Vietnam, Kuda Hitam Baru Sepakbola Asia dari Asia Tenggara?

Jika saja Ali Adnan tidak mampu menjebol gawang Dang Van Lam lewat sepakan bebas di menit ke-90, bisa saja Vietnam meraih poin perdananya sebagai perwakilan ASEAN di turnamen ini. Sayangnya, Irak mampu unggul 3-2 dan memupus impian tersebut.

Vietnam sempat unggul dua kali dan membuat pertahanan Irak pontang-panting menghadapi Phan Van Duc dkk saat itu. Penampilah hebat Vietnam ini mengundang komentar dari pelatih Irak, Srecko Katanec pasca laga tersebut.

“Saya tidak terkejut dengan penampilan Vietnam. Kami telah menyaksikan beberapa pertandingan mereka dan mereka adalah tim yang sangat bagus. Mereka adalah anak muda dengan banyak kecepatan dan energi, dan mereka banyak berlari,” ungkapnya. “Saya memprediksikan pertandingan yang sulit, dan itu semua ternyata persis seperti apa yang saya perkirakan,” kata mantan manajer Olympiakos setelah pertandingan.

Penampilan Vietnam memang layak menuai pujian. Diantara tiga tim asal ASEAN yang berlaga di Piala Asia tahun 2019 ini, mungkin hanya Vietnam yang mampu menggebrak di laga matchday pertama kemarin. Thailand secara mengejutkan dibantai 4-1 oleh India dan Filipina bermain cukup apik saat hanya kalah 1-0 dari Korea Selatan.

Kehebatan Vietnam tentu tak turun langsung dari langit. Mereka adalah jawara Piala AFF 2018 silam, peringkat empat Asian Games 2018 bahkan menjadi finalis Piala Asia U23 awal tahun 2018 lalu. Jangan lupa juga, mereka juga adalah peserta Piala Dunia U20 pada tahun 2017 silam meski hanya mentok sampai fase grup saja.

Tidak seperti sepakbola Indonesia yang konsisten dengan inkonsistensi, bisa dikatakan, Vietnam cukup konsisten dalam berprestasi.  Negara yang sudah masuk ke Piala Asia empat kali ini (sama dengan Indonesia), bahkan pernah finis di peringkat keempat turnamen ini sebanyak dua kali pada edisi 1956 dan 1960. Namun, ya, pesertanya hanya empat tim saja. Saat itu Vietnam masih bernama South Vietnam.

Sebelum dalam periode menuju keemasan ini, Vietnam pernah dirundung skandal pada 2005 silam tentang masalah suap dan pengaturan skor di SEA Games saat itu. Pasca pembenahan, mereka akhirnya mampu juara Piala AFF untuk pertama kalinya pada 2008. Namun tak lama kemudian, federesi sepakbola mereka kembali carut marut dan banyak klub terancam gulung tikar karena masalah keuangan. Salah satu yang paling memalukan adalah kasus Nguyen Duc Kien, yang saat itu menjadi bos Federasi Sepakbola Vietnam, dijatuhi hukuman 30 tahun penjara karena menghindari pajak dan melakukan perdagangan ilegal.

Pasca carut marut ini, federasi dan kompetisi mereka berbenah. Klub-klub lokal memulai lagi membina para pemain muda dan pelatih lokal.  Menurut jurnalis Fox Sport Asia, Scott McIntyre yang sempat bermukim di Vietnam, klub-klub seperti Hoàng Anh Gia Lai FC (HAGL), Promotion Fund of Vietnamese FC (PFV) dan Hanoi FC  patut diberikan kredit khusus terhadap perkembangan sepakbola dan pembinaan mereka terhadap pemain muda Vietnam. Bahkan tiga klub inilah yang cukup rutin menjadi penyuplai pemainnya ke tim nasional senior maupun junior The Golden Stars tersebut.

“Memang telah ada konsentrasi yang sangat besar dari kami untuk pembinaan level grasroot dalam sepakbola Vietnam yang juga sejalan dengan sistem pendidikan kita dan saya terus terang berterima kasih banyak terhadap AFC untuk dukungan serta bantuan mereka untuk sepakbola kami sejauh ini,” ungkap Le Dung Hung, presiden federasi sepakbola Vietnam yang sekarang.

Manfaat akademi dan pembinaan pemain muda ini dirasakan betul oleh salah satu penggawa timnas, Nguyen Chong Phuong. “Akademi telah memberi kami (para pemain) pola pikir yang benar, kekuatan fisik, dan tekad untuk menjadi kekuatan sepakbola di wilayah (ASEAN) ini. Kita semua berharap dan percaya bahwa Vietnam akan menjadi negara sepakbola yang kuat di masa depan,” seperti yang kami kutip dari laman Esquire.

Nama-nama seperti Nguyen Cong Phuong, Nguyen Van Toan , Vu Van Thanh, Pham Duc Huy, Nguyen Phong Hong Duy, dan Luong Xuan Truong, adalah mereka yang kalah oleh angkatan Evan Dimas, Hansamu Yama dkk saat final Piala AFF U19 pada 2013 lalu. Meski kalah, bukan berarti mereka bubar begitu saja, ada kontinuitas dan perkembangan pesat yang ditunjukkan oleh mereka.

Beruntungnya, generasi 2013 yang diwakili Nguyen Cong Phuong dkk akhirnya bisa berkolaborasi dengan mantap bersama angkatan Nguyen Quang Hai, Truong Van Thai Quy, Ha Duc Chinh, Doan Van Hau, dan Bui Tien Dung yang berlaga di Piala Asia U19 2016 sekaligus Piala Dunia U20 pada 2017 lalu. Kombinasi ini juga berlanjut saat berhasil menjadi empat besar di Asian Games 2018 ditambah trio senior Nguyen Van Quyet, Do Dung Hung dan Nguyen Anh Duc. Skuat Asian Games 2018 juga menjadi pilar saat Vietnam menjuarai Piala AFF keduanya, tahun 2018 kemarin.

Pembinaan berkesinambungan ini juga diperkuat dengan kualitas pelatih mereka, Park Hang-seo. Mantan asisten pelatih Guus Hiddink di Korea Selatan pada Piala Dunia 2002 silam ini melihat secara realistis kemampuan anak asuhnya di lapangan. Ia lebih memilih bermain cepat, efektif, melakukan serangan balik dengan basis formasi 5-3-2 ataupun 5-4-1. Hasilnya pun sudah terbukti sejauh ini.

“Para pemain Vietnam memiliki poin kuat dan teknik mereka sendiri untuk mengimbangi kelemahan dan keunggulan mereka. Biasanya, pemain yang (berbadan) kecil lebih cepat. Pemain Vietnam ini pintar, mereka dapat dengan mudah memahami instruksi saya dan beradaptasi dengan sangat cepat,” ungkap sang pelatih pasca menjadi runner-up Piala Asia U23 silam.

Sepanjang pagelaran Piala Asia U23 silam, anak asuh Park Hang-seo ini tak pernah menguasai bola lebih dari 50% (setengahnya) sepanjang laga. Paling tinggi hanya saat melawan Iraq di babak perempat final, mereka kuasai 46% penguasaan bola. Sisanya, mereka hanya menguasai 28% penguasaan bola saat melawan Korea Selatan di fase grup, kemudian 24% saat meladeni Australia,  lalu 41% saat melawan Suriah dan 36% saat melawan Qatar di semifinal.

Maju ke pagelaran Piala AFF 2018 saat mereka juara, Vietnam hanya dua kali menguasai bola secara telak yaitu saat berhadapan dengan Laos (80%) dan melawan Kamboja (62%). Sisanya, mereka selalu kalah penguasaan bola, namun sedikit kebobolan dan tak pernah terkalahkan. Catatan mereka saat itu antara lain; vs Malaysia (fase grup, 31%), vs Myanmar (fase grup, 47%), vs Filipina (dua leg semifinal, 45%), vs Malaysia (dua leg final, 41%  dan 42%). Paling terbaru, kemarin saat melawan Irak, mereka hanya menguasai 43% penguasaan bola saja saat itu.

Betul, statistik penguasaan bola memang tak berpengaruh apapun, namun setidaknya ini bisa menjadi salah satu indikator bahwa Vietnam lebih memilih bermain rapat, efektif dan bergerak tanpa bola untuk memenangkan pertandingan sekaligus menjuarai sebuah turnamen. Instrospeksi serta mawas diri adalah kunci keberhasilan mereka saat ini.

Nah, Indonesia kapan hendak menyusul Vietnam yang sudah jauh berlari di level Asia? Atau bapak dan ibu PSSI yang terhormat, masih bebal saja dalam mengurus bal-balan negeri ini? Halah.

Comments