Mantan staf Man City dipenjara karena kekerasan seksual

Barry Bennell, mantan pemandu bakat Manchester City harus mendekam di penjara selama 30 tahun setelah diputuskan bersalah dalam kasus kekerasan seksual.

Mantan pelatih Crewe Alexandra dan pemandu bakat Manchester City, Barry Bennell, resmi mendapatkan hukuman dari Pengadilan Tinggi Liverpool setelah diputuskan bersalah atas perbuatannya mencabuli anak di bawah umur di tahun 1979 hingga 1991.

Sebelumnya Bennell, 64 tahun, didakwa atas perilaku pelecehan seksual kepada 12 pesepak bola muda saat ia melatih. Kemudian dilaporkan ada lebih dari 100 korban dengan 86 orang mengadu telah dilecehkan olehnya.

Vonis pada Bennell dijatuhkan pada Senin (19/02) setelah hakim senior wilayah Liverpool, Clemen Goldstone GQ memberi keputusan. “Perilaku Anda kepada anak-anak lelaki dalam merayu mereka sebelum memberikan perlakuan tidak mengenakkan, dalam beberapa kasus, yang paling serius, merendahkan dan mempermalukan mereka benar-benar sebuah kejahatan.”

Sang hakim juga mengatakan bahwa Bennell menampakkan diri di depan korbannya sebagai Tuhan, lantas menambahkan, “Dalam kenyataan, Anda adalah inkarnasi iblis. Anda merampas masa kecil dan kemurnian mereka untuk memuaskan penyimpangan seksual pribadi.”

Goldstone juga menambahkan bahwa kekerasan seksual yang dilakukan Bennell telah menghancurkan semangat para korban untuk bermain sepak bola dan memberikan penderitaan termasuk pemikiran untuk bunuh diri, memicu perilaku alkoholik, dan depresi.

“Masing-masing dari mereka menderita. Dan sekarang, lebih dari 30 atau 35 tahun setelah Anda menghancurkan anak-anak ini, sekarang telah dewasa, berkehidupan, namun tetap dalam penderitaan.”

Bennell sebenarnya telah menjalani tiga kali hukuman bui, menghabiskan total 15 tahun penjara untuk kasus yang serupa (16 orang korban).

Sementara itu, pengacaranya, Eleanor Laws, mengatakan bahwa kliennya sedang mengalami kanker dan membutuhkan operasi untuk mengangkat tumor dari lidahnya. Ia saat ini dalam masa pengampunan, namun ada hal memberatkan yang membuatnya harus makan dengan bantuan selain delapan kali sehari.

Untuk membuatnya tenang dari teriakan massa, Eleanor mengatakan bahwa kliennya juga diberikan suntikan pembunuh rasa sakit dan obat anti depresan. Ia juga sedang dalam program pemulihan ketika menghadapi hukuman penjara.

Kredit foto The Telegraph

Comments