Mengenang Gol Michael Owen: Solo Run Memukau Sang Wonderkid Inggris

Juventus vs Ajax – Tensi Lawan Juventus Lebih Tinggi Dibanding Lawan Madrid

Mari kita mengenang kembali gol indah anak ajaib Inggris yang berhasil membuktikan dirinya di level tertinggi…

Banyak yang diharapkan pecinta sepakbola saat turnamen internasional sekelas Piala Eropa atau Piala Dunia bergulir di pertengahan tahun kalender. Ini adalah momen ketika matahari bersinar cerah di sebagian besar daratan dunia, masyarakat multi bangsa, ras, etnis, berjubel-jubel di bandara dan pelabuhan tempat turnamen dihelat. Mengenakan dandanan seunik mungkin, antusiasme yang tinggi, dan tentu saja dengan semangat nasionalisme menggebu-gebu melebihi biasanya.

Harapan bahwa tim yang mengusung bendera negara mereka tampil sebaik mungkin, munculnya wajah baru untuk diperbincangkan, atau bahkan bisa mengangkat trofi juara tentu ada di setiap benak pecinta sepakbola ini. Sekali pun mereka tak akan menanggung malu sendirian ketika negaranya pulang lebih awal, selalu ada pahit yang lebih mencekat bagi masyarakat dari negara yang dinilai superior dalam urusan sepakbola, dan bahkan mengklaim diri sebagai negara lahirnya sepakbola.

Ya, prestasi buruk tim nasional Inggris di turnamen internasional adalah pemandangan lazim dalam nyaris dua dekade terakhir. Piala Eropa 1996, di mana mereka menjadi tuan rumah dan melaju hingga ke semifinal, mungkin merupakan terakhir kali mereka bisa mengangkat kepala tinggi-tinggi saat turnamen usai. Semua cerita sedih Inggris dalam 20 tahun terakhir selalu diawali dengan optimisme melangit yang kemudian hancur lebur dengan buruknya performa tim mereka di lapangan hijau.

Mungkin, Piala Dunia 1998 tidak membuat suporter Inggris mengusung arogansi khas negara superior sepakbola seperti halnya di pertengahan 2000an ketika mereka punya Generasi Emas yang mereka agung-agungkan itu, tapi kepahitan yang mereka rasakan ketika pasukan Glen Hoddle tersingkir di babak 16 besar menandakan ada sebuah sugesti tertanam di alam bawah sadar mereka bahwa Inggris tetaplah salah satu raja Eropa dan dunia. Apalagi mereka terusir dari Prancis setelah ditaklukkan seteru abadi mereka, Argentina.

Tapi, tak seperti akhir-akhir ini, suporter dan media Inggris tidak salah menyematkan label anak ajaib pada diri salah satu pemain The Three Lions saat itu. Kita semua mungkin sudah bosan dan menjurus muak saat orang-orang Inggris bicara tentang pemain muda berbakat yang mereka lahirkan dari kompetisi Premier League tiap tahunnya. Nyaris selalu saja gagal memenuhi ekspektasi awal dan karier mereka kerap surut sebelum waktunya karena ditelan gaya hidup mewah.

Tak seperti akhir-akhir ini, suporter dan media Inggris tidak salah menyematkan label anak ajaib pada diri salah satu pemain The Three Lions saat itu

Jangan salah, pemain-pemain seperti Frank Lampard dan Steven Gerrard tidak pernah dilabeli anak ajaib di usia remaja mereka. Jadi, pencapaian mereka di level senior bersama klub mereka itu lebih tepat disebut sebagai proses mematangkan kualitas secara perlahan ketimbang ekspektasi tinggi yang terwujud di awal-awal karier mereka. Namun, ada satu yang berhasil lolos dari kutukan label anak ajaib Inggris, dan pemuda kelahiran Chester 14 Desember 1979 itu bernama Michael Owen.

Kemunculan si Anak Ajaib

Pada Piala Dunia 1998, Owen bahkan belum genap berusia 19 tahun. Namun, namanya saat itu sudah menggema di kancah Premier League dengan menyabet penghargaan Pemain Muda Terbaik PFA, Sepatu Emas Premier League, dan finis di posisi ketiga Pemain Terbaik PFA. Dia baru menjalani debutnya bersama tim nasional Inggris pada pertandingan persahabatan kontra Cile pada Februari 1998, yang berakhir dengan kekalahan 2-0 untuk St. George Cross.

Pada Piala Dunia 1998, Owen bahkan belum genap berusia 19 tahun. Namun, namanya saat itu sudah menggema dengan menyabet penghargaan Pemain Muda Terbaik PFA, Sepatu Emas Premier League, dan finis di posisi ketiga Pemain Terbaik PFA

Performa menterengnya di kancah domestik bersama Liverpool pun membuatnya dipanggil manajer Glenn Hoddle. Ia bermain sebagai pemain pengganti di dua laga pertama grup melawan Tunisia dan Rumania, di mana ia sukses mencetak satu gol. Dalam laga penentuan fase grup menghadapi Kolombia, Hoddle memberanikan diri memberikan kepercayaan pada Owen untuk tampil sebagai starter. Inggris sukses meraih kemenangan 2-0 dan lolos sebagai runner-up Grup G. Inggris melaju ke 16 besar untuk berhadapan dengan Argentina dan momen bersejarah Owen pun dimulai.

Hoddle sekali lagi memercayakan posisi starter pada Owen dan menduetkannya dengan Alan Shearer di depan. Tak disangka, pemuda berusia 18 tahun itu justru menjadi pemain paling bersinar dalam salah satu laga yang paling diingat orang Inggris sampai saat ini.

Setelah tertinggal dulu lewat gol Gabriel Batistuta lewat titik putih di menit ke-5, Inggris membalas lewat cara yang sama melalui eksekusi Alan Shearer empat menit berselang. Owen memberikan kontribusi penting terhadap hadiah penalti yang dihadiahkan kepada Inggris karena pergerakan lincahnya ke kotak penalti Tim Tango memaksa Roberto Ayala melakukan pelanggaran terhadap dirinya.

Lalu, terciptalah gol ajaib itu di menit ke-16. Gol yang kemudian melambungkan nama Owen ke sepakbola dunia. Sebuah serangan balik diawali dari lini pertahanan Inggris saat Paul Ince sukses merebut bola dari kaki pemain Argentina. Ia melepaskan umpan ke tengah di mana David Beckham berdiri dalam kondisi bebas dan meneruskan umpan kepada Owen. Si bocah ajaib sukses melepaskan diri dari kawalan pemain lawan untuk menggiring bola ke dalam pertahanan Tim Tango. Saat harus berhadapan dengan satu bek lagi, Owen dengan cerdik mengubah arah berlarinya ke kanan, menciptakan kejutan tidak terduga dan melepaskan tembakan keras dari dalam kotak penalti yang tak bisa dihentikan kiper Carlos Roa yang hendak menyergapnya.

Ya, hanya butuh dua kali umpan sebelum bola tiba di kaki Owen dalam proses terjadinya gol ini. Argentina tampak tidak siap dalam proses serangan balik di mana bola dengan cepat berpindah ke area mereka dan pergerakan tenang Owen sepertinya sukses menyihir anak asuh Daniel Pasarella yang tidak menyangka Owen dengan begitu berani memilh untuk mengecoh mereka semua. Kedudukan menjadi 2-1.

Tapi, Argentina sukses menyamakan skor di penghujung babak pertama lewat Javier Zanetti. Dan, tragedi terjadi di awal babak kedua saat David Beckham harus diusir wasit karena melanggar Diego Simeone. Inggris yang bermain dengan 10 orang bisa memaksakan laga berakhir dengan adu penalti. Sampai di sini, kita semua tahu Inggris tak pernah bisa melepaskan diri dari kutukan adu penalti: Piala Dunia Italia 1990, Piala Eropa 1996, lalu Piala Dunia 1998. Kutukan adu penalti terus mengiringi langkah Inggris sampai Piala Eropa 2012 dan entah kapan akan berakhir.

Kutukan Anak Ajaib yang Tidak Berlaku

Publik Inggris bersedih dan juga marah kepada Beckham, namun melantunkan pujian terhadap 10 singa lainnya yang berjuang sampai akhir di laga ini, terutama Owen. Beckham yang dikenal handal dalam mengeksekusi bola mati harusnya menjadi salah satu eksekutor Inggris ketimbang David Batty kalau dia masih ada di lapangan.

Rakyat Inggris menyambut kepulangan skuat Inggris yang berisi satu pemain yang mereka juluki Anak Ajaib dan satu Bocah Bodoh asal Manchester. Gol Michael Owen bersanding dengan kekhilafan Becks mengisi halaman media Inggris. Dua peristiwa ini seperti terjadi di kutub yang berbeda tapi di saat yang bersamaan. Kedua peristiwa ini saling menopang agar Piala Dunia 1998 tetap terekam dalam memori hooligan Inggris untuk alasan yang benar sekaligus salah.

Selepas pergelaran Piala Dunia 1998, kedua tokoh utama laga tersebut sama-sama melejit bak meteor. Beckham sukses mengantar Manchester United meraih treble winners setahun berselang dan duduk di posisi runner-up Pemain Terbaik Dunia 1999, hanya kalah dari Rivaldo. Sementara Michael Owen menyusul dua tahun kemudian dengan mengantar Liverpool meraih tiga gelar, Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA 2000/01 serta menggondol gelar individu bergengsi Ballon d’Or. Ya, Owen benar-benar luput dari kutukan Anak Ajaib yang disematkan media dan publik Inggris.

Piala Dunia 1998 selamanya akan dikenang  oleh publik Inggris tak hanya karena gol indah Michael Owen, tapi juga kartu merah David Beckham. Atas label Anak Ajaib yang disematkan pada Michael Owen oleh publik dan media Inggris, orang-orang di luar Britania setidaknya tidak terus-terusan beranggapan bahwa orang-orang Inggris hanya lihai mengolah glorifikasi bakat-bakat mereka di atas lapangan sepakbola.

Sementara cacian sepanjang tahun yang terus dilontarkan suporter Inggris di semua stadion saat Beckham berlaga bersama Manchester United ujung-ujungnya membuktikan bahwa pesimisme, kritik, dan sinisme tak selalu berbuah malapetaka. Justru pujian dan ekspektasi berlebihan yang kerap dikumandangkan media dan publik Inggris akhir-akhir inilah yang kerap mematikan motivasi bertempur anak-anak muda mereka.

Comments