Son Heung-min, Pemain Terbaik di Asia Tahun 2018

Oleh: John Duerden

Bintang dari Tottenham Hotspur dan Korea Selatan, Son Heung-min telah dinobatkan sebagai pemain terbaik di Asia 2018 untuk ketiga kalinya sepanjang sejarah. Anda tidak perlu menjadi penggemar sepakbola Asia untuk menikmati salah satu penampilan sepakbola terbaik tahun 2018.

Saat itu tanggal 27 Juni di kota Kazan yang indah di Rusia, dan para penggemar berbondong-bondong untuk melihat juara dunia 2014, Jerman melawan Korea Selatan dan semuanya berharap wakil Eropa ini menang dan memastikan tempat mereka di babak sistem gugur.

Bahkan pelatih Korea Selatan saat itu, Shin Tae-yong hanya memberi timnya peluang menang satu persen saat itu. Setelah dua kekalahan dalam dua pertandingan pembuka, sedikit yang mengira skuat Taegeuk Warriors akan kembali ke Seoul dengan hanya membawa nol poin saja.

Pertandingan berakhir dengan pemandangan yang tak terlupakan dari Son Heung-min yang berlari di setengah lapangan Jerman yang benar-benar kosong di menit keenam waktu tambahan. Penyerang Tottenham ini kemudian menggulirkan bola ke gawang dari jarak dekat. Mereka di bangku cadnagan Korea Selatan langsung bersorak saat membuat skor 2-0 dan mengamankan salah satu hasil terbesar dari tim Asia di Piala Dunia 2018 kemarin.

Sudah sepantasnya bahwa Son adalah orang yang mengirim sang juara bertahan tersebut kembali ke Berlin. Inilah pemain Asia terbaik yang bersinar di panggung dunia dan saat-saat seperti inilah yang membantu pemain berusia 26 tahun itu layak memenangkan gelar “Pesepakbola Terbaik di Asia” pada 2018, keempat kalinya secara berturut-turut…

Oleh karena, itu tidak ada keraguan bahwa Son adalah nama terbesar di Asia dan ada banyak alasan mengapa kita bisa melihat dia sekali lagi tahun ini.

Pria kelahiran Chuncheon adalah salah satu pemain terbaik di benua itu dberada dalam grup neraka di Piala Dunia bersama Jerman, Swedia dan Meksiko. Dia telah mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk membawa timnya ke babak sistem gugur dengan dua gol dan banyak lagi.

Tidak lama dia kembali ke London pasca Piala Dunia, Son kemudian terbang ke Jakarta untuk mengikuti Asian Games 2018. Turnamen sepakbola yang  memungkinkan tiga pemain lebih tua dari U23 – membuat Son lebih sibuk di level Internasional dari biasanya. Satu alasan Son menuju ke Indonesia sejak awal adalah karena target medali emas yang memungkinkan dirinya bebas dari wajib militer, yang mana jatah dirinya selama 21 bulan terus semakin mendekat.

Melihat prospek juara di Asian Games 2018 yang besar, Son berani meninggalkan kompetisi Premier League secara sementara. Namun pada waktu bersamaan, ia akan menanggung banyak tekanan di pundaknya. Tak pelak, seluruh dunia menyaksikan apakah Son bisa melakukannya di Asian Games kemarin atau tidak.

Dan dia sukses melakukannya. Korea terus maju ke final dan kemudian mengalahkan saingannya Jepang untuk meraih medali emas cabang sepakbola. Striker Hwang Ui-jo mencetak tidak kurang dari sembilan gol, tetapi Son adalah titik tumpu dari serangan Korsel saat itu.

Kembali ke London untuk melanjutkan kariernya di Eropa, Son mengambil sedikit waktu untuk kembali ke alur klubnya setelah beberapa bulan terbang di seluruh dunia: ke Rusia, ke Amerika Serikat pada pra-musim, ke Indonesia dan kemudian kembali ke Korea pada beberapa kali.

Son mengakhiri tahun sebagai salah satu pemain terbaik di liga paling populer di dunia, memenangkan gol terbaik bulan November dengan serangan yang luar biasa melawan Chelsea. Saat tahun 2018 berakhir, penampilan Son di Inggris dan juga Liga Champions Eropa seperti yang dimulai untuk Korea: ia bermain dengan baik dan hanya memperkuat statusnya sebagai pemain yang sangat, sangat bagus.

Dia telah lama menjadi favorit penggemar Spurs dan dihormati oleh pendukung tim Premier League lainnya, dan pada 2018 ini Son sekali menunjukkan bahwa dia bisa bersinar di panggung terbesar juga. Gelar keempat kalinya untuk Son adalah hal yang layak dan menjadi tantangan sendiri bagi para pemain lainnya untuk memetahkan dominasi Son kali ini.

Comments