BEST XI Tim Nasional Indonesia di Piala Asia

Juventus vs Ajax – Tensi Lawan Juventus Lebih Tinggi Dibanding Lawan Madrid

Piala Asia 2019 akan mulai sebentar lagi, penulis kami, Zakky BM, mencoba menyusun nama-nama pemain terbaik Indonesia yang pernah membela Garuda di ajang tertinggi antar negara Asia ini.

GK – Hendro Kartiko

“Tahun 2000 dan 2004, aku mendapatkan man of the match dalam pertandingan Piala Asia. Yaitu saat bermain imbang 0-0 melawan Kuwait dan menang 2-1 melawan Qatar,” kenang Hendro. “Tapi yang pasti lawan Kuwait, yang 0-0 itu, kebetulan aku banyak bikin penyelamatan. Jadi, mungkin sama orang-orang sana dan AFC itu, dikasih julukan seperti itu (Fabian Barthez-nya Indonesia). Aku juga baru tahu setelah event itu.”

Hendro mulai dipercaya menjadi kiper timnas senior Indonesia dalam gelaran Piala Asia 1996. Saat itu ia masih berusia 23 tahun dan statusnya adalah cadangan Kurnia Sandy. Namun karena cedera yang dialami Sandy dalam laga pembuka melawan Kuwait, ia pun menjadi pilihan utama Indonesia hingga akhir turnamen. Setelahnya, Hendro adalah langganan timnas di Piala Asia 1996, 2000 dan 2004 silam.

Sejujurnya, jika menghitung jumlah gol yang bersarang di gawang Hendro sepanjang keikutsertaannya di Piala Asia, jelas cukup banyak. Namun posisi Hendro di starter timnas jelas yang terbaik di Indonesia saat itu. Tak mengherankan ia mampu mengumpulkan 60 caps bersama timnas Indonesia di berbagai macam kejuaraan, menjadi salah satu penjaga gawang Indonesia yang paling sering tampil bersama timnas hingga pensiun di tahun 2011 lalu.

CD – Yeyen Tumena

Cedera parah Yeyen Tumena hadir saat pagelaran akbar se-Asia pada 1996 lalu. Laga Uni Emirat Arab melawan Indonesia menjadi cerita buruk untuk bek andalan coach Danurwindo saat itu. Ia sampai harus absen sekitar satu tahun sampai akhirnya bisa membela PSM Makassar dan membawa juara tim asal Sulawesi Selatan tersebut juara Ligina pada musim 1999-2000.

Setelah itu, jebolan dari program Primavera ini  memutuskan untuk pindah dari PSM. Ia pun kemudian melanjutkan karier sepakbolanya di Persikota Tangerang, Perseden Denpasar, PSMS Medan, hingga Persma Manado. Sayang di klub-klub barunya tersebut Yeyen tak mampu tampil maksimal – ia bahkan sempat banting stir menjadi pemain futsal. Pemain kelahiran Padang, Sumatera Barat, tersebut kemudian pensiun pada tahun 2007 silam.

CD- Charis Yulianto

Bek tengah kelahiran Blitar, Jawa Timur, ini mempunyai karakter keras dan tanpa kompromi. Beberapa pelatih asing yang sempat bekerja untuk timnas seperti Peter Withe dan Ivan Kolev begitu menyukainya. Charis selalu menjadi pemain kunci di lini pertahanan Indonesia terutama saat Piala Asia 2007 silam.

Secara keseluruhan dia bermain sebanyak 46 kali bersama timnas senior dan berhasil dua kali mencatatkan namanya di papan skor. Setelah pensiun, Charis aktif dalam pembinaan usia dini. Akhir tahun 2015 lalu dia menjadi pelatih Football Academy U-13 dan U-15. Kemudian pada 2018 kemarin, ia masuk dalam staf kepelatihan Borneo FC U-19 dan ia siap naik kelas lagi untuk merintis kariernya di dunia kepelatihan ini.

LB – Aji Santoso

Pria yang kini menjadi pelatih klub Liga 1, Persela Lamongan, dulunya adalah bek kiri andal yang kemampuannya di atas rata-rata. Kecepatannya dalam menyisir sisi kiri pertahanan sendiri maupun pertahanan lawan ditopang juga dengan kemampuan mengirimkan umpan-umpan silang yang memanjakan lini serang timnas Indonesia di masanya.

Ia mengaku performa apiknya di timnas tak lepas dari tempaan keras porsi latihan yang diberikan oleh Anatoli Polosin, pelatih timnas era 1987-91 silam . “Tahun-tahun itu kekuatan fisik sangat penting, walau bukan yang utama. Latihannya memang luar biasa berat, bahkan menjelang malam kami semua masih di gunung!”

Aji tercatat mengantongi 41 kali bermain, termasuk pada ajang Piala Asia tahun 2000 silam dan ia mencetak enam gol selama berseragam merah-putih.

RB – Elie Aiboy

Sebagai seorang pemain serba bisa sebagai penyerang sayap, gelandang sayap atau bahkan bek sayap, Elie mempunyai kemampuan dribel di atas rata-rata. Dalam setiap pertandingannya bersama tim Garuda, Aiboy hampir selalu mengisi sisi kanan Indonesia. Ia menghabiskan lebih dari satu dekade bersama timnas Indonesia termasuk di Piala Asia 2004 dan 2007 silam. Dirinya bermain sebanyak 48 kali di segala turnamen dan berhasil mencetak 8 gol.

Kini ia sudah gantung sepatu setelah sempat menetap di Padang dan sempat juga bermain untuk PSP Padang. Ia memulai karier kepelatihannya di salah satu klub yang berlaga di Liga Nusantara musim 2017 ini yaitu SS Lampung FC. Kabar terbaru, tim porda Bekasi dikabarkan merekrut Elie sebagai pelatih mereka beberapa bulan yang lalu.

CM – Bima Sakti

Jebolan Primavera ini memang menjadi salah satu gelandang sekaligus kapten paling ikonik untuk tim nasional era 90 hingga 2000an silam. Ia debut di timnas pada 1995, dan Bima Sakti baru benar-benar pensiun dari timnas pada 2012 lalu. Tapi bukan cuma soal penampilan: ia adalah kapten yang paling dihormati pula di generasinya.

“Dia profesional sejati. Dia disiplin dalam segala hal, baik latihan, istirahat, dan juga makan,” aku Kurniawan Dwi Yulianto. Yeyen Tumena juga berkomentar, “Bima sangat disiplin dalam menjaga tubuhnya. Dia pemimpin yang dihormati.”

Mungkin satu-satunya kekurangan Bima untuk tim nasional adalah gelar. Peluang menyabet gelar bersama tim nasional sempat muncul saat ia berganti peran, dari pemain dan kapten menjadi asisten pelatih dan pelatih kepala timnas. Sayangnya, anak asuh Bima di timnas tak bermain maksimal dan membuat Bima terdepak dari kursi kepelatihan tim senior saat ini.

CM – Ponaryo Astaman

Seorang petarung dan pengumpan jitu di lini tengah Indonesia. Kemampuannya dalam mengatur lini tengah PSM Makassar dalam gelaran Liga Indonesia 2004 membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik. Sejak itu, Ponaryo selalu menjadi kapten timnas dari gelaran AFF 2004 hingga gelaran akbar Piala Asia 2007. Duet Ponaryo dan Firman Utina memang cukup handal di lini tengah Indonesia.

Saat laga melawan Bahrain, Ponaryo sendiri harus rela ditarik keluar di pertengahan babak pertama karena cedera dan yang menggantikannya adalah Syamsul Bahri. Saat itu, skor sudah berubah 1-1 sedangkan tekanan untuk timnas masih terus bertangan karena Bahrain menyerang  dan enggan kehilangan angka.

Kini, pria yang menjabat sebagai Presiden APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia) tersebut  memang sudah pensiun sejak 2017 lalu. Ia juga telah memulai karier kepelatihannya sejak 2018 lalu sebagai staff pelatih dari Borneo FC U-19.

CM – Firman Utina

Ia adalah dirijen tim nasional Indonesia. Tampil 67 kali bersama tim nasional termasuk pada gelaran akbar Piala Asia 2007 lalu, Firman Utina bermain sangat ciamik. Saat menaklukkan Bahrain, ia adalah penyebab dua gol Indonesia ke gawang Bahrain yang dijaga Abdulrahman Abdulkarim.

Gol pertama Budi Sudarsono adalah hasil kecerdikannya. Firman menempatkan bola daerah tepat dibelakang garis pertahanan Bahrain. Budi Sudarsono alias si Piton dengan cerdiknya memanfaatkan umpan manis Firman dengan sontekan yang berujung gol pembuka saat itu. Kemudian pada gol kedua, Firman lagi-lagi menjadi pembuka jalan saat tendangan kerasnya membentur tiang, bola rebound tersebut berhasil dimanfaatkan Bambang Pamungkas untuk menjadi gol kedua Indonesia.

Firman sendiri kini baru saja mengantarkan tim Kalteng Putera promosi ke Liga 1 setelah bermain di Liga 2 musim 2018 silam. Meski begitu, belum jelas apakah pria 37 tahun ini akan terus bermain di level pro atau gantung sepatu di tahun 2019 ini.

CF – Widodo CP

“Gol itu campuran antara insting dan latihan yang dilakukan secara terus menerus. Saya membelakangi gawang dan hanya bisa spekulasi untuk membuat gol itu. Tentu bangga rasanya setelah gol itu jadi perbincangan dunia. Salah satu momentum terbaik saya, seperti juga ketika jadi juara bersama klub dan timnas,“ demikian ujar Widodo Cahyono Putro, sang pencetak gol ajaib tersebut.

Nama WCP, mendadak jadi bahan pembicaraan karena mampu menyabet gelar Goal of the Year yang diciptakannya ke gawang Kuwait di ajang Piala Asia 1996. Gol yang membawa sejarah, karena sukses membantu timnas Garuda meraih poin perdana dalam keikutsertaannya di ajang tertinggi sepakbola Asia.

Sukses memang selalu menyertai pria kelahiran Cilacap ini. Medali emas SEA Games 1991 sebagai pemain yang merupakan prestasi tertinggi terakhir sepakbola Indonesia dan juga medali perunggu SEA Games 1999. Kini ia bergelut di dunia kepelatihan dan cukup bagus rekornya bersama Bali United. Meski begitu, ia kini belum menentukan kemana akan berlabuh setelah mundur dari klub asal pulau Dewata tersebut.

LF – Kurniawan Dwi Yulianto

Selama sekitar 19 tahun (1995-2014) menjadi pemain sepakbola, Kurniawan berhasil mencetak 205 gol ke gawang lawan – 21 gol untuk tim luar negeri yang dibelanya (FC Luzern dan Sarawak FA), 33 gol untuk tim nasional, dan sisanya ia persembahkan untuk tim-tim asal Indonesia.

Dan menariknya, semua itu ternyata dimulai dari sebuah mimpi Kurniawan yang pernah mengatakan, “Dulu mimpi saya (menjadi pesepakbola) cuma satu: masuk televisi, naik pesawat terbang gratis, ke luar negeri gratis.”

Ia tercatat 59 kali memperkuat tim nasional dan mencetak 33 gol saat itu. Sayangnya dari 33 gol tersebut tak ada satupun yang dibuat oleh ‘si kurus’ ini di pagelaran Piala Asia 2000 silam dan ia lebih sering mencetak gol saat di Piala AFF  yang dulu lebih dikenal dengan Piala Tiger saat itu.

RF – Bambang Pamungkas

Jika ‘si Gareng’ alias Soetjipto Soentoro adalah pencetak gol terbanyak timnas Indonesia dengan torehan 57 gol dari 68 pertandingan di kancah internasional (termasuk laga-laga tak resmi FIFA), nah ini dia pemain terbanyak tampil untuk timnas Indonesia. Ia adalah Bambang Pamungkas alias Bepe, yang mengenyam 85 kali penampilan dan mampu mengemas 42 gol baik di laga resmi maupun tak resmi bersama skuat Garuda.

Sebagai penyerang muda dan berbakat di masanya, ia mengikuti tiga dari empat kali partisipasi Indonesia di kancah Piala Asia. Mulai dari Piala Asia 2000, 2004 dan 2007 BP selalu masuk pilihan pelatih timnas saat itu. Puncaknya di Piala Asia adalah saat ia cetak gol kemenangan atas Bahrain di Gelora Bung Karno saat itu. Sampai saat ini, BP20 adalah idola sebagian besar masyarakat Indonesia dan juga legenda bagi klub ibukota, Persija Jakarta yang baru saja menjadi juara kompetisi Liga 1 musim 2018 lalu.

Comments