Akankah Pemain Favorit Fans, Egy Maulana Vikri Akan Menjadi Rahasia Kesuksesan Indonesia di AFF Suzuki Cup Tahun Ini?

Oleh: Akshat Mehrish

Ekspor pemain Asia Tenggara di dunia sepak bola tercatat amat jauh dan sedikit. Sebagian besar, pemain dengan latar belakang ASEAN terpaksa untuk tinggal dan tidak hijrah ke luar negeri. Namun, ada beberapa di antaranya, yang memecahkan tradisinya untuk pergi ke Eropa. Yang terbaru untuk melakukannya adalah Egy Maulana Vikri dari Indonesia.

Mencari pemain ‘ekspor’ di sepakbola Eropa seperti menemukan jarum di tumpukan jerami. Negara dan kawasan ini tidak pernah memiliki hubungan positif dengan pusat sepakbola dunia tersebut. Meskipun ada orang Indonesia tertentu, yang mungkin Anda bisa temukan di belakang layar seperti Erick Thohir, namun di lapangan hampir tidak ada.

Salah satu anak muda yang menentang tren ini adalah Egy Maulana Vikri yang baru berusia 18 tahun.

Dari Medan ke Polandia

Egy Maulana Vikri lahir di Medan, Indonesia, dari keluarga yang kental dengan sepakbola. Ayahnya, sebagai pemain sepakbola, dan ia ingin mengikuti jejaknya. Dan dia melakukannya.

Ia bergabung dengan SSB Tasbi, untuk mengasah keterampilannya dan berkembang menjadi pemain serba bisa. Saat masih di SSB, bakatnya ditemukan oleh salah satu pemandu bakat yang membawanya ke ibukota Jakarta, dan akhirnya, ke Eropa.

Selama masa awal sekolahnya, Egy mampu membangkitkan banyak minat klub luar negeri padanya. Melihat bakatnya, beberapa pihak Eropa menaruh tawaran mereka. Beberapa di antara para pelamarnya adalah klub Ajax, Benfica, Sporting Lisbon, Espanyol, dan Saint Etienne; semua klub tersebut cukup terkenal dan diakui sebagai klub yang pandai memoles permata potensial.

Namun, Egy tidak menerima tawaran apa pun dari tim ‘liga besar’ tersebut. Sebaliknya, ia memutuskan untuk bergabung dengan klub Polandia, Lechia Gdansk, dengan alasan bahwa ia akan bergabung tanpa melewati proses trial. Itu memang keputusan yang sulit, tetapi cukup matang untuk diperhitungkan. Sebagai permulaan, bocah berbakat itu mendapatkan rute langsung untuk berkarier ke Eropa. Selain itu, ia berada di klub yang bisa fokus pada perkembangan individual, sesuatu yang akan hilang jika ia bergabung dengan klub seperti Ajax dan klub besar lainnya.

Berkilauan di Gdansk

Bagi anak-anak muda dari Asia, apalagi Asia Tenggara, bermigrasi ke Eropa adalah tugas yang maha sulit. Sebagai permulaan, mereka meninggalkan keluarga mereka untuk pergi ke sebuah negara yang penuh dengan orang asing. Selain itu, mereka biasanya tidak terbiasa dengan bahasa dan budaya mereka, membuat beberapa bulan pertama lebih sulit.

Bahkan, untuk anak muda yang pindah ke Eropa untuk fokus pada sepakbola, tidak ada bagian yang mudah. Hanya ada tantangan demi tantangan yang akan datang kepadanya.

Dalam kasus Egy, anak muda itu telah melewati rintangan pertamanya, yaitu mampu mencapai langkah pertamnya di sepakbola Eropa. Sekarang datang rintangan yang kedua: memastikan dia membuat Lechia Gdanks menyadari bahwa dia layak untuk tinggal dan bermain di Eropa. Untungnya, dia telah melakukan hal itu.

Bergabung dengan Lechia Gdansk pada awal tahun ini, Egy awalnya bermain untuk tim cadangan (reserve) mereka. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa kontrak profesionalnya hanya akan dimainkan pada ulang tahunnya yang kedelapan belas. Namun, ia telah telah tampil luar biasa untuk tim reserve Gdanks, mencetak tujuh gol dalam enam pertandingan; ini membuat dirinay semakin diakui sebagai ’60 anak muda/wonderkid paling berbakat’ versi laman The Guardian pada 2017. Sejak itu, dia telah bergabung dengan klub Polandia secara resmi dan bahkan telah diberi nomor punggung 10.

Beberapa tahun terakhir ini memang cukup luar biasa bagi pemuda asal Medan tersebut. Dia adalah bagian dari tim nasional U-19 Indonesia yang menempati posisi ketiga di Kejuaraan AFF U-19 2017. Namun, Egy secara pribadi bermain cukup bagus, karena ia mampu menjadi top skor dan pemain terbaik di ajang tersebut. Pemain muda itu mencetak delapan gol dalam enam pertandingan dalam perjalanannya di AFF U-19 2017 silam..

Meski begitu, ia sebelumnya benar-benar bersinar di panggung terbesar yaitu turnamen Toulon, Prancis, pada tahun yang sama. Meskipun Indonesia U-19 pulang tanpa kemenangan, Egy menyabet penghargaan gelar individu yang sangat prestisius, yaitu “Breakthrough Player Award” dari Turnamen Toulon 2017.

Wildcard Milik Timnas Indonesia?

Untuk Tim Garuda, Piala AFF telah menjadi hal yang ‘selalu hampir’ di setiap edisinya. Mereka saat ini memegang rekor, yang mana setiap tim di dunia tidak ingin dikaitkan dengannya. Sederhananya, mereka adalah tim paling banyak memegang rekor runner-up turnamen tanpa pernah merasakan juara.

Indonesia takluk oleh Thailand di edisi sebelumnya (2016) pad akejuaraan tersebut dalam pertarungan dua leg. Skuat merah putih sempat unggul di leg pertama dengan dua gol berbalas satu dari Thailand. Namun, ketika Siroch Chattong Thailand muncul dengan dua gol di leg kedua, hati orang Indonesia kembali hancur kala itu.

Kali ini, semuanya mungkin berbeda untuk Indonesia. Mereka, bagaimanapun, memiliki pemain sekaliber Eropa di jajaran mereka. Egy Maulana Vikri sendiri pernah bergabung dengan tim senior juga, dan tampil tiga kali untuk mereka. Meski begitu, ia belum mencetak gol internasional bagi skuat Garuda senior.

Namun demikian, Piala AFF tahun 2018 ini adalah kesempatan lain bagi Indonesia untuk menyaksikan salah satu produk mereka yang paling berbakat ini beraksi di lapangan. Egy adalah seseorang  yang dapat memunculkan potensi untuk mendorong mereka menuju gelar perdana AFF tahun ini.

Comments