Menilik Transformasi Peran Lionel Messi: Jenius Sepakbola di Era Milenial

‘We don’t want Schalke relegated’ – Favre and Zorc on special Dortmund derby

Mengenakan nomor punggung 30, baju gombrong yang dimasukkan ke dalam celana, seorang anak muda bernama Lionel Messi berlari mendekati area kanan serangan Barcelona. Sang pelatih, Frank Rijkaard menginstruksikannya bermain sebagai penyerang sayap kanan, kendati sebelumnya ia beroperasi sebagai penyerang sayap kiri di Barcelona B.

Sentuhan pertamanya tidak meyakinkan. Dia belum “panas” di satu-dua menit pertama, sampai pemuda ini menarik perhatian publik melalui aksinya mendribel bola melewati satu pemain Espanyol, lalu mendribelnya melalui dua pemain Espanyol lainnya dan memberikannya kepada rekan setim.

Aksinya itu menjadi satu-satunya momen dari pemain yang nantinya dipanggil La Pulga. Ya, dia adalah Lionel Messi. Delapan menit bermain di laga debut dalam kemenangan 1-0 Barca, merupakan awal mula perjalanan karier Messi. Dia menjadi pemain termuda kedua Barca setelah Paulino Alcantara yang memulai debut, pada usia 17 tahun, tiga bulan dan 22 hari. Kenangan yang terjadi selama 14 tahun itu akan selalu dikenangnya dengan baik: “Saya akan selalu mengingat kenangan 10 menit ini sepanjang hidup saya.”

Sedekade lebih berlalu semenjak debutnya itu, reputasi Messi bukan lagi mengenai pemain muda yang bertalenta, melainkan salah satu pemain terbaik dunia dengan goresan tinta emas dalam sejarah sepak bola Eropa. Messi sudah meraih segala penghargaan individu dan trofi besar – hanya trofi besar bersama Timnas Argentina yang belum dirasakannya.

Rekor demi rekor juga terus dipecahkannya. Ketajamannya yang terus terjaga itu sungguh hebat, apalagi jika mengingat perannya yang sudah mengalami evolusi dari gelandang serang, penyerang sayap kiri, kanan, hingga kini menjadi playmaker dengan peran bebas. Messi bisa disebut sebagai pesepakbola jenius di era milenial, modern ini.

Comments