FITUR: Era Baru Sektor Sayap FC Bayern Munich

Nama Arjen Robben dan Franck Ribery begitu melegenda di FC Bayern Munich. Keduanya bermain bersama selama hampir satu dekade, dan meraih banyak gelar juara. Musim lalu menjadi terakhir bagi kebersamaan duet yang dikenal sebagai “Robbery” tersebut. Kini, FC Bayern Munich bersiap untuk era baru di sektor sayap mereka.

29 Agustus 2009, adalah ketika Robben dan Ribery memainkan pertandingan pertama mereka bersama untuk Bayern, dengan Ribery memberikan asis dua kali untuk Robben dalam kemenangan 3-0 atas Wolfsburg. Itu menjadi awal hebat dari kemitraan yang luar biasa diantara keduanya.

“Saya tidak bisa mengimbangi (kecepatan) mereka,” ujar penyerang Mario Gomez selepas laga melawan Wolfsburg.

Olic: Bayern need more signings to win 8th consecutive Bundesliga title

Ribery tiba di Bayern lebih dulu. Ia didatangkan pada musim panas tahun 2007 dan memecahkan rekor transfer klub saat itu. Ribery sudah menarik perhatian lingkup global setelah bermain untuk Prancis di Piala Dunia 2006. Ribery mendapatkan tawaran dari tim-tim besar Eropa, namun ia kemudian memilih untuk berlabuh di FC Bayern Munich.

Sementara Robben bergabung dua musim kemudian setelah memenangkan gelar di Chelsea dan Real Madrid. Robben tiba di saat yang tepat setelah permainan Ribery terus membaik. Keduanya bertemu di saat yang tepat, dan menjadi salah satu duo terbaik sepanjang sejarah sepakbola.

Duet Robbery sudah memenangkan semuanya untuk FC Bayern Munich. Mulai dari menjuarai Bundesliga secara beruntun dalam enam musim, hingga mengangkat trofi Liga Champions pada tahun 2013. Mereka berdua adalah legenda. Ketiadaan keduanya tentu merupakan kehilangan besar. Akan tetapi, FC Bayern bersiap memulai era baru bersama para pengganti.

Potensi Ledakan Serge Gnarby dan Kingsley Coman

Diantara semua penggawa tim berjuluk FC Hollywood tentu dua nama segar, Serge Gnabry dan Kingsley Coman adalah sosok yang paling sesuai untuk melanjutkan trah Robben dan Ribery di sektor sayap FC Bayern Munich.

Gnabry merupakan pemain yang talentanya sudah dikenal sejak masih belia. Kecepatan merupakan kekuatan utama dari pemain tim nasional Jerman ini. Bahkan ia sebenarnya berpeluang untuk menjadi atlet lari namun kemudian memilih untuk banting setir ke sepakbola.

Nama Gnabry mulai melejit setelah ia menembus tim utama Arsenal pada tahun 2012 di usia 17 tahun. Sempat dipinjamkan ke West Bromwich Albion, Gnabry lalu dilepas ke Werder Bremen pada musim 2016/2017. Semusim berselang FC Bayern kemudian mendaratkan Gnabry, namun ia langsung dipinjamkan lagi ke Hoffenheim.

Bundesliga musim lalu menjadi waktu di mana Gnabry benar-benar bersinar. Ia menjadi pemain penting bagi kesuksesn FC Bayern menyalip Borussia Dortmund dalam perburuan gelar juara Bundesliga. Total Gnabry bermain di 42 pertandingan dan mencetak 13 gol di semua kompetisi. Ia juga meraih penghargaan pemain terbaik klub di akhir musim.

Sementara Coman merupakan sosok yang unik. Di usianya yang masih belum mencapai 25 tahun, Coman sudah mengoleksi gelar juara di tiga negara berbeda. Ia sudah meraih piala bersama Paris Saint-Germain, Juventus, dan kini FC Bayern Munich. Secara jumlah, ia merupakan pemain termuda dengan gelar juara terbanyak, terutama untuk kompetisi liga.

Mendarat di Allianz Arena sebagai pemain pinjaman dari Juventus, Coman pada awalnya lebih banyak berperan sebagai cameo untuk duet Robbery. Ia lebih sering bermain sebagai pengganti bagi dua pemain seniornya tersebut. Namun potensi Coman, serta usia duet Robbery yang semakin senja menjadi momentum yang tepat. Semakin lama Coman tidak terhentikan dan akhirnya mendapatkan tempat di tim utama FC Bayern Munich.

Comments