Kontradiksi Performa Paul Pogba di Man United dengan Timnas Prancis dan Apa Solusinya

Highlights – FC Augsburg vs VFB Stuttgart

Arief Hadi Arief Hadi

Bersama timnas Prancis, Paul Pogba tampil brilian. Mengapa tidak demikian di Manchester United?

“Saya harap dia memahami mengapa dia sangat bagus. Itulah poin dari level performa dan kontribusinya kepada tim pemenang: untuk memahami mengapa dia begitu bagus, khususnya di paruh kedua kompetisi, di mana dia bermain dengan sangat brilian.”

Jose Mourinho berbicara dengan tenang dan tegas mengenai Paul Pogba, meski faktanya, dia sosok yang cukup frustrasi dengan inkonsistensi bermain Pogba musim lalu di Manchester United. Kedua sosok itu juga sempat dikabarkan berdebat karena perbedaan pendapat soal posisi bermain.

Pogba menebus penampilan buruknya dengan Man United melalui titel yang didambakan seluruh pemain: trofi Piala Dunia. Perlahan tapi pasti, timnas Prancis terus menapaki tangga satu demi satu mencapai final dan meraih kemenangan 4-2 melawan Kroasia.

Prancis dikapteni oleh Hugo Lloris, namun, di dalam ruang ganti pemain, Pogba lah yang menjadi pemimpin sesungguhnya bagi Prancis. Baik itu dengan karakternya yang supel atau kualitas bermainnya saat bertanding.

“Saya bisa memberitahu Anda bahwa Paul Pogba, saya tidak tahu bagaimana caranya dan datang darimana, dia tiba-tiba menjadi seorang pemimpin. Dia telah membuktikannya kepada kami, menunjukkannya. Dia salah satu pemain yang menunjukkan jalan dan orang terkuat di timnas Prancis,” ucap rekan setim Pogba di Prancis, Adil Rami.

Perubahan Pogba terjadi secara signifikan dari selang waktu musim 2017/18 berakhir dengan Man United, dengan penampilan gemilangnya di Piala Dunia. Evolusi semacam itu tidak mungkin terjadi cepat jika Pogba tak memiliki karakter dan kualitas bermain yang membuatnya jadi gelandang termahal dunia.

Itulah maksud ucapan Mourinho ketika berkata “Pogba harus memahami mengapa dia sangat bagus.” Dalam ucapannya itu mengandung makna dan harapan darinya serta fans Man United, agar Pogba menampilkan kemampuan terbaiknya di klub seperti saat dia bermain dengan Prancis.

Tumpuan saat situasi sulit dihadapkan kepada Man United dalam sebuah pertandingan, ketika lawan lebih unggul, serta menjadi pembeda dalam kondisi tersebut. Itulah harapan fans Man United kepada pemain berusia 25 tahun.

Kontradiksi penampilan Pogba di Prancis dengan Man United itu sebetulnya unik. Jika Anda melihatnya dari ruang lingkup luas dengan perbandingan kedua pelatih, Mourinho dan Didier Deschamps. Keduanya sama-sama punya pemikiran pragmatis dengan pendekatan konservatif terhadap gaya bermain sepak bola yang cenderung hati-hati, menitikberatkan kepada pertahanan yang kuat.

Bohong rasanya jika berkata Prancis penilik permainan terbaik di Piala Dunia 2018, karena faktanya, Les Bleus meraih titel Piala Dunia kedua mereka dengan permainan yang efisien kala mengonversi peluang menjadi gol. Pun demikian Man United di era Mourinho.

Jadi, logikanya seperti ini: jika kedua pelatih punya pola pikir yang sama, seharusnya Pogba juga bisa bermain sama baiknya di Man United seperti saat membela Prancis. Benar, logika seperti itu tidak salah.

Akan tapi, Pogba tampil lebih ‘lepas’ ketika dia bermain untuk Prancis ketimbang Man United. Dia selalu menempatkan posisi bermain dengan tepat saat beradaptasi dengan lawan-lawan yang dihadapinya.

Melawan Australia, Pogba tidak terlihat meyakinkan tapi tetap berpengaruh dengan hasil akhir Prancis (menang 2-1). Berlanjut ke fase gugur, penampilan Pogba semakin berpengaruh untuk Prancis.

Dia jadi pengatur serangan saat melawan Argentina, lalu membantu tim mengontrol tempo bermain kala menghadapi Uruguay, dan membantu tim melapis lini belakang ketika melawan Belgia. Kontra Kroasia di final, Pogba mampu mengungguli duo maestro, Ivan Rakitic dan Luka Modric, dengan permainan yang efektif.

Semua hal itu tidak terlihat ketika Pogba bermain dengan Man United. Padahal, Mourinho sempat mengubah taktik 4-2-3-1 menjadi 4-3-3 demi dapat memaksimalkan potensi Pogba ketika membantu serangan, dengan menempatkan dua gelandang untuk memudahkan kinerjanya ketika bertahan.

Sekedar perbandingan singkat dari segi statistik. Dengan hanya mengemas 539 menit pertandingan dari enam laga bersama Prancis, Pogba sudah melakukan 2,2 poin tekel, 0,2 blok bola, dengan rating 7,49 (dari maksimal 10). Bandingkan statistik itu dengan 2151 menit penampilannya bersama Man United: 1,2 poin tekel dan tidak pernah sekalipun memblok bola.

Itu baru dari segi kontribusi Pogba saat membantu tim bertahan. Belum lagi ketika dia menjadi titik poin transisi bermain dari bertahan ke penyerangan. Pogba diberi rating 7,49 oleh Whoscored dengan statistik: 1,5 operan kunci, operan rata-rata 51,3, akurasi operan 80,2 persen, 5,8 operan bola lambung, dan 0,5 operan terobosan.

Statistik saat melakukan transisi itu hanya bisa diimbangi dengan 10 assists Pogba di Premier League. Patut digarisbawahi, statistik Pogba di Prancis itu bisa mengimbangi panjangnya musim Man United dengan hanya enam penampilan dalam kurun waktu sebulan Piala Dunia.

Jadi, memang aneh rasanya jika melihat perbedaan performa Pogba di Man United dengan Prancis, ketika gaya bermain kedua tim serta pemikiran kedua pelatih sama. Teori pun muncul “Apakah Pogba lebih nyaman bermain dengan Prancis ketimbang Man United?” Mungkin saja.

Kenyamanan bermain bisa memengaruhi penampilan pemain. Jika benar Pogba tidak nyaman di Man United, apa yang membuatnya tidak nyaman? Instruksi atau beban berlebihan dari Mourinho? Atau memang tekanan media serta banderolnya sebesar 89 juta poundsterling yang membebaninya? Semua jawaban itu hanya Pogba yang tahu.

Dab Pogba merepresentasikan kesenangan dan euforia kemenangannya dengan Prancis. Dia melakukannya bersama keluarganya dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan rekan setimnya di hadapan media. Senyumannya tampak ikhlas terpancar dari wajahnya.

Segala kesenangan itu tentu saja diinginkan fans berlanjut dengan Man United. Mereka tidak mau kebahagiaan Pogba, yang notabene produk akademi klub, sirna dengan Man United dan kemudian pergi untuk kedua kalinya.

Tenang, tidak perlu panik, fans Man United. Dengan asumsi dia tidak hengkang di musim panas ini, Man United masih bisa mengeluarkan kemampuan terbaik Pogba dan juga sebaliknya, Pogba memberikan segalanya untuk klub. Caranya dengan berkaca kepada penampilan Pogba di Piala Dunia

Faktor Kehadiran Fred

Salah satu alasan Mourinho mendatangkan Fred seharga 52 juta poundsterling dari Shakhtar Donetsk barangkali untuk memaksimalkan potensi Pogba. Dia bisa menjadi Blaise Matuidi-nya Prancis di Man United, sementara Nemanja Matic menjadi N’Golo Kante.

Keduanya akan meringankan beban Pogba ketika membantu tim dalam fase bertahan. Matic punya tugas khusus melapis lini belakang, sementara Fred lebih sebagai gelandang enerjik box to box yang membantu tim bertahan dan juga menyerang, sementara Pogba bisa lebih dibebaskan membantu serangan dengan sedikit tugas bertahan.

Marcus Rashford atau Jesse Lingard bisa jadi Kylian Mbappe dengan kecepatan yang mereka miliki untuk melewati lini belakang, khususnya ketika menerima bola operan terobosan Pogba yang biasa melakukannya ketika melakukan transisi permainan.

Jika ingin memainkan bola lambung, ada juga Romelu Lukaku yang bisa jadi target man sempurna seperti Olivier Giroud di Prancis. Bahkan, Lukaku lebih lengkap dengan kemampuannya mendribel bola. Jadi secara taktikal, Pogba seharusnya bisa mengulang performa yang sama dari Prancis ke level klub dengan Man United.

Kebebasan Bermain

Menurut Luke Edwards, penulis The Telegraph, dalam artikelnya tentang Pogba, dia berkata bahwa Pogba seharusnya mengendarai ‘kereta’ ketimbang hanya duduk sebagai penumpang.

Arti dari ucapannya bisa diartikan: sudah saatnya Pogba menjadi pemimpin di Man United seperti halnya di Prancis. Ban kapten boleh saja dimiliki Antonio Valencia, namun, Pogba bisa jadi pemimpin sesungguhnya bagi Man United.

Caranya mudah. Mourinho harus membebaskan Pogba dari belenggu ‘keharusan’ untuk membantu tim bertahan dan memberinya peran bebas. Cara ini cukup efektif diterapkan. Toh, Pogba bukanlah Mesut Ozil (yang banyak dikritik karena malas membantu pertahanan tim) yang akan tinggal diam saja melihat timnya diserang lawan.

Dalam beberapa kesempatan, Pogba tentu tahu kapan momen untuk bertahan dan melakukan transisi permainan. Sekedar catatan tambahan: dinamika bermain, visi melalui operan akurat, serta insting mencetak gol, merupakan beberapa kelebihan bermain Pogba jika dia diizinkan banyak membantu serangan.

Apabila hal itu terjadi, maka Pogba bisa menjadi jantung permainan Man United dengan komandonya dari lini kedua. Jika dia sudah nyaman bermain, fans akan melihat kembali permainan hebat Pogba yang diperlihatkannya di Juventus dan timnas Prancis.

Comments