5 Poin Penting dari Pertandingan Indonesia vs Mauritius

Timnas Indonesia baru saja menyelesaikan laga uji coba internasional melawan negara asal Afrika, Mauritius. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, merupakan laga internasional pertama yang melibatkan Timnas pasca partisipasi tim U-23 di Asian Games.

Tanpa kehadiran Luis Milla yang masih ada di Spanyol, serta Bima Sakti yang masih mendapat sanksi mendampingi tim dari AFC, Tim Garuda dilatih oleh Legenda Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto. Pemain-pemain di dalam skuat juga didominasi oleh para pemain U-23 yang bermain di Asian Games, serta beberapa pemain senior berpengalaman seperti: Boaz Solossa, Fachrudin Aryanto, Rizky Pora, Stefano Lilipaly.

Indonesia tampil dominan atas Mauritius dan memenangi pertandingan melawan negara yang ada di peringkat 155 FIFA dengan skor tipis 1-0. Satu-satunya gol di pertandingan tersebut dicetak oleh gelandang Selangor FA, Evan Dimas Darmono. Ia menyambar bola rebound hasil tepisan Jean-Louis Kevin, kiper Mauritius, yang menghadang sepakan Dedik Setiawan dan mengonversinya menjadi gol.

Pertandingan telah berakhir, namun dari laga tersebut, setidaknya ada lima fakta menarik yang dapat diamati. Apa saja kelima fakta menarik tersebut?

1. Filosofi Luis Milla

Satu setengah tahun lalu berlalu sejak Luis Milla ditunjuk PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) sebagai pelatih Timnas Indonesia U-23 dan senior. Dalam kurun waktu tersebut, melalui pemusatan latihan (TC) dan serangkaian laga uji coba, Milla menanamkan identitas bermain di dalam skuat Timnas Indonesia.

Permainan yang ditanamkan Milla itu bisa dilihat di Asian Games. Indonesia jago memainkan penguasaan bola, bermain ofensif dengan kombinasi serangan dari sisi sayap dan operan bola-bola pendek. Kendati urung mencapai target semifinal, Indonesia memperlihatkan perkembangan pesat di dalam permainannya hingga seluruh fans menyatukan suara: meminta Milla bertahan.

Kontrak Milla memang berakhir pasca Asian Games. Namun, PSSI juga melihat adanya perkembangan dalam permainan Timnas Indonesia dan memperpanjang kontrak mantan pemain Barcelona dan Real Madrid untuk setahun ke depan. Pondasi yang sudah dibentuknya di Indonesia diharapkan semakin berkembang dan berbuah trofi.

“Kami akan bermain dengan gaya yang tidak jauh saat Asian Games lalu. Kami akan bermain cepat dan menekan sejak menit pertama,” ucap Kurniawan sebelum pertandingan berlangsung. Kala laga berlangsung pun Indonesia memang tampil cepat dan bermain dengan intensitas tinggi.

Satu hal yang paling mencolok adalah penguasaan bola 67 Indonesia berbanding 33 persen Mauritius. Belum lagi dengan jumlah tujuh tendangan tepat sasaran berbanding tiga Mauritius. Akurasi umpan Indonesia juga mencapai 84 persen. Ini artinya: Indonesia masih mengingat baik filosofi sepak bola Milla, meski sang pelatih tidak mendampinginya saat melawan Mauritius.

2. Dedik Setiawan, Didier Drogba-nya Malang

Julukan Didier Drogba-nya Malang sudah disematkan kepada Dedik Setiawan sejak tahun lalu. Ejaan keduanya memang tidak jauh berbeda, meski faktanya permainan kedua pemain itu berbeda. Menurut mantan rekan setimnya di Arema FC, Beny Wahyudi, julukan itu menandakan bahwa Dedik pemain yang bagus seperti legenda Chelsea tersebut.

Efeknya langsung terlihat hanya dalam kurun waktu semenit saat dia bermain kontra Mauritius. Masuk menggantikan Stefano Lilipaly di menit 88, Dedik bergerak efektif menghindari jebakan offside Mauritius dan melepaskan sepakan yang ditepis Kevin, lalu bola rebound langsung disambar Evan Dimas dan berbuah gol tunggal penentu kemenangan Indonesia.

Melihat efek kilat yang diperlihatkan striker berusia 23 tahun tersebut, staf kepelatihan Indonesia bisa mempertimbangkannya untuk jadi striker utama Timnas di masa depan, khususnya untuk Piala AFF 2018 yang berlangsung November mendatang. Sudah bukan rahasia lagi, mencari striker haus gol lokal cukup sulit dilakukan saat ini.

3. Peran ‘Baru’ Rizky Pora

Salah satu raja assist di Liga 1 2018 dengan sembilan assists di Barito Putera – sejajar dengan Dedi Hartono, penyerang sayap Mitra Kukar. Ada yang menarik ketika Indonesia melawan Mauritius di Stadion Wibawa Mukti. Rizky Pora yang biasa kita semua lihat bermain sebagai penyerang sayap kiri, bermain sebagai bek kiri dalam taktik 4-2-3-1.

Posisi penyerang sayap kiri ditempati Febri Haryadi dan Rizky Pora menempati salah satu bek di antara empat bek bersama Fachrudin Aryanto, Hansamu Yama Pranata, dan Gavin Kwan Adsit. Penampilan Pora di sisi kiri pertahanan Indonesia terbilang baik: disiplin ketika bertahan dan rajin membantu serangan jika dibutuhkan.

Peran itu terlihat baru untuknya, namun usut punya usut, Pora ternyata sudah pernah memerankan posisi bek kiri sejak awal kedatangannya ke Barito Putera pada 2013 (masih bernama Indonesia Super League – ISL). Kala datang dari Persita Tangerang, Pora bermain sebagai bek kiri dan posisinya baru diubah menjadi penyerang sayap kiri oleh Salahuddin, pelatih Barito kala itu.

Kemampuan multi-fungsi Pora bermain di dua posisi berbeda itu menjadi keuntungan bagi Luis Milla. Rizky Pora bisa jadi salah satu pemain yang dibawa dalam skuat Indonesia di Piala AFF 2018.

4. Penyelesaian Akhir Masih Jadi Masalah untuk Indonesia

Indonesia sedianya menciptakan total 10 percobaan tendangan ke gawang Mauritius dan dominan dari segi penguasaan bola. Usaha mereka dalam menciptakan peluang pun sangat hebat. Serangan bertubi-tubi dilancarkan dari kedua sisi sayap, tengah permainan, hingga kedua full-backs rajin naik membantu serangan (overlap).

Bahkan pemain individu dengan teknik bermain di atas rata-rata seperti Boaz Solossa, Stefano Lilipaly, sudah berupaya maksimal bergerak mencari ruang di pertahanan Mauritius. Namun pada akhirnya, Indonesia masih terlalu sering membuang peluang ketika peluang itu seyogyanya bisa dikonversi menjadi gol.

Permasalahan Indonesia bukan cuma dari segi kesulitan menyelesaikan peluang, melainkan keputusan akhir ketika mengontrol bola di sepertiga pertahanan lawan. Masalah ini sudah kadung berlarut-larut dipertontonkan Indonesia dan sudah sewajarnya dibenahi jelang Piala AFF 2018.

5. Mauritius Hanya Mengandalkan Otot Semata

Negara berjuluk Les Dodos melakukan total enam percobaan tendangan ke gawang Indonesia: tiga tepat sasaran dan tiga lagi tak mencapai target. Akan tapi, Mauritius yang kalah penguasaan bola dari Indonesia sebenarnya tidak terlalu memberikan ancaman kepada gawang Indonesia yang dijaga Awan Setho.

Malah, permainan mereka menjurus kasar dengan total 11 kali melakukan tekel dan 12 kali melanggar lawan. Empat pelanggaran yang mereka lakukan juga berbuah empat kartu kuning. Mauritius mengandalkan fisik untuk mengimbangi kelincahan bermain Indonesia, mereka juga cenderung bertahan dan mengandalkan serangan balik.

“Indonesia memang layak untuk menang, Kita sudah menahan gempuran Indonesia, kita sudah bermain dengan baik. Tapi, kita mengalami kesalahan. Sehingga kebobolan di menit akhir,” ucap Francisco Filho, pelatih timnas Mauritius. Melihat ucapannya tersebut, bisa dipahami juga bahwa Mauritius memang sudah ingin mengamankan hasil imbang saat melawan Indonesia.

Foto: akun Twitter resmi PSSI

Comments