Sepakbola Indonesia 2018 – Tim Nasional dan Liga 1 yang Penuh Drama

Editor kami, Tio Utomo mencoba menilik kembali apa yang terjadi di sepakbola Indonesia dalam 12 bulan terakhir. Liga 1 yang bergulir dengan drama dan kontroversialnya, sedangkan tim nasional Indonesia gagal total di gelaran bergengsi antar negara Asia Tenggara, AFF Suzuki Cup 2018 setelah adanya secercah harapan di Asian Games 2018.

Tahun ini, harusnya menjadi tahun sepakbola penuh sukacita di Indonesia, sebut saja, Liga 1 yang semakin menegangkan, Asian Games 2018 yang membawa optimisme, Piala Asia U19 yang membuat satu Indonesia bersatu, AFF U16 hingga AFF Suzuki Cup 2018. Tetapi ajang terakhir yang saya sebutkan menjadi highlight terbesar dari tahun ini.

Apa saja yang bisa kita pelajari dari sepakbola Indonesia di 2018 ini?

Tim Nasional Indonesia

2018 adalah tahun yang penuh ujian bagi tim nasional kita di semua level. Dari mulai level yunior hingga ke senior, semuanya memberikan kita sebuah harapan.

Mulai dari Asian Games 2018, permainan impresif nan mengejutkan tim nasional U23 Indonesia ditunjukkan. Persiapan yang lumayan panjang demi mengharumkan nama negara di level Asia U23. Berisikan pemain muda dicampur tiga pemain senior, Andritany Ardhiyasa (Persija), Stefano Lilipaly (Bali United), dan Alberto Goncalves (Sriwijaya), Garuda Muda sukses lolos dari grup A sebagai juara grup di atas Palestina, Hongkong, Laos dan Taiwan, sayangnya mereka harus kalah secara tragis di babak 16 besar dari Uni Emirat Arab.

Filosofi sepakbola yang Luis Milla bentuk di Asian Games dan di SEA Games setahun sebelumnya seperti memberikan angin segar bagi tim nasional kita untuk ajang selanjutnya, yaitu AFF Suzuki Cup 2018, tapi sayangnya, PSSI memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak pelatih Spanyol tersebut dengan penuh drama, dan Bima Sakti (asisten Milla) ditunjuk menjadi pelatih Garuda di AFF. Hasilnya? Indonesia gagal total di ajang dua tahunan tersebut.

Indonesia harus mengakui bahwa kelas mereka masih jauh di bawah Thailand, Singapura bahkan Filipina.

Evan Dimas dkk langsung takluk di pertandingan pertama melawan Singapura, menang melawan Timor Leste, kalah melawan Thailand di Bangkok, walaupun 20 menit pertama Indonesia bermain luar biasa, tetapi kesalahan-kesalahan individual membuat kita harus mawas diri pada pertandingan yang dilangsungkan di Rajamangala.

Hasil imbang Thailand melawan Filipina membuat peluang Garuda lolos ke babak selanjutnya tertutup rapat. Dan melawan the Azkals di GBK, Riko Simanjuntak dkk tidak bisa berbuat banyak dan berakhir dengan skor kacamata.

AFF Suzuki Cup juga mengeluarkan banyak sekali kontroversial, dari mulai komentar Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi yang menuding bahwa wartawan adalah biang kerok kegagalan timnas di turnamen antar negara Asia Tenggara tersebut dengan berkomentar “Wartawan harus baik. Jadi kalau wartawannya baik, timnasnya baik,”.

Di akhir 2018, PSSI bergerak cepat dengan mengamankan jasa pelatih Bhayangkara FC, Simon McMenemy yang sukses membawa timnya juara Liga 1 dua musim lalu dan berada di urutan ketiga musim ini.

Semoga ini menjadi awal yang baru bagi timnas kita di 2019 dan seterusnya.

Perkembangan Pemain Muda

Suasana berbeda dirasakan di level yunior, dari tim U19 kita yang membuat GBK Full House ketika melawan Jepang di Piala Asia U19, walaupun kalah, tetapi permainan tiki taka Garuda Muda tersebut membuat kita percaya bahwa masa depan Indonesia sangatlah cerah. Sedangkan untuk U16, harus kalah dari Australia 3-2 di stadion Bukit Jalil yang hari itu di terjang hujan deras.

Ya 2018 begitu indah bagi timnas level yunior kita, begitu banyak harapan dan bintang baru terbentuk di tangan Fachry Husaini dan Indra Sjafri. Masa depan itu sangatlah cerah, tetapi tim nasional Indonesia butuh proses panjang, bukan hasil yang instan.

Nama-nama seperti Todd Rivaldo Ferre, Witan, Bagas dan Bagus, Egy Maulana Vikri, menjadi pondasi terbaik bagi tim nasional Indonesia di masa depan, pemain-pemain itu sudah harus terus di pantau perkembangannya.

Beruntung sekarang Liga 1 sudah punya kompetisi yunior, di U16 dimana Persib Bandung menjadi juara dan mengorbitkan pemainnya, Beckham Putra Nugraha.

Selain itu kompetisi U19 juga berjalan di musim ini, dengan Persib Bandung juga yang menjadi juaranya, bisa kita bilang bahwa masa depan tim asal Bandung tersebut sangat cerah dengan melihat pemain muda yang mereka miliki saat ini di level yunior.

Para pemain muda ini harus terus di pantau dan jaga perkembangannya, karena kalau mereka tidak mendapatkan suasana kompetisi yang kompeten, kemampuan mereka tidak akan terasah dan bisa saja tidak tahu apa yang harus mereka lakukan di lapangan, karena suasana latihan biasa dengan suasana bermain di pertandingan resmi sangatlah berbeda 100%.

Liga 1

Seperti biasa, jadwal mulainya Liga 1 sedikit molor. Sebuah hal yang sudah kita maklumi. 23 Maret 2018 menandakan dimulainya liga terbaik di tanah air ini. Sepanjang musim kita disuguhkan penampilan terbaik dari pesepakbola papan atas negara ini.

Perkembangan Liga 1 begitu pesat tahun ini, sampai menerima penghargaan dari AFC sebagai liga paling berkembang di Asia 2018.

Drama dan kontroversial tetap terjadi pada musim ini. Pimpinan klasemen beberapa kali mengalami perubahan.

Kompetisi sempat berhenti di tengah musim karena terjadi insiden memilukan, meninggalnya pendukung Persija yang bertandang ke Bandung ketika mendukung timnya melawan Persib, membuat PT Liga dan PSSI memutuskan untuk menghentikan sejenak dan memberikan beberapa sanksi kepada pihak-pihak terkait.

Di luar dari insiden memilukan tersebut, pertandingan Persib vs Persija bisa kita bilang sebagai pertandingan terbaik dan paling menegangkan sepanjang musim 2018, kejar-kejaran gol dan gol menit akhir, membuat pertandingan ini begitu dramatis dan memorable bagi semua pecinta sepakbola di Indonesia.

Banyak pemain-pemain yang tampil mengejutkan di musim ini, sebut saja Hari Nur dari PSIS, Fahmi Al Ayyubi dari Persela, hingga Riko Simajuntak yang bermain luar biasa bagi Persija dan timnas Indonesia.

Sayangnya, Liga 1 seperti tidak belajar dari pengalaman, banyak pemain kunci dari tim-tim Liga 1 yang harus membela tim nasional, bahkan nama Saddil Ramdani lebih sering bermain di timnas ketimbang klubnya, Persela Lamongan. Sebagai catatan, Persela di awal musim begitu mempesona, tetapi memasuki putaran kedua, penampilan mereka menurun drasti, efek bermain tanpa Saddil?

Memasuki pekan-pekan terakhir pun, beberapa tim juga tidak bisa memainkan pemainnya karena membela timnas di AFF Suzuki Cup. Hansamu, Rizky Pora dan Gavin harus absen membela Barito Putera. Sedangkan Beto Goncalves pun tidak bisa membantu Sriwijaya yang saat itu berada di zona degradasi.

Pertandingan melawan Bhayangkara FC menjadi pertandingan yang mungkin akan di sesali oleh PSM karena mereka berakhir imbang dan membuat pekan terakhir Liga 1 penuh dengan drama dan ketegangan, karena hasil tersebut membuat PSM dan Persija hanya terpaut satu angka saja. Juku Eja wajib menang sambil berharap Macan kemayoran terpeleset ketika melawan Mitra Kukar di GBK.

Sayangnya, walaupun PSM menang besar melawan PSMS, Persija juga membuahkan kemenangan yang sukses membuat mereka menjadi juara, sejak terakhir kali mereka juara 17 tahun lalu.

Persija, PSM dan Bhayangkara (standby) akan mewakili Indonesia di kompetisi Asia musim depan. Sedangkan PSMS, Mitra Kukar dan Sriwijaya FC harus terdegradasi ke Liga 2 musim depan.

Apa yang Baru di 2019?

Ada beberapa hal yang patut kita tunggu tahun depan. Penampilan Persija, PSM dan Bhayangkara FC di Asia (kalau Persija lolos ke Liga Champions Asia, BFC bermain di Piala AFC).

Perkembangan tim nasional level yunior di Asia dan Asia Tenggara, kita masih menunggu siapa pemain masa depan Indonesia yang bisa mengikuti jejak Egy, Todd Ferre dkk.

Simon McMenemy dengan kedisplinannya di tim nasional Indonesia. Juga SEA Games ke 30, di Manila, Filipina. Timnas U23 akan mencoba meraih medali emas sejak terakhir kali Indonesia meraih emas di cabang sepakbola pada tahun 1991 yang juga bermain di Manila.

Rating FOX Sports Asia Bagi Sepakbola Indonesia: C+

Tim nasional Indonesia memberikan harapan di ASIAN Games 2018, tetapi hancur begitu saja di AFF Suzuki Cup 2018. Perkembangan dan juga konsistensi para pemainnya.

Pengaturan jadwal Liga 1 yang masih belum disesuaikan dengan turnamen Asia atau Asia Tenggara juga menjadi sebuah catatan penting di tahun ini. Perkembangan pemain di level yunior sudah melaju dengan pesat, kompetisi liga U16 dan U19 sudah berjalan.

Tidak adanya turnamen besar bagi tim nasional senior di 2019 kecuali kualifikasi Piala Dunia bisa membuat PSSI untuk menentukan strategi jangka panjang bagi timnas dan membenahi permasalahan Liga 1 yang sepertinya selalu berulang setiap tahunnya.

Comments