Piala Dunia 2018: Lima Pelatih Timnas yang Patut Diperhatikan Kiprahnya Saat Ini

Oleh: Adwaidh Rajan

Ketika para bintang besar seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Neymar Jr yang akan menjadi pusat perhatian selama acara olahraga terbesar di dunia di Rusia musim panas ini, ada hal yang luput dari fokus kita semua yaitu para pelatih yang memimpin tim di bangku cadangan pemain. 

Mengumpulkan berbagai pemain berlabel galacticos, sebetulnya tidak menjamin kesuksesan dalam sepakbola. Disitulah para manajer dan pelatih sepakbola berperan. Pelatih modern bukan hanya seorang ahli taktik yang membentuk gaya permainan timnya, memutuskan peran pemainnya dan merencanakan berbagai strategi untuk mengalahkan lawan saja. Mereka juga (para pelatih) harus memotivasi seisi ruang ganti untuk mengangkat moral dan performa tim mereka ketika semuanya berjalan tak sesuai dengan keinginan.

Selama bertahun-tahun, ajang Piala Dunia telah menyaksikan taktik sepakbola yang revolusioner. Skuat Belanda tahun 1974 asuhan Rinus Michel, yang dipimpin oleh pemian brilian Johan Cruyff memainkan gaya ‘Total Football’, dan disebut-sebut sebagai salah satu tim terhebat, namun tidak pernah mengangkat trofi Piala Dunia. Sementara itu, Carlos Alberto Parreira yang menangani Brasil tahun 1994 disebut ‘anti-football’ dan kerap diejek ‘sangat membosankan’, namun mereka sukses menjuarai turnamen akbar ini.

Kini, mulai dari Oscar Tabarez, pelatih Uruguay yang mengarahkan anak asuhnya selama bertahun-tahun dengan memantau mobilitas tiap pemainnya, hingga pelatih Islandia, Heimir Hallgrimsson yang juga berprofesi sebagai dokter gigi, semuanya mencari cara untuk meneruskan dongeng ajaib mereka di level tertinggi ini. Pada edisi ke-12 Piala Dunia tahun 2018, terdapat beberapa pelatih yang menarik untuk dipantau kiprahnya, tapi kami memilih lima pelatih yang dirasa mampu mengalahkan lawan-lawan mereka di Rusia kali ini.

5. Fernando Santos

Umur: 63 tahun

Tim: Portugal

Mantan tim: AEK Athens, Sporting Lisbon, Yunani

Portugal mungkin akan berpartisipasi ke Piala Dunia 2018 dengan status juara Eropa 2016, namun bisa dibilang mereka jauh di bawah dalam urutan aftar favorit untuk memenangkan gelar Piala Dunia kali ini. Namun, ‘narasi ketidakfavoritan’ tersebut tampak akrab bagi orang-orang Portugal. Mereka tidak ada dalam daftar favorit juara sebelum dimulainya Euro 2016, namun akhirnya mereka lah yang berpesta juara di penghujung turnamen. Sebagian besar pujian untuk kemenangan di Euro 2016 itu ditujukan untuk Fernando Santos yang mampu mengubah timnya menjadi tim solid dan lebih defensif sejak mengambil alih Portugal pada 2014 lalu.

Di bawahnya, Portugal telah mengurangi ketergantungannya pada sang bintang Cristiano Ronaldo dan telah bermain sebagai sebuah unit yang fokus pada stabilitas pertahanan dan memberikan cukup banyak ruang bagi Ronaldo untuk menunjukkan kualitasnya. Banyak pundit sepakbola bahkan pelatih tim lainnya di Euro 2016 yang memuji Fernando Santos ini karena timnya menunjukkan kolektifitas yang sempurna saat mereka mencoba untuk terlepas dari hal yang mustahil di Prancis dua tahun yang lalu.

Di Rusia, Portugal akan bergantung pada Bernardo Silva, Andre Silva dan Gelson Martin untuk berkombinasi dengan Ronaldo dalam memimpin serangan Portugal. Namun di sisi lain, lini bertahan mereka akan sekali lagi diharapkan bersinar dalam formasi 4-4-2 konservatif racikan Santos. Senjata mereka yang paling mematikan tentu saja adalah serangan balik cepat  yang akan dipimpin salah satu pemain terbaik dunia di lini depan mereka.

4. Gareth Southgate

Umur: 47 tahun

Tim: Inggris

Mantan tim: Middlesbrough, Inggris U21

Mantan gelandang dan pemain bertahan Inggris era 90an ini sejatinya tak asing lagi dengan tim nasional Inggris yang berlaga di level Piala Dunia maupun Piala Eropa. Ia tercatat pernah membela Inggris pada Piala Eropa tahun 1996 dan 2000 sekaligus tampil untuk skuat The Three Lions pada Piala Dunia 1998 lalu.

Meski cukup berpengalaman sebagai pemain, Southgate sebelumnya hanyalah pelatih tim U21 Inggris yang tidak sengaja menjadi caretaker sementara tim senior Inggris akibat dipecatnya Sam Allardyce pada 2016 lalu. Berkat dua kali imbang dan sekali menang saat menjabat posisi caretaker tersebut, Southgate akhirnya resmi sebagai pelatih kepala tim nasional Inggris pada 30 November 2016.

Southgate sendiri kini banyak membawa anak muda di skuatnya saat ini. Selain mulai proses regenerasi skuat, ia juga kerap kali mencoba berbagai variasi strategi dan taktik. Harry Kane dkk kali ini tampaknya akan menggunakan formasi 3-4-2-1 dan menarik ditunggu sejauh mana anak muda asuhan Southgate bisa melangkah jauh di Rusia tahun ini.

3. Adenor Bacchi a.k.a. Tite

Umur: 56 tahun

Tim: Brazil

Mnatan Tim: Gremio, Corinthians, Al Ain FC

Selama beberapa musim terakhir, Tite, dianggap telah memecahkan ketergantungan Brasil pada bintang mereka, Neymar Jr, yang mana dianggap sebagai salah satu biang kegagalan mereka pada 2014 lalu di bawah asuhan Carlos Dunga. Saat itu, The Selecao menderita kekalahan memalukan di kandang sendiri dengan skor 7-1  dari Jerman pada semifinal Piala Dunia 2014, yang sampai saat ini terus menghantui semua hal tentang Brazil dan sepakbola mereka.

Namun, cara bangsa Amerika Latin termasuk Brazil dalam membereskan masalah mereka pasca bencana telah membuahkan kepercayaan diri yang baru bagi para suporter dan para pemain, tentu saja. Kembalinya Neymar dari cedera akan menjadi opsi yang bagus bagi mantan pelatih Corinthians tersebut. Sementara pemain yang lainnya seperti Roberto Firmino, Philippe Coutinho, Marcelo, dan Willian juga berada dalam kondisi yang prima sepanjang musim ini di klub mereka masing-masing.

Tite telah sukses menjadikan Brazil sekarang yang lebih terorganisir, namun tentu saja dipenuhi dengan bakat dan kohesi yang cukup bagus. Mereka adalah tim pertama yang lolos ke Rusia dari kualifikasi, dan tidak mengherankan bahwa Brazil selalu disebut sebagai favorit kuat untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2018 pada Juli 2018 nanti.

2. Jorge Sampaoli

Umur: 57 tahun

Tim: Argentina

Mantan tim: Universidad de Chile, tim nasional Chile, Sevilla

Nama Jorge Sampaoli selalu dikait-kaitkan dengan sejumlah klub papan atas Eropa sejak sukses membawa Chile menjuarai Copa America pada 2015 lalu. Namun, ia kembali ke tugas internasional bersama tim nasional Argentina setelah satu musim di Spanyol bersama Sevilla. Namun, sekembalinya Sampaoli ke Argentina tak selalu berjalan mulus karena mereka lolos ke Piala Dunia 2018 dari zona kualifikasi dengan terseok-seok dan kerap dikritik banyak pundit termasuk sang legenda, Diego Maradona.

Gaya bermain yang mengandalkan pressing tanpa henti dan lini serang yang cair memang cukup melekat dengan tim yang diasuh oleh Sampaoli dan ia selalu dibandingkan dengan salah satu pelatih jenius Argentina lainnya, Marcelo Bielsa. Meski begitu, ia belum mampu menggerakkan tarian sepakbola milik Argentina dan Piala Dunia 2018 ini bisa saja menjadi salah satu aibnya di Argentina sepanjang karier kepelatihannya.

Lini serang Argentina yang memiliki pemain sekaliber Lionel Messi, Sergio Aguero, Paulo Dybala, Gonzalo Higuain dan Angel Di Maria memang terlihat menggiurkan. Namun kita semua tahu bahwa opsi pemain tangguh untuk memperkuat lini bertahan Argentina yang sangat terbatas bisa saja menjadi titik lemah dan menyebabkan kegagalan mereka di ajang empat tahunan ini.

1. Joachim Low

Umur: 58 tahun

Tim: Jerman

Mantan tim: VfB Stuttgart, Fenerbahce

Tahun ini, kampanye tim nasional Jerman di ajang Piala Dunia 2018 ini mengusung slogan “Best Never Rest“. Selain itu, mereka memiliki salah satu isi ruang ganti terbaik yang tidak bersedia untuk beristirahat sampai gelar juara dunia kelima ditambahkan ke kabinet piala Die Mannschaft musim panas ini.

Joachim Low sendiri membawa Jerman menjadi jawara Piala Dunia 204  dan Piala Konfederasi tahun 2017 lalu. Selain itu juga pernah menjadi juara ketiga saat Piala Dunia 2010, runner-up di Euro 2008 dan tampil semifinal di Euro 2012 dan 2016 membuat anda yakin bahw ainilah salah satu tim nasional paling konsisten dalam sejarah sepakbola.

Gaya bermain yang memulai bangun serangan dari kiper yang mampu mendistribusikan bola lewat kakinya dan para pemain belakang yang mampu mengoper dengan baik, Low dianggap telah merevolusi bagaimana permainan ini dimainkan di seluruh dunia. Tim kontestan lainnya di Piala Dunia ini juga dipredikisi akan kesulitan menghadapi formasi 4-2-3-1 ala Low yang mampu bertransisi menjadi 2-4-3-1 selama menyerang dan kami yakin tim lain akan berusaha menghindari Jerman dalam perjalanan mereka di turnamen ini.

Comments