25 Tahun dan 4x Juara Eropa, 1x Juara Dunia: Raphael Varane Namanya

“Pada tahun 2011 lalu, saya meluncur ke Lille untuk memantaunya (Varane). Kemudian Zinedine Zidane mendapat angin kabar ini dan entah bagaimana ia mampu memboyongnya untuk Real Madrid,” ungkap Sir Alex.

Pengakuan pelatih sekaliber Sir Alex tentang penyesalan karena kegagalannya merekrut Raphael Varane dari Lille, sejenak saya merenung dengan pemain pilihan United lainnya yang akan diboyong saat itu; Phil Jones. Kabarnya, di antara kedua pemain ini memang diproyeksikan untuk menggantikan Rio Ferdinand serta Nemanja Vidic di posisi bek utama The Red Devils.

Mengingat Phil Jones, yang terbayang darinya adalah ekspresi absurdnya saat bermain di lapangan. Namun satu yang paling terbaru adalah saat ia terlihat kalang-kabut menghadapi lini serang Belgia di babak perebutan juara tiga Piala Dunia 2018 lalu. Semua orang tahu, Jones bukanlah pilihan utama Gareth Southgate di tim nasional Inggris. Phil Jones memang tak salah, ia hanya bermain sesuai kapasitasnya saja, baik saat berseragam United ataupun The Three Lions. Namun di saat yang bersamaan, Varane bertransformasi menjadi salah satu bek yang luar biasa dan tentu saja tidak menampilkan hal-hal yang komikal seperti pemain sebelumnya di lapangan.

“Saat itu (2011 lalu) adalah waktu paling gila dalam hidup saya; saya sedang merevisi untuk ujian saya dan telepon tidak berhenti berdering. Kemudian saya mengunjungi fasilitas Real Madrid dan juga sempat bertemu bertemu Sir Alex Ferguson,” ujar Varane.

Bayangkan saja, tujuh tahun setelahnya, Varane menjelma sebagai salah satu pemain bek yang berlimpah dengan gelar. Empat Liga Champions Eropa, dua kali juara liga dan sekali Piala Dunia adalah bukti paling sahih. Sekali juara Liga Champions Eropa saja, berpotensi menjadi juara Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antar Klub. Belum lagi juara liga domestik dan kompetisi domestik yang memungkinkan untuk menjuarai Piala Super Domestik. Setidaknya jika diuraikan, ada 16 gelar yang berhasil dikumpulkan Varane di umurnya yang baru 25 tahun ini.

Kalian, di umur segitu, sudah bisa apa?

Memang, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, beberapa kejuaraan memberikan satu tiket gelar lainnya jika mampu memenangkan turnamen tersebut. Pemenang Liga Champions Eropa, lazimnya kan, berpotensi menjadi juara Super Eropa dan Piala Dunia Antra Klub. Pundi-pundi gelar secara tidak langsung bisa meroket berkali-kali lipat, apalagi bermain di klub yang meraja seperti layaknya Real Madrid ataupun Barcelona. Singkatnya, ia adalah pemain yang tepat yang berkarier di klub yang tepat pula.

Lalu, apakah Varane hanya beruntung semata karena berada di klub yang meraja tersebut? Tentu saja tidak. Alih-alih beruntung, ada jalan panjang yang harus dilalui oleh Varane untuk menjadi langganan Real Madrid.

Tiga musim pertamanya, semenjak 2011/12 hingga 2013/14, ia bukanlah pilihan utama Real Madrid di lini bertahan. Sergio Ramos, bek utama Los Blancos, jauh lebih sering berpartner bersama Pepe ketimbang bersamanya. Menit bermain Varane awalnya hanya 680 menit dari 9 kali berlaga di La Liga 2011/12, kemudian bertambah menjadi 1123 menit dari 15 kali bermain pada 2012/13 dan 1085 menit dari 14 kali bermain di musim selanjutnya, 2013/14 di La Liga.

Jose Mourinho jelas menjadi salah satu pelatih yang berjasa baginya selain Zinedine Zidane dalam tiga musim terakhir. Saat itu, Zidane yang baru saja ditunjuk sebagai Direktur Sepakbola untuk tim utama Madrid pada awal musim 2011/12 merekomendasikan nama Varane kepada Mourinho agar bisa direkrut oleh Los Blancos.

“Saya sedang berlibur di Madrid, Zidane datang kepada saya dengan membawa tayangan DVD dari Varane dan saya berpikir bahwa dalam dua tahun pemain ini mampu bekerja sama dengan kita, ia akan menjadi lebih fantastis nantinya,” ungkap Mou. “Saat itu, Varane selangkah lagi menuju Manchester United namun Real Madrid sangat berkeinginan kuat dan Rapha akhirnya bergabung dengan kita.”

Ucapan Mourinho akhirnya menjadi kenyataan. Varane memang bekerja sama dengannya selama dua musim dan Mou pergi meninggalkan Madrid di penghujung musim 2012/2013 menuju Chelsea. Saat itu juga Varane kembali mendapatkan ujian nyata perihal kariernya saat Carlo Ancelotti menangani Madrid. Musim 2013/14 lalu, menit bermainnya masih di angka 1085 menit dan baru bertambah menjadi 2032 menit di musim 2014/15 saat performa Pepe mulai tak seperti dahulu lagi.

Meski mengalami peningkatan satu kali lipat, Varane malah bersyukur saat Carlo Ancelotti tak lagi melatih Los Blancos. “Semenjak ia (Ancelotti) hengkang, saya merasa lebih berkembang,” ungkapnya dilansir oleh Football Espana dari L’Equipe. “Saya mungkin saja bisa bermain lebih banyak lagi dibawah arahannya , jika saja saya mampu menunjukkan kepadanya bahwa saya mampu diandalkan saat masa-masa sulit.”

“Ia (Ancelotti) telah membuat pilihannya mengenai siapa yang akan bermain, dan saya bisa mengerti hal tersebut. Namun saya tak bermain sebanyak yang saya inginkan dan itu membuat saya untuk mempertanyakan kemajuan dan progres diri saya sendiri. Saat itu, saya ingin lebih banyak mendapatkan penjelasan dari masalah ini.”

Dari Ancelotti, menuju Rafael Benitez yang seumur jagung sampai akhirnya menuju kepemimpinan Zinedine Zidane, pria yang membawanya ke Real Madrid beberapa tahun lalu. Bayangkan saja, jika Varane sudah tak lagi betah dan lebih memilih untuk hengkang saat ditangani Ancelotti, ia mungkin saja tak akan bergelimang gelar seperti saat ini.

Bersama Zidane, ia menjadi poros pertahanan era baru Madrid bersama sang kapten Sergio Ramos. Perpaduan pengalaman panjang dalam diri Ramos serta Marcelo dan gairah anak muda dalam diri Varane dan Carvajal menjadi fondasi kejayaan Madrid dalam beberapa tahun terakhir. Singkatnya, dengan kesabaran dan kerja keras, ia mampu berada dalam puncak tertinggi dalm karier seorang pesepakbola profesional.

“Seperti yang (Ousmane) Dembele katakan, saya mungkin telah melengkapi semua (gelar) sepakbola. Kebenarannya adalah, musim ini adalah musim yang luar biasa, apa yang saya alami adalah hal yang fantastis,” ungkapnya pasca final Piala Dunia 2018 lalu.

Dengan segala yang sudah ia dapatkan, kini kita tinggal menunggu saja; sejauh mana ia akan bertahan di Real Madrid, atau ia akan mencari tantangan baru ke luar La Liga Spanyol. Setidaknya untuk tetap konsisten membuktikan bahwa dirinya adalah pemain bertahan paling hebat saat ini di dunia.

Comments