Seandainya Lionel Messi Juga Pindah ke Serie A

Who is the Bundesliga’s “Mr. 100%” from the penalty spot?

BM Zakky BM Zakky

Setelah Cristiano Ronaldo ke Juventus, Lionel Messi pun akan menyusul ke Serie A? Hmmm…

Pada urusan membanding- bandingkan, tiap orang memang punya preferensinya tersendiri. Sialnya, kegiatan membuat perbandingan ini seakan sudah menjadi tabiat tersendiri manusia dalam segala hal termasuk dalam sepakbola. Pemain A dengan pemain B, klub A dengan klub B, bahkan gelar juara A dengan gelar juara B. Semuanya akan (bisa) menjadi bahan perbandingan.

Kepindahan Cristiano Ronaldo dari Real Madrid menuju Juventus pasca pagelaran Piala Dunia 2018 kemarin memang cukup menghebohkan banyak pihak. Ronaldo sendiri memang sudah cukup berumur, namun keberanian Juventus untuk merogoh kocek dalam-dalam untuk pemain bintang berumur 33 tahun tersebut ternyata berimbas besar terhadap peningkatan citra klub dan citra kompetisi Serie A. Pemasukan dari merchandise dan jersey? Tentu saja besar. Itu sih tidak perlu dijelaskan lagi. Bahkan klub lain pun kecipratan untuk mendongkrak harga tiketnya saat bersua Juventus di musim mendatang.

Pasca segala start yang gemilang itu, membanding-bandingkan akhirnya dimulai. Rivalitas CR7 dan Lionel Messi yang tiada habisnya menjadi topik kali ini. CR7 selalu dianggap unggul karena bisa membuktikan kehebatannya di berbagai klub dan tim nasionalnya. Bagi banyak orang, Messi harus tetap menjadi pesaing CR7 dan Italia menjadi destinasi tepat untuk memelihara rivalitas dan kegiatan ‘banding-membandingkan’ tersebut.

Sampai saat ini saja, setidaknya dua kali pihak klub dari Serie A Italia menyebut-nyebut nama Messi. Pertama saat presiden AS Roma, Jim Pallotta dalam kasus silang-sengkarut transfer Malcom dari Bordeaux yang melibatkan AS Roma dan Barcelona. Dan yang kedua, saat CEO Pirelli (yang juga sponsor Inter Milan), Marco Tronchetti yang mengatakan sekali tentang Messi dan harapannya tentang rencana transfer Inter Milan.

Sebetulnya, ide tentang Messi untuk hengkang ke Italia jelas bukan ide yang buruk bagi kariernya dan  juga bagi para penggemar Serie A. Pihak yang merasa buruk tentu saja Barca selaku klub yang dibela Messi dan juga pihak La Liga yang terangkat pamornya dalam satu dekade terakhir oleh Messi dan juga CR7.

Pertama, hengkangnya Messi jelas menutup mulut para pengritiknya yang menganggap pria Argentina tersebut enggan mencari tantangan di luar Barcelona. Kritik dan anggapan tersebut memang biasa saja, namun sialnya tersebar sangat masif dan seperti menjadi konsensus tersendiri bagi para penggemar sepakbola. Banyak sekali pemain yang bermain untuk satu klub (one man club) dan dihargai banyak orang, namun hal tersebut tak berlaku untuk Messi. Oleh karena itu jika memang benar hengkang ke Italia, Messi seakan-akan bilang kepada pengritiknya; ‘shut up y’all, here i come’.

Ronaldo sendiri dikabarkan memiliki kontrak selama empat tahun di Juventus, maka setidaknya Messi harus pindah musim depan atau dua musim mendatang ke Italia agar meneruskan persaingan rivalitas ini. Masih ada satu dan dua tahun ke depan untuk beberapa klub Italia mencari pemasukan ataupun sokongan sponsor agar berani membayar pelepasan sekitar 700 juta dari klausul kontrak Messi yang telah diberikan oleh Barca sebelumnya.

Baik Inter, Roma, atau Milan misalnya, semuanya berpeluang memboyong Messi. Namun Napoli tampak menjanjikan sebagai destinasi Messi jika hengkang ke Italia. Mudahnnya, ia secara tidak langsung dihadapi tantangan untuk meneruskan bahkan melewati cacatan sang legenda Diego Armando Maradona, yang juga mantan pelatihnya di timnas, saat berseragam biru langit di Napoli. Bukan rahasia lagi jika Maradona memang sangat dipuja oleh publik kota Naples tersebut.

Nomer punggung 10, secara keramat, memang sudah dipensiunkan oleh Napoli sebagai penghargaan untuk Maradona. Wajar saja, dua gelar Serie A, satu Coppa Italia, Supercopa dan UEFA Cup adalah perstasi besar bagi Maradona untuk Napoli ditengah kedigdayan AC Milan dan Juventus saat itu. Jika Messi ke Napoli, bukan tak mungkin juga nomer 10 di Napoli akan aktif kembali dengan restu langsung dari sang empunya, Maradona.

Bayangkan saja Messi bisa memberikan gelar scudetto apalagi bisa mengangkat Liga Champions Eropa. Messi bisa saja sejajar dengan Maradona, bahkan menjadi ‘Tuhan yang kedua’ di sana. Kedekatan relasi antara Messi dan Maradona ini yang bisa menjadi nilai plus ketimbang Messi hengkang ke Inter, ke Milan atau ke Roma, misalnya.

Jangan lupakan juga ada satu trivia yang menarik dari kiprah Maradona di Napoli yang mungkin bisa memberikan De Javu tersendiri bagi Messi. Hal tersebut adalah bahwa Maradona menjuarai Piala Dunia 1986 dan runner-up Piala Dunia 1990 bersama Argentina saat ia berseragam Napoli. Bukan tak mungkin, cocoklogi ini akan bekerja bagi Messi jika memang harus memperkuat Napoli terlebih dahulu setelah berseragam Barcelona (Maradona pun dari Barca, langsung ke Napoli).

Siapa yang tahu, kan?

Satu hal lainnya yang cukup menggiurkan dan alasan mengapa Ronaldo pindah ke italia adalah soal pajak yang rendah ketimbang di Spanyol. Messi yang juga pernah terlilit kasus penggelapan pajak (Ronaldo juga), mungkin akan diuntungkan jika hengkang ke Italia. Ia tak perlu lagi repot bertungkus-lumus dengan masalah persidangan pajak dan ini keuntungan ini akan ia dapat jika pindah ke tim manapun di Italia; baik Inter, Napoli, Roma, Juve atau Brescia sekalipun.

Pada akhirnya, sejumlah paragraf di atas mungkin hanyalah angan-angan dan andai-andai belaka. Hengkangnya Messi dari Barca memang lebih bisa dianggap suatu hal yang mendekati kemustahilan jika dibandingkan dnegan rumor kepindahan Ronaldo yang selalu muncul dalam tiga edisi bursa transfer musim panas terakhir ini.

Toh lagipula, sebelum Piala Dunia 2018 kemarin, Messi pernah berbicara pada salah satu TV Argentina dalam acara Pasion por El Futbol, dengan pernyataan “Saya sangat jelas bahwa di Eropa, Barcelona akan menjadi satu-satunya rumah saya. Saya selalu bilang ingin bermain di Argentina (Newell’s Old Boys) suatu hari nanti. Saya tak tahu jika itu akan terjadi atau tidak namun saya punya keinginan seperti itu.”

Nah, kalau sudah seperti itu, apa boleh buat, kan? Kita nikmati saja khayalan Messi bermain untuk Napoli dan Serie A. Lagipula, memang sudah waktunya dinasti dan rivalitas Messi versus CR7 berakhir tahun ini.

Comments