Nadiem Amiri kenang kisah keluarganya sebagai pengungsi perang

Bintang muda Hoffenheim Nadiem Amiri mengenang kembali kisah keluarganya yang terpaksa meninggalkan Afghanistan untuk memulai hidup baru di Jerman.

Kedua orang tua Amiri meninggalkan Afghanistan pada 1980an karena situasi yang tidak kondusif di negara tersebut, dan baru pada 1996, Amiri terlahir ke dunia, tepatnya di kota Ludwigshafen.

Kini, nama Amiri mulai dikenal sebagai salah satu pesepakbola berbakat dan ia merupakan andalan di lini tengah Hoffenheim. Selain itu, pemuda berusia 21 tahun itu juga menjadi salah satu pilar tim nasional Jerman dari level U-18 hingga U-21.

Meski begitu, semua itu takkan tercapai andai orang tua Amiri tidak mengungsi ke Jerman yang waktu itu dianggap relatif aman dari perang. Dan sang pemain merasa bersyukur karena punya orang tua yang rela berkorban serta bekerja keras.

Kepada laman resmi Bundesliga, ia mengatakan: “Itu tentu sangat sulit karena terpaksa meninggalkan keluarga Anda di usia yang masih muda dan pergi ke negara asing di mana Anda tidak bisa bahasanya.

“Namun orang tua saya bertekad untuk terus melanjutkan hidup. Untuk melakukan itu Anda perlu tekad, Anda butuh kemantapan hati, Anda harus siap bekerja dan belajar bahasanya. Anda tidak bisa hanya sekadar duduk menunggu solusi muncul entah dari mana.”

Di Hoffenheim, Amiri dianggap pemain berkualitas. Dan penilaian itu disampaikan oleh pelatih Julian Nagelsmann pada Juni kemarin. “Nadiem adalah pemain yang spesial, karena dia berasal dari akademi TSG dan terbilang matang untuk usianya.

“Dia masih bisa lebih baik, dan ini bagus bahwa dia akan terus meningkatkan kemampuannya di sini di masa dpean.”

Bersama klubnya yang sekarang, pemain yang berposisi sebagai gelandang serang itu terikat kontrak hingga Juni 2020.

Comments