Mesut Ozil Gantung Sepatu dari Timnas Jerman

Perjalanan Mesut Ozil dengan Timnas Jerman yang sudah dimulai sejak tahun 2009 berakhir tahun ini. Gelandang Arsenal berusia 29 tahun memutuskan untuk gantung sepatu alias pensiun (23/7).

Setelah berminggu-minggu bungkam atas hujan kritikan yang diterimanya, Ozil baru berbicara melalui Twitter @MesutOzil1088. Dia mengungkapkan segala kekecewaannya atas kritikan yang diterimanya, dari sekedar kritikan biasa hingga rasialisme yang membawa Turki, negeri darah kelahirannya.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, Ozil memicu kontroversi di Jerman ketika berfoto dengan Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki, sebelum Piala Dunia 2018 berlangsung dengan dua pemain berdarah Turki lainnya, Ilkay Gundogan dan Cenk Tosun.

Sikap Ozil itu dianggap sebagian besar publik Jerman sebagai sikap yang tidak menghargai Jerman, sebagai negara yang membesarkan dan mempopulerkan Ozil di Eropa. Kekesalan itu berlanjut sampai Piala Dunia.

Jerman urung melaju dari penyisihan grup dan di antara banyaknya kesalahan yang bisa dianalisa, publik lebih memilih mengkambinghitamkan Ozil atas performa buruk tim. DFB (Federasi Sepakbola Jerman) yang seharusnya mendukung Ozil, malah ikut memanaskan isu itu dengan meminta penjelasan darinya terkait foto dengan Erdogan.

Kesabaran Ozil pun berakhir. Peraih titel Piala Dunia 2014 dengan torehan 92 caps dan 23 gol memilih untuk pensiun, karena dia merasa jadi korban rasial dan rasa tidak hormat dari publik serta DFB.

“Dengan berat hati dan setelah mempertimbangkan banyak hal terkait peristiwa yang baru-baru ini terjadi, saya tidak lagi bermain dengan Jerman di level internasional kala saya merasakan perasaan rasisme dan rasa tidak hormat ini. Saya biasa mengenakan baju Jerman dengan kebanggaan besar dan gairah, tapi sekarang tidak,” papar Ozil.

“Keputusan ini sudah sangat sulit diambil karena saya selalu memberikan segalanya kepada rekan setim, staf kepelatihan, dan orang-orang Jerman yang baik. Tapi, ketika staf resmi berjabatan tinggi DFB memperlakukan saya seperti yang mereka lakukan, tidak menghormati darah Turki saya dan dengan egoisnya mengubah saya menjadi propaganda politik, maka segalanya telah berakhir,” sambungnya.

“Bukan itu alasan saya bermain sepak bola dan saya tidak akan tidak akan tinggal diam tanpa melakukan apapun. Rasisme tidak akan pernah diterima,” pungkas mantan pemain Schalke 04, Werder Bremen, dan Real Madrid itu.

Comments