Kaki-kaki Cepat Irfan Jaya, Jagoan Dari Bantaeng

Kemudian datang undangan untuk pemusatan latihan tim nasional jelang Asian Games 2018. Saya ingat pemanggilan tersebut terjadi beberapa hari sebelum laga Indonesia berhadapan dengan Islandia.

Saya menyaksikan laga tersebut di televisi bersama istri saya, saya bilang,

“Nanti ini saya latihan sama pemain-pemain ini, sama Lilipaly, Evan Dimas, Febri Hariyadi. Dilatih oleh mantan pemain Real Madrid juga ini. Aduh bagaimana ini? Saya tidak usah datang saja apa? Saya akan bilang saya cedera. Bagaimana kalau nanti saya justru malu-maluin?”

“Sudah datang saja dulu, siapa tahu memang rezekinya,” jawab istri saya. Lagi-lagi Ia bisa meyakinkan saya untuk melaju lebih jauh. Sama seperti yang ia lakukan ketika saya mesti melakuka keputusan besar untuk hijrah ke Persebaya.

Ternyata di latihan perdana di luar perkiraan saya. Para pemain menyambut saya. Padahal kebanyakan dari mereka merupakan pemain berpengalaman dan bermain kompetisi tertinggi. Sementara saya hanyalah pemain dari klub kompetisi level kedua yang baru saja promosi. Ilham Udin dan Evan Dimas yang pertama kali mendatangi Saya. Mereka menanyakan bagaimana Saya di Persebaya.

Saya berlatih, dan terus mendapatkan panggilan. Saat timnas melakukan pelatihan di Bali, Saya dengar-dengar dari para asisten, bahwa Luis Milla menyukai gaya bermain Saya. Jelas terkejut, bagaimana mungkin pelatih yang pernah membawa Spanyol usia muda menjadi kampiun Eropa bisa menyukai pemain kampung seperti saya?. Tapi ketika nama saya muncul di daftar pemain yang diikut sertakan untuk berlaga di Asian Games 2018, boleh jadi itu memang sesuatu yang benar adanya.

Pertandingan perdana Indonesia di Asian Games berhadapan dengan Taipei. Berjalan memasuki Lorong menuju lapangan. Saya masih tidak percaya bahwa saya, pemuda dari Bantaeng, bisa satu lapangan dengan para pemain seperti Stefano Lilipaly, Hansamu Yama, Evan Dimas, Febri Hariyadi, Beto Goncalves, dan Andritany. Para pemain yang beberapa tahun sebelumnya saya hanya bisa saksikan di televisi. Saya masih berusaha meyakinkan diri bahwa saya bermain untuk timnas, membela merah putih di pentas internasional.

Sama seperti kebanyakan pemain lainnya, ketika Indonesia Raya berkumandang, dan para penonton ikut menyanyikan. Itu merupakan sesuatu yang luar biasa dan membuat jantung saya berdegup kencang.

Comments