Korea Selatan – Inspirasi Asia Untuk Piala Dunia 2018

Belum ada tim Asia yang bisa memenangkan Piala Dunia, tetapi itu tidak berarti bahwa perwakilan dari benua terbesar di dunia ini tidak memiliki andil dalam keberhasilan dalam turnamen sepak bola terbesar di dunia.

Faktanya, dua negara telah membuat pencapaian di Piala Dunia dengan menjadi satu-satunya tim yang sejauh ini telah berhasil setidaknya sampai ke babak perempat final Piala Dunia. Yang menarik, kedua tim ini tidak hanya berbagi perbedaan itu karena mereka juga berbagi salah satu perbatasan paling populer di dunia – 38 derajat paralel yang terkenal. Ya, kedua tim itu adalah Korea Utara dan Korea Selatan.

Memang Korea telah membuat Asian Football Confederation (AFC) bangga. Menuju ke turnamen dengan harapan sederhana dan sedikit gembar-gembor di luar wilayah mereka, mereka menunjukkan kepada semua orang apa yang bisa mereka lakukan.

Mengingat Tim Dari Utara

Yang pertama berjuang keras adalah Korea Utara pada tahun 1966. Satu-satunya wakil dari kualifikasi wilayah Asia, Korea Utara hampir tidak diizinkan untuk bermain di Inggris karena Inggris tidak mengakui republik dari utara perbatasan Korea itu. Untungnya bagi mereka, badan sepakbola dunia FIFA tidak mentolerir politik negara tuan rumah untuk mengganggu pementasan turnamen tersebut. Seperti semua tim yang lolos kualifikasi, Korea Utara bersaing untuk meraih trofi Jules Rimet yang didambakan.

Pada saat itu, Korea Utara tidak dipertimbangkan secara serius untuk mengangkat trofi di akhir turnamen. Dari semua yang ikut, wakil Asia sebelumnya yaitu Indonesia dan Korea Selatan dikalahkan oleh lawan yang lebih hebat dan ketika Korea Utara tersandung oleh tim Uni Soviet yang jauh lebih kuat sehingga harus kalah 3-0, tampaknya tren awal hanya akan terus berlanjut.

Untungnya, turnamen mereka tidak berakhir setelah pertandingan melawan Soviet. Pada pertandingan berikutnya, mereka berhasil menahan Chile dengan skor imbang 1-1 melalui gol penyama kedudukan yang dicetak oleh kapten Pak Seung Jin. Hasil ini menjadi landasan peluncuran rudal Korea Utara yang mengincar target yang jauh lebih besar pada tiga hari kemudian.

Bermain melawan Italia, yang telah memenangkan dua Piala Dunia pada saat itu, adalah tugas yang menakutkan bagi setiap tim kecil di turnamen. The Chollima, julukan mereka, tidak berubah menjadi salah satu dari tim kecil itu. Melalui satu-satunya gol yang dicetak oleh Pak Doo Ik, Korea Utara menarik karpet merah untuk tim Italia yang lebih kuat untuk melakukan duel melawan Eusebio dan rekan-rekannya di Portugal.

Wakil tunggal Asia di Piala Dunia 1966 itu memulai pertandingan perempat final dengan penuh gaya dengan unggul 3-0 dalam 25 menit pertama. Namun itu masih jauh dari selesai dan jika ada tim yang dapat menyerbu mereka kembali dari keunggulan defisit besar, itu adalah pemain-pemain Portugal. Bermain dalam kinerja yang luar biasa bahkan untuk standarnya, Eusebio mencetak empat dari lima gol timnya untuk mengubah permainan tepat dihadapannya. Setelah 90 menit, Portugal menyingkirkan Korea Utara dengan skor 5-3.

Korea Utara mungkin belum berhasil melewati Portugal, tetapi mereka memegang hasil akhir terbaik yang pernah dilakukan oleh negara Asia dalam turnamen berumur 36 tahun itu. Pencapaiannya ini terjaga sampai tetangga mereka, Korea Selatan, melakukan yang lebih baik di Piala Dunia pertama abad ke-21.

Tidak Ada Tempat Seperti Di Rumah

Sebagai tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama Jepang, Korea Selatan pergi ke turnamen tanpa harus memenuhi syarat kualifikasi. The Taeguk Warriors masuk ke babak grup bersama Portugal, Amerika Serikat, dan Polandia dalam grup yang rumit untuk tuan rumah. Pertandingan pertama mereka melawan Polandia yang mereka kalahkan dengan skor 2-0 untuk mendapatkan  kesempatan lolos  babak penyisihan. Kemudian Korea Selatan mendapatkan satu poin melawan Amerika Serikat ketika Ahn Jung Hwan membalas gol Clint Mathis di babak pertama untuk menempatkan mereka pada posisi yang bagus untuk lolos.

Mencetak poin yang sama dengan AS di tempat pertama setelah dua kali pertandingan, Korea Selatan perlu melakukan lebih baik daripada AS yang melawan tim Polandia yang sudah dipastikan tersingkir atau mengamankan setidaknya satu poin melawan tim favorit, Portugal. Portugal yang memiliki pemain seperti Rui Costa dan Luis Figo dalam skuad mereka, menderita kekalahan 3-2 dari AS sebelum bangkit kembali dengan menghabisi Polandia 4-0. Pada saat itu, itu akan menjadi 90 menit terbesar dari sejarah sepak bola Korea Selatan.

Karena pertandingan terakhir babak grup terjadi pada waktu yang sama, keadaan tentang pertandingan lain dapat menyebar ke pihak lain dan jika itu terjadi pada saat itu, maka mungkin ada beberapa orang di pertandingan Portugal-Korea Selatan yang tahu bahwa hasil imbang akan cukup untuk membawa kedua tim lolos ke babak berikutnya. Hal ttu karena AS tertinggal terlebih dahulu melawan Polandia dan akhirnya kalah 3-1. Hasil imbang melawan Portugal akan membuat Korea Selatan berada di puncak klasemen sedangkan raksasa Eropa itu berada di urutan kedua.

Namun The Taeguk Warriors tidak memiliki apapun dan bersedia untuk tampil tidak hanya di depan para pendukung mereka tetapi juga seluruh dunia. Portugal, untuk mereka sendiri, tidak menciptakan hal mudah bagi mereka sendiri karena tim mereka akhirnya harus berkurang menjadi sembilan orang dalam waktu 65 menit. Ini harus dibayar mahal ketika Park Ji Sung memberikan Korea keunggulan lima menit kemudian. Tuan rumah bukan hanya melumpuhkan Portugal tetapi bertengger sebagai juara grup ketika tidak banyak orang yang mengira mereka akan lolos.

Dengan demikian, pembantaian tim raksasa dimulai untuk Korea Selatan. Tidak puas hanya dengan mengalahkan Portugal, mereka juga memulangkan skuad Italia yang sangat berbakat dalam pertandingan yang menegangkan melalui gol di babak perpanjangan waktu yang dicetak oleh Ahn. Setelah itu, mereka bertemu armada Spanyol untuk memaksa mereka masuk babak adu penalti di mana penjaga gawang Lee Woon Jae menepis eksekusi Joaquin dari titik penalti – satu-satunya eksekusi yang gagal – dan mengirim Korea Selatan ke semifinal.

Akhirnya Korea harus kalah oleh Jerman yang lolos berkat gol telat Michael Ballack. Mereka mungkin belum mencapai final kompetisi, namun mereka tidak bisa merasa lebih bangga karena telah menjadi perwakilan Asia terbaik yang pernah tampil di Piala Dunia hingga hari ini. Mereka juga mencatat rekor kebobolan paling cepat dalam turnamen saat pertandingan perebutan tempat ketiga ketika kalah melawan Turki. Namun itu pun tidak bisa merusak warisan berkualitas Taeguk Warriors tahun 2002. Mereka belum gagal tampil di Piala Dunia sejak saat itu dan setiap kali, setiap usaha mereka dilecut oleh semangat prestasi pada tahun 2002 yang tetap dipenuhi dengan harapan.

Ketika Piala Dunia 2018 di Rusia tampak besar, lima perwakilan AFC – termasuk Korea Selatan sendiri – akan melihat kembali kepada kedua tim ini untuk mendapatkan inspirasi. Bahkan tidak perlu hingga sampai lolos ke babak penyisihan, Jepang, Arab Saudi, Iran, Australia dan Taeguk Warriors akan selalu memiliki kenangan tentang tim Korea tahun 1966 dan 2002 dari kedua sisi perbatasan dalam memacu mereka saat merencanakan membuat gelombang asal Asia untuk satu kali lagi.

Comments