Persib Bandung: Sedikit Kebobolan dengan Sistem Bertahan yang Mengkhawatirkan

BM Zakky BM Zakky

Mario Gomez sudah mengungkapkan masalah terbesar Persib Bandung saat ini, dan Zakky BM berusaha mengupas apa penyebabnya…

Sebelum menjalani tur dua pulau tiga provinsi dalam tajuk tiga laga tandang dalam rentang waktu dua pekan, Persib Bandung adalah salah satu klub yang irit dalam menjebol gawang lawan dan juga cukup jarang kebobolan. Penampilan konsisten Deden Natshir dan duet bek tengah  Victor Igbonefo serta Bojan Malisic adalah kunci keberhasilan Maung Bandung dalam aspek ini.

Namun setelah menjalani tiga laga maha berat ini, lini belakang Persib seakan mudah sekali kedodoran. Persib harusnya bisa meraup tripoin di kandang Barito andai Ady Setiawan tak mencetak gol di menit ke 89. Persib juga hampir kehilangan poin penuh pasca gol David Da Silva di menit ke 88, namun beruntung, Persebaya tak mencetak gol lagi setelahnya di masa perpanjangan waktu. Sedangkan yang terbaru, Persib bisa saja menang dengan skor 1-2 atas PS Tira (bukan berakhir 2-3) jika tak ada penalti Manahati Lestusen di menit ke 90 kemarin. Beruntung Joni Baumann dilanggar dan Persib pun mendapat hadiah penalti setelahnya.

Permasalah ini sebetulnya tersibak setelah menjalani tiga laga tandang beruntun ini saja. Jauh sebelumnya, Persib pernah kecolongan di menit akhir saat partai perdana Liga 1 musim 2018 melawan PS Tira, kemudian saat tandang ke markas Arema beberapa waktu lalu dan bermain buruk di babak kedua saat bertandang ke markas Sriwijaya FC di Palembang. Padahal saat itu Persib unggul 0-1 terlebih dahulu sebelum hancur 3-1 di babak kedua.

Praktis hanya sang juara bertahan Persija (kalah 1-0) dan Madura United (kalah 2-1) yang bisa dikatakan Persib tertinggal lebih awal dan tak mampu mengejarnya. Saat melawan Bhayangkara FC pun kalah tipis 1-0 berkat gol bunuh diri Jonathan Bauman di awal-awal babak kedua.

Menilik statistik, Persib jelas baik-baik saja. Setidaknya sampai saat ini Maung Bandung merupakan tim yang paling sedikit kedua dalam urusan kebobolan (18 gol) di bawah Perseru (17 gol). Namun bagi mereka yang memperhatikan setiap kali Persib bermain, sebetulnya ada celah yang menganga terutama dalam urusan penurunan konsentrasi di babak kedua. Bahkan sebetulnya, jika dua lawan sebelumnya (Persebaya dan PS Tira) jauh lebih klinis, Persib mungkin saja kebobolan lebih cepat di babak pertama.

“Kita banyak membuat gol. Tapi, kita juga banyak kebobolan. Kita harus ada kemajuan. Saya butuh banyak gol dengan sedikit kebobolan,” ungkap pelatih Persib, Mario Gomez dilansir laman resmi Persib.

Masalahnya, bukan terletak dalam catatan statistik semata. Namun dalam menjaga sistem bertahan tersebut konsisten selama 90 menit penuh. Faktor keletihan dan rotasi akibat beberapa pemain absen (karena akumulasi artu dan hukuman) memang berpengaruh, akan tetapi jika alasan ini terus digunakan, maka Persib akan terus berkubang di kesalahan yang sama dengan alasan yang sama pula. Menilik beberap faktor tersebut, Gomez pun mengetahui bahwa kebobolan banyak adalah problem yang memang sedang dihadapi oleh timnya saat ini.

Salah satu posisi yang disoroti adalah penjaga gawang. Muhammad Deden Natshir selaku kiper Persib memang tak tersentuh posisinya di starter oleh sang seniornya, I Made Wirawan, kecuali ia absen bermain karena hukuman kartu. Selebihnya, Deden selalu hadir untuk membela Persib di sepanjang musim ini.

Keunggulan Deden sendiri adalah mampu membaca dengan baik sekaligus mementahkannya saat lawan berhadapan satu lawan satu dengannya. Deden lebih cocok disebut sebagai kiper yang cukup andal dalam urusan shot stopper.

Namun dalam urusan menghalau umpan silang ataupun sepak pojok, kiper-kiper Persib, baik Deden maupun Made Wirawan, (dan juga barisan pemain belakang Persib) tampaknya mempunyai penyakit yang cukup fatal dalam hal ini. Pekan pertama menjadi gambaran bagaimana Persib bermain di laga-laga selanjutnya; mengandalkan Ezechiel dalam cetak gol dan mempunyai masalah dalam antisipasi umpan silang melambung sekaligus menurunnya konsentrasi di menit-menit akhir.

Satu yang perlu diperhatikan lainnya dari dua gambar (vs PS Tira dan Barito di putaran awal) ini adalah bagimana proses terciptanya umpan ‘early cross’ yang nyaris tanpa gangguan saat melakukannya. Supardi Nasir sempat mencoba menghalau Abduh Lestaluhu meski telat sepersekian detik dan saat Douglas Packer mengirimkan umpan ‘early cross’ pada gambar di bawah ini, naris tak ada tekanan sama sekali dari para pemain Persib. Semuanya terjadi di menit-menit akhir.

Kejadian yang melibatkan Made tersebut direplikasi oleh Deden saat imbang di kandang Barito. Jika saat PS Tira di pekan awal yang kalah duel udara adalah Bojan Malisic, maka saat di kandang Barito, Indra Mustafa-lah yang kalah duel melawan Ady. Selain kalah duel udara, pemosisian kiper juga cukup buruk sehingga bola yang melambung tak terjangkau dan membuahkan gol untuk tim lawan di menit-menit akhir.

Kemudian saat Bauman mencetak gol bunuh diri melawan Bhayangkara misalnya, ada keraguan yang jelas saat Deden akan menangkap bola sampai akhirnya bola mengarah dan terbelokkan ke dalam gawang sendiri oleh Bauman. Satu hal lainnya yang perlu disoroti selain keragu-raguan Deden tentu adalah struktur penempatan pemain di tiang jauh Persib saat melakukan tendangan penjuru.

Hal yang sama kembali terulang saat kalah oleh Persija di stadion PTIK, Jakarta. Deden ragu saat berduel melawan Simic dan akhirnya bola pun terlepas sampai akhirnya dilesakkan oleh Jaimerson lewat sepakan guntingnya. Beberapa saat sebelum Jaime memungut second ball tersebut, ia sempat menatap tiang jauh Persib memang tak terkawal oleh pemain bertahan lawan.

Struktur bertahan saat sepak pojok lawan, hingga pengambilan keputusan kiper memang harus ditingkatkan oleh Persib selain konsisten dalam memberikan tekanan (pressing) bagi lawan di menit-menit akhir. Barisan bek-bek tengah Persib, baik Malisic, Victor, Indra, Sabil atau bahkan Wildansyah (yang sudah dipinjamkan ke Borneo FC) ini pernah melakukan kesalahan fatal yang berakibat kehilangan poin bagi Persib.  Evaluasi lini belakang atau bahkan mendatangkan pemain baru bisa jadi solusi sebelum jendela transfer paruh musim ditutup.

Perihal kiper, mungkin Persib harus mencari pelatih kiper tambahan untuk melath variasi-variasi baru dalam latihan untuk Deden dan Made itu sendiri.  Selain itu pelatih kiper juga bisa berfungsi sebagai pengarah kkhusus dalam urusan membendung sepak pojok lawan. Barcelona di era Luis Enrique (2014-2017 silam), memiliki asisten pelatih yang juga pelatih kiper jempolan dalam diri Carlos Unzue, yang juga bertugas untuk meningkatkan kemampuan pemosisian pemain dalam menghadapi sepak pojok lawan.

Kini Persib memang berada di puncak klasemen sementara dengan catatan-catatan statistik yang begitu menyenangkan bagi para pendukungnya. Namun ini adalah kompetisi sepakbola Indonesia yang memungkinkan tim lini tengah secara ajaib bisa merangsek ke atas karena perbedaan poin yang tipis sekaligus kualitas tim yang cukup merata. Oleh karena itu, ketimbang terus-menerus menabur garam di atas luka dan mengulang blunder-blunder sebelumnya, lebih baik coach Mario gomez berpikir keras agar timnya tak kebobolan banyak lagi di laga-laga sisa musim 2018 ini.

Comments