Hal-Hal yang Terjadi Seandainya Indonesia Lolos ke Piala Dunia

Foto utama oleh Abi Yazid (Goal.com)

Kompetisi akhirnya tidak mengganggu agenda timnas

Sudah menjadi hal yang sangat biasa jika kompetisi sepakbola di Indonesia tetap bergulir kendati tim nasional tengah melakukan uji tanding atau mengikuti turnamen/kejuaraan tertentu. Pada gelaran Piala AFF 2016 lalu saja, misalnya, timnas harus bertanding di tengah-tengah berjalannya turnamen Indonesia Soccer Championship A. Akibatnya, Alfred Riedl, pelatih timnas saat itu, tak bisa memoles skuat dengan maksimal. Ia hanya diperkenankan untuk memanggil maksimal dua pemain di masing-masing klub.

Hal memalukan semacam itu tampaknya tidak akan terjadi andai saja Indonesia berlaga di Piala Dunia. Dengan begitu, pelatih tim nasional bisa dengan leluasa memanggil para pemain yang dianggap sesuai dengan skema tim. Dan kalau pun kompetisi masih dipaksa-paksakan berjalan, saya kira akan ada demo besar-besaran di depan kantor PSSI.

Libur nasional saat timnas bertanding

Merayakan keberhasilan lolos ke Piala Dunia 2006, Presiden Togo saat itu, Faure Gnassingbe, langsung menetapkan 10 Oktober sebagai hari libur nasional. Panama, yang lolos ke Piala Dunia tahun ini, juga melakukan hal demikian pada tanggal berbeda. Tujuan keduanya jelas agar masyarakat bisa menikmati kelolosan bersejarah itu dengan sekhidmat-khidmatnya.

Di Indonesia, hal yang sama kemungkinan besar akan turut diterapkan andai saja tim nasional lolos ke Piala Dunia. Bahkan bisa saja dengan jumlah hari libur yang lebih banyak mengingat negara kita yang fanatik bukan main terhadap sepakbola. Hari libur itu ditetapkan, misalnya, pada hari saat timnas bertanding. Atau, bisa pula libur sesuai dengan perjalanan timnas di Piala Dunia. Jika timnas hanya mentok di fase grup, maka hari libur akan berlangsung selama fase grup berlangsung. Sementara jika timnas masuk final, misalnya, maka libur akan berlangsung hingga Piala Dunia usai.

Hah…saya membayangkan siswa-siswa sekolah berteriak ‘horee’ saat hari libur itu diumumkan.

Bendera merah putih berkibar di mana-mana

Sejak dulu Indonesia seperti punya kegemaran khusus terhadap bendera, terutama saat ada perayaan-perayaan tertentu. Pada perayaan 17 Agustus, bendera merah putih dan umbul-umbul dikibarkan di depan rumah masing-masing. Begitu pula saat musim pemilihan umum, di mana bendera partai politik dibarkan secara membabi buta di banyak tempat. Dan di luar perayaan-perayaan semacam itu, bendera bahkan tetap lekat dengan kehidupan masyarakat kita. Misalnya saat seseorang naik gunung atau saat perlombaan antar organisasi mahasiswa.

Bayangkan, dengan lolosnya Indonesia ke Piala Dunia, bendera –bendera merah putih tentu saja—sepertinya juga akan berkibar di banyak tempat. Entah itu di depan rumah masing-masing atau di tempat-tempat yang biasa menyediakan event nonton bareng.

‘Away days’

Meski mungkin tak akan sebanyak yang hadir ke Stadion Gelora Bung Karno, para pendukung timnas yang away days ke negara tempat berlangsungnya Piala Dunia tetap akan mencuri perhatian. Saat pertandingan berlangsung, mereka akan berkumpul di sudut tertentu tribun stadion dengan menggunakan atribut-atribut berwarna merah putih. Mungkin saja ada yang membawa bendera raksasa. Bahkan, bisa jadi ada yang membikin koreo tiga dimensi! Selain itu, yang utama, mereka akan menyanyi dengan penuh suka cita. Kadang menyanyikan Indonesia Raya, kadang Garuda di Dadaku. Kadang Bagimu Negeri, kadang Iwak Peyek. Pecah!

Sementara ketika timnas sedang tidak bertanding, masyarakat Indonesia akan tersebar di mana-mana di sejumlah titik luar stadion. Ada yang duduk selonjoran dan tiduran di pelataran, nongkrong di café, berjalan-jalan di tempat tertentu, atau berfoto dengan para fans dari negara lain.

Hal-hal yang tengah viral dilupakan begitu saja

Di Indonesia, sepakbola secara umum mungkin hanya diperhatikan oleh kalangan tertentu. Tapi saat tim nasional Indonesia bertanding, itu lain soal. Pada laga uji tanding saja, misalnya, hampir seluruh elemen masyarakat ingin melihat. Tak peduli usia, tak peduli gender. Apalagi jika timnas sampai berlaga di Piala Dunia. Bisa-bisa di semua televisi di tiap rumah tak ada yang memilih siaran lain selain yang menayangkan timnas berlaga.

Hal semacam ini niscaya akan menjadikan timnas sebagai topik obrolan di mana-mana, baik di dunia nyata mau pun dunia virtual. Dan ehemmm… soal dunia virtual ini, berlaganya timnas di Piala Dunia sepertinya akan mengendapkan hal-hal lain yang tengah viral. Video-video Tik-Tok yang menyebalkan itu, misalnya. Ada amin?

Makanan empuk para politisi rakus

Ingat yang terjadi saat timnas berlaga di Piala AFF 2010 lalu? Bukan. Bukan tentang penampilan menawan sepanjang turnamen atau kekalahan menyakitkan dari Malaysia di Stadion Bukit Jalil, melainkan tentang Irfan Bachdim dan kawan-kawan yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Tiap kali mereka bertanding, ada saja baliho-baliho atau poster-poster yang bermuatan politik di sejumlah sudut tribun. Sementara saat sedang tidak ada pertandingan, mereka digiring untuk menghadiri jamuan makan politisi dari partai kuning. Hal ini ditengarai menjadi salah satu penyebab nonteknis gagalnya Indonesia meraih gelar juara.

Saat Indonesia lolos ke Piala Dunia, itu sepertinya juga akan kembali terjadi. Timnas akan dimanfaatkan oleh sejumlah politisi untuk unjuk muka, untuk berpolitik.

Memang, sepakbola sendiri sejatinya tak bisa benar-benar dilepaskan dari unsur politik. Toh, sejak dulu olahraga ini sudah menjadi alat politik sejumlah negara. Namun yang jadi masalah, di Indonesia, politik yang terjadi adalah politik kelas teri: politiknya seorang anggota partai, politiknya bakal calon presiden, atau bahkan politiknya ketua federasi yang hendak mencalonkan diri sebagai gubernur.

Saat timnas mencetak gol, Indonesia ‘gempa’

Coba bayangkan, dalam salah satu laga Piala Dunia, Indonesia mesti berhadapan dengan Spanyol. Tim Matador yang merupakan favorit peraih gelar juara jelas lebih diunggulkan untuk memenangi laga. Bahkan, cukup banyak yang memprediksi timnas akan dihancurleburkan. Mungkin dengan skor 7-0 seperti yang pernah diderita Korea Utara atas Portugal. Mungkin juga 8-0 seperti yang dihadiahkan Jerman kepada Arab Saudi. Atau mungkin lebih.

Namun, yang terjadi tidaklah demikian. Meski berulang kali diserang dari segala lini dan dengan segala cara, gawang timnas Indonesia yang dikawal Andritany Ardhyasa tak kebobolan satu gol pun. Malah, jelang laga berakhir, tiba-tiba saja Indonesia berhasil unggul dengan memanfaatkan situasi serangan balik. Adalah Egy Maulana Vikri yang menjadi aktornya. Memanfaatkan umpan panjang terukur Evan Dimas, sang pemain berlari dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Ia sempat nyaris terjatuh setelah mengecoh dua orang pemain Spanyol yang salah satunya adalah Sergio Ramos sebelum kemudian melepaskan placing dengan kaki kiri terukur ke sudut kanan gawang David De Gea. Dan, yang terjadi selanjutnya adalah sejarah. Indonesia unggul 1-0 dan itu bertahan hingga laga usai.

Di stadion tempat berlangsungnya laga, masyarakat Indonesia bersorak-sorai. Mereka berjingkrak-jingkrak, berteriak kegirangan. Mereka saling peluk dengan orang-orang yang duduknya berdekatan, kendati tak saling mengenal. Sementara itu, di Indonesia, di kota-kota besar, di sudut-sudut kampung, di pedalaman, kegirangan sama juga dirasa. Orang-orang tumpah-ruah ke jalanan. Berlari-lari. Bersenang-senang. Bahkan, terjadi ‘gempa kecil’ saking riuhnya perayaan gol dan kemenangan bersejarah hari itu.

Comments