterlibatan defensifnya pun, kendati tak tercatat dalam statisik, terbilang tinggi. Dalam pengamatan saya, Mandzukic setidaknya dua kali menekan ketat lawan (sekali John Stones dan sekali Kyle Walker) yang memudahkan rekannya untuk merebut bola.

Soal keterlibatan dalam hal defensif ini juga menunjukkan kelebihan lain yang dimiliki Mandzukic. Hal itu adalah kengototan dan caranya memanfaatkan fisik. Pada tiap momen pemain lawan, terutama yang berada di area pertahanan, menguasai bola, Mandzukic akan berlari sekuat tenaga melakukan pressing untuk merebut bola atau setidaknya tak bisa nyaman melakukan operan. Bahkan pada saat-saat tertentu, ia tak segan untuk bertindak agak kasar. Dan ehem… John Stones dan Kyle Walker tahu benar mengenai hal ini.

Pelatih Juventus Massimiliano Allegri pernah secara khusus memberi pujian mengenai kengototan Mandzukic. Ia menyebut kemampuan seperti itu amat berguna bagi tim dalam banyak hal. Lebih-lebih, Mandzukic punya atribut fisik yang amat mendukung.

Masih menurut Allegri, Mandzukic juga punya pemahaman taktik yang baik dan karena itu ia bisa dimainkan di mana saja. “Kecuali kiper,” kata Allegri berseloroh. Makanya tatkala Gonzalo Giguain datang, dalam skema 4-2-3-1 atau 4-3-3 Juventus, Mandzukic lebih sering dimainkan di pos penyerang sayap. Tentu, jumlah golnya yang memang tipis menjadi semakin menipis karena peran baru ini. Tapi Allegri menilai bahwa kontribusi Mandzukic tak bisa dilihat dari jumlah golnya, bahkan ketika ia dimainkan sebagai penyerang tengah.

“Mandzukic punya peran krusial dalam tim, terutama untuk urusan fisik. Baik itu ketika menyerang maupun bertahan,” tutur Allegri. “Ketika kami dalam situasi tertekan, kami sangat bergantung padanya hingga level tertentu. Mandzukic adalah pemain yang sangat penting untuk tim ini.”

Sementara itu, dalam skema permainan Kroasia, entah itu 4-1-4-1 atau 4-2-3-1, Mandzukic dimainkan kembali pada posisi aslinya: penyerang tengah. Walau demikian, ia tidak stagnan di posisi tersebut. Dalam banyak kesempatan, ia bermain melebar ke sisi kiri, bertukar tempat dengan Perisic atau Ante Rebic.

Tiap kali menyerang, cara ini terbilang positif. Saat Mandzukic melebar, entah itu dengan menguasai bola atau tidak, akan ada ruang kosong di kotak penalti yang kadang diisi oleh si penyerang lubang, Kramaric, atau Modric dan Rakitic yang sesekali maju ke depan. Satu gol yang dihasilkan Kramaric kala bersua Rusia adalah bukti sahih dampak dari pergerakan Mandzukic.

Kemampuan Mandzukic bermain melebar ini sendiri menjadi salah satu kunci kesuksesan taktik Zlatko Dalic yang selama gelaran Piala Dunia 2018 dikenal begitu adaptif.

Final Ketiga

Seperti yang disinggung sekilas pada bagian-bagian awal, Mario Mandzukic sudah pernah merasakan atmosfer babak final pada ajang bergengsi saat membela Bayern Munchen dan Juventus.  Dan, di keduanya ia berhasil mencetak gol. Bedanya, satu berujung kemenangan, satunya lagi adalah kekalahan.

Menarik melihat apakah di final ketiganya ini, yang kali ini bersama Kroasia, Mandzukic bisa kembali mencetak gol dan apakah hasilnya nanti adalah kemenangan atau justru kekalahan.

Apapun itu, besar kemungkinan Mandzukic kembali dilupakan. Apalagi sejauh ini performa dua rekan setimnya, Luka Modric dan Ivan Rakitic, terlihat lebih mengesankan.

Comments