FITUR: Menyoal Identitas dalam Sepakbola dan Seksisme di Liga 1 Putri Indonesia

Mestinya menyongsong era baru sepakbola Indonesia dengan gempita karena bergulirnya kompetisi resmi untuk sepakbola perempuan, Liga 1 Putri. Justru realita yang terjadi adalah banyak bermunculan tindakan yang tidak patut, terutama terkait seksisme.

Kejadiannya terjadi secara beruntun dalam dua waktu berdekatan. Suporter Arema FC membuat spanduk bertuliskan “Purel Dolly” ketika tim putri mereka berhadapan dengan Persebaya Surabaya. Beberapa hari berselang, muncul meme dengan tulisan “Maung Lonte” yang dibuat oknum penggemar Persija Jakarta untuk tim rival mereka, Persib Bandung jelang laga tim putri kedua tim.

Kedua kejadian ini memang tidak mengenakan. Bagaimana mestinya momen bergulirnya Liga 1 Putri ini diantisipasi dengan cara yang baik, juga dengan semangat yang baik. Karena ini merupakan lembaran baru dalam sejarah sepakbola Indonesia secara keseluruhan. Karena akhirnya setelah sekian lama, sepakbola perempuan mendapatkan perhatian terkait perkembangannya. Setelah sekian lama, akhirnya (kembali) bergulir kompetisi resmi untuk sepakbola perempuan.

Pada tahapan yang lebih kompleks, fenomena yang terjadi dan melingkup gelaran Liga 1 Putri ini menunjukan bahwa seksisme masih begitu erat di melekat di negara kita, Indonesia. Dalam skala yang lebih kecil adalah di lingkup sepakbola.

Tentang Hal-Hal yang Tidak Disadari

Ada adagium yang cukup populer di Inggris: ‘Rugby is a thug’s game played by gentlemen and football is a gentleman’s game played by thugs.’ Salah satu hal yang menunjukan bahwa sepakbola memiliki nilai maskulinitas yang begitu kental. Sudah sejak lama bagaimana sepakbola selalu dianggap sebagai “olahraganya laki-laki.”

Situasi tersebut kemudian setidaknya membuka tempat untuk seksisme terjadi. Dalam tahapan yang lebih jauh lagi yaitu misogini atau diskriminasi seksual kepada perempuan. Kejadian ini juga terjadi bukan saja di sepakbola secara global, tetapi juga di sepakbola Indonesia.

Sebelum dua kejadian yang tidak mengenakan di Liga 1 Putri, sebenarnya perilaku seksisme sudah terjadi. Beberapa diantaranya mungkin tidak disadari. Misal soal suporter, keberadaan perempuan di tribun sering dianggap sekadar pemanis. Bahkan komentator laga siaran langsung  pun tidak segan untuk menyerukan hal tersebut. Belum lagi dengan cara bagaimana kamera menyorot para perempuan di tribun.

Klik halaman selanjutnya…

Comments