Mereka yang Pernah Cedera Saat Membela Timnas Indonesia

Masih ingat dengan insiden yang menimpa Anthony Sinisuka Ginting di Asian Games beberapa hari lalu?

Saat itu, setelah pontang-panting selama dua set dan berhasil memenangi salah satunya, ia terpaksa menyerah dari Shi Yu Qi, pebulutangkis asal China di set ketiga atau set penentuan lantaran mengalami cedera pada kaki sebelah kanan. Cedera itu ia dapat pada pengujung laga saat kedudukan imbang 19-19. Ia sudah coba memaksakan diri untuk melanjutkan pertandingan dengan semangat dan sisa-sisa tenaga yang dimiliki. Tapi saat kedudukan 20-20, Ginting mulai kesulitan bergerak dan pada akhirnya terpaksa menyerah.

Nah, di sepakbola, ada sejumlah pemain yang juga mengalami cedera saat membela nama Indonesia seperti Ginting. FourFourTwo mengulas beberapa di antaranya.

Kurnia Sandy

Setelah gawang mereka bobol oleh tendangan salto spektakuler Widodo Cahyono Putro pada salah satu laga Piala Asia 1996, para pemain Kuwait langsung meningkatkan intensitas serangan ke gawang Indonesia. Namun, mereka kesulitan, sebab penjaga gawang Indonesia saat itu, Kurnia Sandy, tampil begitu apik. Mereka bahkan justru kebobolan lagi lewat gol Ronny Wabia di pengujung babak pertama.

Selepas gol itu, intensitas serangan Kuwait semakin meningkat. Namun, performa Sandy lagi-lagi menggagalkan berbagai usaha tersebut. Tercatat Sandy telah mencatatkan lebih dari lima penyelamatan krusial di sepanjang babak pertama. Ini kemudian membuat para penyerang Kuwait, Hani Al-Saqer dan Jassem Al-Houwaidi, terlihat frustasi.

Namun, pada babak kedua, tepatnya pada menit ke-72, gawang Sandy akhirnya bobol juga. Pelakunya adalah Al-Saqer yang sepanjang pertandingan memang banyak mendapat peluang.

Lima menit setelahnya, terjadilah satu insiden yang membuat para pemain Kuwait bernapas lega. Kurnia Sandy, penjaga gawang yang begitu merepotkan mereka sebelumnya, mengalami cedera yang cukup parah: bertabrakan dengan seorang pemain sehingga membuat hidungnya patah. Ia pun kemudian terpaksa ditarik keluar dan digantikan oleh Hendro Kartiko. Tak lama setelah itu, Kuwait berhasil menyamakan kedudukan, dan memaksa pertandingan berakhir imbang.

Boaz Solossa

Dua kali Boaz Solossa menderita cedera saat memperkuat timnas Indonesia. Pertama saat ia ditekel Baihakki Kaizan pada laga final Piala Tiger (kini Piala AFF) 2005 dan kedua pada 2007 lalu. Khusus yang kedua, cedera itu merupakan cedera terparah yang pernah dialami Boaz dan bahkan masih menghantuinya selama beberapa tahun.

Cedera tersebut bermula saat timnas berhadapan dengan Hongkong pada laga uji tanding jelang Piala Asia. Timnas Indonesia sedang unggul 2-0 saat itu lewat gol Bambang Pamungkas (54’) dan gol bunuh diri Man Pai Tak (63’). Tatkala menggiring bola di sayap kiri pada menit ke-70, ia ditekel oleh seorang pemain Hongkong dengan cukup keras dari belakang. Seketika saja Boaz terjatuh dan meringis kesakitan. Melihat insiden itu, Firman Utina yang berada di dekat sana langsung memberi kode ke tim pelatih untuk mengganti Boaz. Ia pun digantikan.

Selepas pertandingan, Boaz diharuskan menepi untuk memulihkan cedera tersebut dan karena cukup parah, waktu pemulihannya terbilang lama sehingga ia tidak bisa mengikuti Piala Asia. Titik ini adalah titik terburuk dalam karier sepakbola Boaz. Makin parah, PSSI kala itu tidak mengurus proses penyembuhan sang pemain. Beruntung Persipura, klub yang membesarkan namanya, bersedia menanggung semua biaya pengobatan Boaz hingga sembuh.

Boaz dikabarkan enggan lagi memperkuat timnas karena kejadian yang menimpanya itu. Ia bahkan sempat dicap tidak nasionalis. Namun, kita tahu bahwa kabar tersebut tidak benar. Tiap kali mendapat panggilan timnas, Boaz selalu menyempatkan diri untuk memenuhinya. Terakhir ia memperkuat tim Merah Putih pada Piala AFF 2016 lalu.

Firmansyah

Semenjak sering mendapat kesempatan tampil oleh pelatihnya di Persikota Tangerang, nama Firmansyah mulai digaung-gaungkan sebagai salah satu bek tengah masa depan Indonesa. Maka tak heran bila ia kemudia rutin mendapat panggilan timnas pada periode 2004 hingga beberapa tahun setelahnya.

Firmansyah sendiri saat itu merupakan bagian dari peremajaan skuat timnas yang dipimpin pelatih Peter Withe. Nama-nama lain yang seangkatan dengannya adalah Mahyadi Panggabean, Firman Utina, hingga Boaz Solossa. Piala Tiger 2004 adalah turnamen pertama yang ia ikuti.

Tatkala Peter Withe diberhentikan setelah kegagalan di Piala Tiger 2007 –yang kemudian diganti oleh Ivan Kolev, Firmansyah masih sering mendapat panggilan timnas. Bahkan sebagai pilihan utama di lini pertahanan. Sialnya, saat timnas melakoni uji tanding melawan PSIS Semarang, ia mengalami cedera. Bantalan persendian kaki kanannya robek sehingga terpaksa melewatkan ajang paling prestisius di Asia pada tahun itu.

Firmansyah kemudian mesti melewati masa pemulihan selama kurang lebih setahun. Dan saat cederanya telah sembuh, penampilan Firmansyah tidak sebaik dulu lantaran adanya trauma pascacedera. Pada 2008, ia pun mengambil langkah berani dalam hidupnya: memutuskan pensiun pada usia 28 tahun dan memilih fokus kuliah.

Andik Vermansyah

Timnas Indonesia amat minim persiapan guna mengarungi turnamen Piala AFF 2016. Lebih jauh, Alfred Riedl selaku pelatih timnas saat itu hanya diperkenankan memanggil maksimal dua pemain dari tiap klub. Namun, mereka nyatanya bisa melaju jauh hingga ke babak final.

Salah satu nama yang cukup menonjol selama gelaran Piala AFF ini adalah Andik Vermansyah. Beroperasi di sayap kanan, kecepatan dan akselerasi yang biasa ia peragakan benar-benar merepotkan pertahanan lawan. Satu gol bahkan berhasil ia torehkan, yaitu saat menghadapi Singapura di fase grup. Sayangnya pada babak final leg pertama yang dilangsungkan di Stadion Pakansari, Andik mengalami cedera lantaran salah pijakan tatkala mempertahankan bola dari seorang pemain Thailand pada menit ke-10.

Setelah mendapat perawatan medis, Andik tetap memaksakan diri untuk bermain sampai kemudian pada menit 20, ia tak bisa berlari lagi. Andik ditarik keluar, Zulham Zamrun masuk menggantikan.

Usai pertandingan, dokter timnas menyatakan bahwa Andik mengalami cedera ACL. Namun, tidak terlalu parah lantaran hanya robek kecil, tidak sampai putus. Walau demikian, ia mesti beristirahat selama empat sampai enam pekan yang artinya melewatkan final leg kedua di markas Thailand.

Andritany Ardhyasa

Wajah Andritany Ardhyasa terlihat berdarah-darah. Tulang pipinya retak, dan tulang penyangga mata pemain Persija Jakarta itu mengalami pergeseran. Ini bermula saat timnas Indonesia menjalani laga PSSI Anniversary Cup 2018 melawan Uzbekistan, pada Mei lalu.

Saat itu pada menit ketiga, Andritany berbenturan cukup keras dengan penyerang lawan. Ia sempat terkapar dan mendapat penanganan yang lumayan lama di tepi lapangan, sampai kemudian ditandu dan dibawa menuju rumah sakit guna menjalani operasi lantaran cedera yang ia alami terbilang parah.

Setelah operasi, Andritany mesti menjalani pemulihan selama kurang lebih tiga bulan. Tentu saja ini banyak yang menyayangkannya. Bukan hanya karena mungkin akan menghambat karier sang kiper nantinya, tetapi juga karena dapat berpengaruh terhadap perjalanan Persija di Liga 1. Selain itu, timnas akan kehilangan kiper utama mereka selama beberapa bulan. Bahkan, ia sempat diprediksi tak bisa tampil di Asian Games 2018.

Namun, proses pemulihan Andritany ternyata berjalan lancar dan lebih cepat dari dugaan. Pada akhir Juni ia sudah bisa memperkuat Persija dan kembali bermain bagi timnas Indonesia dua bulan berselang.

Comments