FITUR – Dongeng Tentang Profesor dan Pesepakbola: Himendra Wargahadibrata

FOXSPORTS.CO.ID – Banyak pemain besar yang berkostum tim nasional Indonesia. Tetapi mungkin tidak ada yang memiliki pencapaian hebat seperti Himendra Wargahadibrata.

Generasi saat ini lebih mengenal nama Himendra Wargahadibrata sebagai mantan rektor dan guru besar fakultas kedokteran di sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Barat. Tidak banyak yang mengetahui bahwa beliau juga membuat sebuah pencapaian lain, yaitu di dunia sepakbola.

Mengutip dari tulisan Eko Maung dengan judul Persib & The Professor, Himendra Wargahadibrata membuat pencapaian yang luar biasa hebat dalam tiga bidang sekaligus. Kedokteran, di mana beliau merupakan spesialis anastesi. Lalu bidang pendidikan, seperti yang sudah disebutkan bahwa beliau sempat menjabat sebagai rektor perguruan tinggi negeri, dan satu lagi di dunia sepakbola.

Himendra, atau lebih sering dipanggil Kang Hendra oleh orang-orang terdekatnya, ini memulai karier sepakbola dari klub amatir, UNI Bandung. Ia bermain untuk tim Persib Bandung pada periode 60-an. Banyak catatan yang menyebut bahwa beliau mulai bergabung pada tahun 1962. Dengan kata lain, setahun setelah Persib meraih gelar juara kompetisi Perserikatan pada 1961.

Selain di level klub, Himendra juga mendapatkan panggilan untuk berseragam tim nasional Indonesia. Kemampuan hebat Himendra memikat pelatih Antun “Tony” Pogacnick yang pada tahun-tahun tersebut tengah mempersiapkan timnas untuk bertanding di tiga turnamen besar, Asian Games 1962, Merdeka Games, dan Ganefo 1964.

Soal kehebatan-kehebatan Himendra adalah kisah-kisah yang melegenda. Sebuah pencapaian besar yang bisa dilakukan oleh seseorang. Jadi pemain untuk klub besar dan bermain di tim nasional saja sudah merupakan sebuah tinta emas sejarah dalam kehidupan seseorang. Himendra Wargahadibrata menambahnya lagi dengan dua pencapaian hebat lain, Profesor spesialis anastesi dan juga rektor universitas.

Tentang Sebuah Warisan Besar

Cerita tentang Himendra tersebut tentu merupakan sebuah cerita yang mesti diteruskan dari generasi saat ini kepada generasi selanjutnya. Bagaimana seseorang bisa mengemban banyak peran, dan mencapai banyak hal sekaligus.

Dari berbagai sisi, saya pribadi tidak pernah menyaksikan secara langsung sepak terjang Himendra. Baik di lapangan, maupun ketika beliau menjabat sebagai rektor universitas. Karena ketika beliau bermain, bahkan orang tua saya masih belum lahir. Ketika beliau menjabat sebagai rektor universitas yang kemudian saya masuki pun, saya masih SMP.

Perjalanan hidup beliau memang banyak menghadirkan cerita menarik. Bagaimana beliau sempat diminta untuk memutuskan dua hal : sepakbola atau melanjutkan kuliah kedokterannya. Hal ini sempat membuatnya frustasi dan stress sebelum memberanikan diri menghadap pelatih kepala saat itu, Toni Pogacnik pada bulan Juli 1963. Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk melanjutkan kuliah di bidang kedokteran, di mana rasanya semua orang di negeri ini mengetahui sulitnya bukan main kuliah di jurusan tersebut.

Di dunia sepakbola namanya melegenda. Beliau disebut-sebut sebagai salah satu playmaker hebat yang bermain untuk tim Maung Bandung. Bahkan sejarawan Nina Lubis pun membuat biografi beliau dengan judul: Sang Playmaker.

Meskipun secara taktis, masih banyak pembahasan terkait hal ini. Karena dalam skema klasik WM, 2-3-5, Himendra memang sering berada di area serangan bersama Omo Suratmo, Rukman, Ade Dana, Wowo, dan Jajang Haris. Tetapi tidak banyak informasi yang benar-benar akurat terkait posisi di mana beliau benar-benar bermain.

Karena pada masa tersebut memang posisi di poros permainan bisa memainkan tiga peran sekaligus dalam pengetahuan sepak bola yang lebih kekinian. Yaitu, libero, gelandang bertahan, dan playmaker. Bagaimana Himendra menjadi generator permainan Maung Bandung pada masa tersebut.

Sebagian besar tetua yang saya minta pendapatnya terkait cara bermain Himendra, semua hampir sepakat bahwa padanan yang sesuai adalah Franz Beckenbauer, atau Duncan Edwards, atau kawan saya sempat menyebut bahwa padanan yang tepat terkait posisi dan cara bermain Himendra adalah serupa dengan gelandang cerdas dari komik Captain Tsubasa, Misugi Jun.

Begitu pula dengan aspek-aspek lain di luar sepakbola. Semuanya merupakan cerita baik. Bagaimana Himendra merupakan sosok yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Terbukti dengan pencapaian beliau sebagai guru besar.

Selanjutnya terkait peran Himendra sebagai rektor universitas. beliau dianggap sosok yang sangat bersahaja. Beliau juga mendorong generasi-generasi yang lebih muda untuk terus melanjutkan pendidikan mereka. Bagaimana banyak kebijakan-kebijakan besar yang membawa universitas tersebut mencapai tahapan yang lebih baik.

***

Himendra Wargahadibrata berpulang pada 13 Febuari 2020 malam. Kepergian beliau bukan saja dikenang para pecinta sepakbola. Tetapi juga kepergian yang berat untuk dilepaskan oleh para akademisi dan juga pegiat medis. Semua karena Himendra membuat kisah luar biasa di tiga bidang tersebut. Sebuah warisan besar.

Warisan-warisan besar Himendra adalah sesuatu yang mesti diceritakan dari generasi saat ini kepada generasi selanjutnya. Bagaimana beliau membuat pencapaian-pencapaian bukan sekadar hebat tetapi juga luar biasa di tiga bidang, sepakbola, kedokteran, dan akademis. Lebih jauh lagi, perjalanan hidup beliau menunjukkan soal manfaat sebagai manusia bagi manusia lainnya.

Istirahat dengan tenang, Prof. Himendra Wargahadibrata.

(Kredit foto utama: Kangope)

Comments