Lima pemain Asia terbaik di Liga Primer Inggris

Kami melihat kemampuan pemain Asia yang berlaga untuk klub-klub Liga Primer Inggris. Di antaranya, layak disematkan sebagai pemain terbaik!

Liga Primer Inggris menjadi salah satu kompetisi yang tak ramah bagi pemain-pemain asal Asia, dibandingkan Hidetoshi Nakata yang bersinar di Serie A Italia, Shunsuke Nakamura bersama Celtic di Skotlandia, Paulino Alcantara yang namanya terpatri sebagai legenda Barcelona, atau Jerman dan Belanda yang menjadi akademi baru di Benua Eropa.

Pemain Asia yang menjajal peruntungan dataran Inggris pada gelombang pertama adalah Junichi Inamoto. Pemain asal Jepang itu direkrut Arsenal pada 2001 dari Gamba Osaka—tak lepas dari pengaruh Arsene Wenger yang pernah melatih di negara Asia Timur itu.

Perbedaan kultur membuat pemain yang saat itu berusia 22 tahun kesulitan mengikuti irama kick and rush sepak bola modern Inggris. Inamoto hanya bertahan satu tahun di Highbury, dengan dua penampilan di Piala Liga dan dua lainnya di Liga Champions. Selain itu, ia tak mencatat penampilan resmi di Liga Primer. Meski demikian, para fans Arsenal mengingat dirinya sebagai gelandang yang enerjik di lini tengah.

Inamoto boleh gagal di musim pertama, tetapi ia melanjutkan kariernya dengan cukup mentereng bersama klub-klub kelas dua Liga Primer; Fulham, West Brom, maupun Cardiff.

Fox Sports Indonesia memilih lima pemain asal Asia yang mampu tampil trengginas di Liga Primer Inggris. Beberapa di antaranya layak mendapat label “semi-legenda”.

  1. Ali Al-Habsi

Kiper asal Oman yang mengawali karier di Benua Eropanya bersama Lyn di Norwegia. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bolton Wanderers. Di musim pertama, ia tak pernah turun dalam kompetisi resmi dan nama Ali Al-Habsi sempat masuk dalam daftar pemain-pemain yang terindikasi terkait dengan korupsi di sepak bola Inggris. Selama tiga tahun berikutnya, Al-Habsi hanya menjagi penghias bangku cadangan dan pelapis Jussi Jaaskelainen. Gagal bersama Bolton, ia memutuskan menerima pinangan Wigan Athletic dengan status pinjaman. Ia mampu tampil hebat dan kontraknya dipermanenkan The Latics. Bersama Wigan, Al-Habsi bermain sebanyak 136 pertandingan selama lima tahun dan mempersembahkan sati tropi Piala FA di tahun 2013.

  1. Park Ji-sung

Dianggap sebagai pemain Asia tersukses di Liga Primer. Park Ji Sung direkrut Sir Alex Ferguson dari PSV Eindhoven pada 2005 lalu. Ia adalah bagian dari skuat Korea Selatan yang tampil hebat di Piala Dunia 2002 bersama Ahn Jung-hwan. Bersama Setan Merah, Park tampil sebanyak 134 laga dan mencetak 19 gol dalam kurun 2005-2012. Selama tujuh tahunnya di Old Trafford, ia berhasil meraih beberapa tropi mayor; satu titel Liga Champions, empat gelar Liga Primer, tiga Piala Liga, dua Community Shield, dan sekali juara Piala Dunia Antarklub. Ia menjadi pemain Asia pertama yang menyandang ban kapten saat Ryan Giggs ditarik keluar pada pertandingan di tahun 2005.

  1. Tim Cahill

Lahir dan tumbuh besar di Inggris menjadikan pemain berdarah Samoa-Australia ini mengenal benar kultur yang ada. Tim Cahill menjalani debut profesionalnya di dataran Inggris bersama Millwall di tahun 1998 dengan catatan 217 laga dan 52 gol. Ia kemudian hijrah ke Everton di tahun 2004. Penampilan gelandang box-to-box ini tak surut bersama The Toffees, dengan raihan 226 pertandingan dan mencetak 56 gol. Cahill adalah gelandang yang memiliki agresivitas dalam menjaga pertahanan dan ciri khas dalam urusan mencetak gol. Tak jarang, suporter di sisi pojok lapangan akan mendapatkan “tinjunya” kala gawang lawan bergetar.

  1. Harry Kewell

Sempat menjalani masa mudanya di klub asal Sydney, Marconi Stallions, Harry Kewell lantas mendapatkan tawaran untuk pindah ke Leeds United. Di usianya yang masih menginjak 15 tahun, ia pindah ke Inggris dengan program yang digagas lembaga nonprofit Australia dan berkaitan dengan pertanian. Di Leeds, bersama calon kompatriotnya di masa depan—Brett Emerton, ia mengalami perkembangan signifikan dan menjadi bagian dari tim yang berisikan pemain-pemain muda menjanjikan. Sebelum pindah ke klub impian masa kecilnya, Liverpool, ia mengemas 181 penampilan dengan 45 gol. Sementara itu, bersama The Reds ia tak banyak mendapatkan kesempatan karena kalah bersaing dengan pemain lain dan bermasalah dengan kesehatan. Meski demikian, pewaris nomor punggung 7 itu berhasil mempersembahkan satu gelar Piala FA dan satu gelar Liga Champions bertajuk “Miracle of Istanbul”

  1. Son Heung-min

Son Heung-min menjadi pemain teranyar asal Negeri Ginseng yang mengikuti jejak kesuksesan seniornya, Park ji-sung. Son sempat dikeluarkan dari akademi FC Seoul dan lantas mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan Hamburg SV di tahun 2008 saat usianya masih 16 tahun. Setelah mendapatkan debut seniornya di tahun 2010, mencatatkan 73 penampilan dan 20 gol. Eksplosivitasnya membuat Bayer Leverkusen tertarik untuk merekrutnya di tahun 2013. Di klub profesional keduanya itu, ia juga mencatatkan hasil gemilang dengan 62 laga dan 21 raihan gol. Sementara itu, kariernya di Liga Primer cenderung konstan semenjak kehadirannya di White Hart Lane, kandang Tottenham, di tahun 2015 lalu. Pemain sayap berusia 25 tahun itu telah menyumbang 30 gol dari 90 laga bersama Spurs. Meski belum mempersembahkan gelar, ia selalu menjadi pilihan utama—bersama Harry Kane, untuk mencetak gol.

Menurut Anda, siapa lagi yang masuk dalam jajaran ini?

Tulis di kolom komentar!

Comments